• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

Anatomi tangis lima tahun dan kausalnya

pantai“Mengapa masih ada orang menangis?”
”Tak tahulah”
“Kau pernah juga menangiskan?”
“Tidak lagi belakangan ini.”
“Benarkah? Aku tak bisa percaya,”
“Benar, sungguh”
“Yah…”
“Mengapa kau terdengar sangat ingin aku mengatakan bahwa aku masih saja menangis sampai saat ini?”
“Bukankah begitu tahun lalu, tahun-tahun yang lalu.”
“Tidak lagi. Tidak lagi.”
“Kau yakin kau lebih baik dengannya, membiarkan perasaanmu tertutup paksa begitu? Berbohong tidak ada apa-apa yang berkecamuk dengan gila dalam dadamu?”
“Aku tidak bilang aku menahan setiap kehendak menangisku dalam hati. Aku tidak menangis karena memang tidak menangis”
“Bukan. Jika memang benar kau tidak menangis lagi”
“Bukan? Apanya yang bukan? Kau bukan aku, kau tidak bisa menilaiku begitu saja.”
“Benar, aku memang bukan kamu, tapi aku membacamu. Dan itu memberitahuku banyak hal jika memang kau tidak menangis lagi.”
“Terserahlah. Perduli apa?”
“Itulah jawabannya. Barusan yang kau katakan.”
“Apanya?”
“Kau bukannya tidak menangis, kau cuma tidak perduli, tidak lagi perduli”
“Begitukah? Kau masih sok tahu. Tidak berubah.”
“Tiga tahun bersama di SMA, empat tahun bersama waktu kuliah, mengajariku begitu banyak hel tentangmu. Kau tidak bisa menolaknya. Seperti kata orang, kau layaknya buku terbuka bagiku.”
“Ee…entahlah. Kau…”
“…benar, aku benarkan? Tak perlu kau jawab.”
Diam. Tenang. Melempar pandang keluasnya lautan di seberang, seperti berdoa agar ia sudi untuk menyembuhkan tiap yang jadi luka. Luka.
“Orang seperti kau, mana bisa berhenti menangisi kehilangan sebesar itu. Akui sajalah itu adalah kehilangan yang besar bagimu. Kau tidak akan berhenti meratapinya kecuali satu hal telah dapat kau lakukan, memutuskan untuk tak lagi memperdulikan.”
“Kau…kau menyebalkan.”
“Aku? Ha ha ha, kalau begitu aku betul. Mengapa kau selalu sebal pada siapapun yang dapat membacamu dengan tepat, tidakkah kau ingin berterimakasih pada mereka?”
“Aku tidak ingin ditelanjangi. Tidak siapapun. Dan, dengan cara itu, ketelanjangan yang kudapat serasa begitu dalam dan membongkar hampir semuanya.”
“Hfff…jadi, jadi mengapa kau tak lagi perduli?”
“Bodoh, memangnya apa yang masih bisa dan tersisa untuk dipertahankan? Untuk diharapkan? Kau mengharapkan aku mati bersamanya?”
“Tidak, tentu saja tidak. Kita sama-sama tahu bahwa memang tak ada lagi yang perlu untuk dipertaruhkan atau diperjuangkan lebih jauh lagi. Aku hanya ingin tahu apa tepatnya ang mengubahmu.”
“Yah…sebenarnya, ibuku, ibuku almarhum yang melakukannya.”
“Ibumu? Bagaimana beliau…aku tahu kalian sama sekali tidak akur. Sudah lama sekali berlangsung…”
“Itulah memang jawabannya. Dua bulan sebelum be…beliau meninggal, wanita itu mendatangiku. Ke rumahku. Dan aku membiarkannya berdiri di depan pintu. Dua jam dia menunggu, tapi aku tak perduli. Waktu itu, aku merasa inilah kemenanganku. Kemenangan keangkuhan seorang anak atas kelemahan seorang ibu.”
“Kau melakukan itu? Oh…kau masih saja keterlaluan. Suamimu kemana?”
“Dia sedang bekerja.”
Ada jenak lagi. Detik yang sama lembutnya mengalir di tiap debur ombak. Ada jerit, tapi entah suara apa, dari jauh. Menggaung begitu saja, hilang dalam kerumunan yang tersebar di sepanjang pantai.
“Kenapa ibumu datang ke rumahmu?”
“Untuk dua hal yang tak lagi kubutuhkan.”
“Ya?”
“Wanita itu datang untuk memberikan restunya pada pernikahanku, sesuatu yang mestinya dia berikan lima tahun lalu tapi langsung tidak kuharapkan lagi semenjak malam pertama pernikahanku.”
“Oh…”
“Dan kedua, dia datang untuk…untuk…”
“Meminta maaf…”
“Yah…meminta maaf, sesuatu yang tak lagi kuinginkan darinya semenjak sepuluh tahun yang lalu. Dan kau tahu, aku sama sekali tidak menjawab ketokan pintunya.”
“Lantas, bagaimana kau bisa tahu semua itu?”
“Dia berbicara di depan pintu. Berbicara seorang diri layaknya orang yang tak lagi waras. Dia berbicara terus. Dua jam. Karena dia tahu aku ada di dalam, tapi terlalu muak untuk menemuinya.”
“Oh…kau tega sekali.”
“Kau tidak adil jika tidak mengatai wanita itu dengan kata yang sama.”
“Dia ibumu, bagaimanapun juga wanita itu telah melahirkanmu.”
“Melahirkan untuk kemudian ditelantarkan? Begitu? Tidak, tidak akan term-aafkan.”
“Kau sangat membencinya.”
“Kau sudah tahu itu dari dulu. Aku pikir, dia datang padaku karena telah bangkrut. Setelah meninggalkan aku dan ayahku, hidup dengan bajingan yang ditemuinya di sebuah restoran, dia ingin kembali dengan segala kekalahannya.”
“Kau tidak pernah memaafkannya.”
“Tidak pernah. Kau pernah dengar jika orang yang akan mati telah merasa akan kematiaanya empat puluh hari sebelum saat ajalnya itba?”
“Mmm…”
“Sepertinya ibuku itu datang karena dorongan firasat kematian itu. Atau entahlah. Yang pasti dia telah mati kini, setelah membuat ayah mati terlebih dahulu. Menyiksa batinnya hingga hancur tak berperi.”
“Ya. Jadi, bagaimana justru peristiwa itu mengubah cara hidupmu? Sungguh bukan dirimu yang biasanya.”
“Memang, tapi beberapa hari setelah kematian be…hfff…beliau, aku mulai berpikir, bahwa terkadang di dunia ini ada hal-hal yang tidak akan bisa didapat meski sampai ajal menjemput, sampai batas hidup habis, sampai pada waktu di mana tak mungkin lagi untuk mengusahakan apapun. Aku menyadarinya. Dan aku harus menerimanya, menyerahkan segala kekerasanku untuk berharap pada kekosongan, pada kekalahan atau apa sajalah kau mengistilahkannya. Dengan menyadarinya, aku tak lagi mengangis. Dan jikapun aku menangis, mungkin karena menangisi ironi hidupku. Kehilangan semua, mendapatkan semua, walau bukan yang ingin aku dapat.”
“Begitukah? Tuhan, kau butuh lima tahun hanya untuk kesadaran yang sederhana itu? Kau memang keras kepala.”
“Kau tahu, sebenarnya akan membutuhkan waktu lebih lama lagi, tapi aku memutuskan untuk tidak. Aku curiga kau menikmati tiap momen dimana aku terkulai lemas menitikkan air mata.”
“Tidak, sungguh tidak demikian. Kau tahu, sedari dulu, maksudku semenjak pernikahanmu itu, aku telah menyimpan satu pertanyaan buatmu. Merencanakannya untuk menanyakan padamu saat waktunya tiba, walau tidak begitu yakin denga ‘waktunya tiba’ itu.”
“Memangnya apa pertanyaanmu itu? Kalau memang menurutmu sekarang adalah waktu yangkau harapakan untuk datang itu.”
“Ya, memang sekaranglah waktu itu. Tentu kau masih ingat, tiap habis menangis, kau pasti menghubungiku, tak peduli kapanpun itu, di manapun itu.”
“Kau bercanda, tentu saja aku masih mengingatnya. Ritual selama lima tahun yang tak mungkin bisa dilupa seumur hidup kecuali entah bagaimana aku menjadi amnesia. Ha ha ha…”
“Pertanyaan itu adalah, bagaimanakah kau mejelaskan semua ini pada suamimu? Bagaimana dia menerima semua kegilaanmu itu? Bagaimana dia bisa sesabar itu? Kau tahu, tiap kali memikirkannya, tiap kali itu pula aku bersyukur karena kau mendapatkan suami seperti dia.”
“Aku…aku tidak menjelaskannya padanya. Aku tidak menjelaskan apapun. Dia hanya melihat saja jika kebetulan memergokiku sedang menangis tolol. Lalu meninggalkanku. Sepertinya, dia menganggap menangis adalah urusan pribadi yang tak boleh dicampuri. Oleh siapapun, suami sekalipun.”
“Begitukah? Jadi dia sama sekali tak tahu penyebab setiap tangisanmu itu.”
“Tidak juga, sekali waktu dia menyinggungnya di meja makan, di ruang tamu, atau di kamar saat malam berdua, dia mengira semua itu karena kesedihanku. Maksudku, karena kehidupanku yang dramatis. Ibuku yang tidak merestui dan terlebih dahulu mengkhianati, ayah yang telah tiada, sanak keluarga yang jauh. Selalu, dia mengira setiap tangisku karena hal-hal tragis itu. Tapi kau benar, dia memang penyabar, dia bertahan menemaniku selama itu. Kasihan lelaki itu.”
“Hey, kau tak seharusnya mengatakan begitu pada orang yang sangat mencintaimu.”
“Kau melarangku kenapa?”
“Kau…kau sama saja dengan mengkhianati tiap ketulusannya, tidak tersentuhkah kau dengan pengorbanannya selama ini?”
“Kau menasehatiku begitu? Kau sendiri, apa yang telah kau lakukan sehingga berani memberi nasehat seperti itu? Apa?”
Tak ada kata-kata, seperti biasa. Dan seperti biasa pula, aku mulai menggaruk-garuk pasir, membuat bola, melemparnya sekuat tenaga ke laut. Bisakah pertanyaan itu dibuang jauh layaknya bola pasir itu? Bisakah?
“Kau sendiri jauh tidak punya hati, mau menasehatiku.”
“Bukan begitu. Tidak bisakah ini dihentikan? Hampir kita telah membahasnya lima ribu kali.”
“Aku ingin kau menyadarinya hari ini. Kau tahu betapa aku mencintaimu, betapa aku mati-matian memperjuangkanmu, betapa aku rela mengorbankan apapun yang tak mungkin orang lain, bahkan orang tuamu, berani korbankan, yang tak pernah lelah untuk mengharapkanmu, tapi…apa yang kau lakukan padaku? Kau mencintai orang lain, membunuhku dengan kata ‘kau adalah sahabat bagiku,’ begitu kau ingin menasehatiku tentang berbuat adil?”
“Ayolah…ini tentang…oh Tuhan…ini tentang cinta, mana bisa cinta dipaksakan? Kau…dari dulu kau adalah sahabatku. Kau tahu itu.”
“Kalau memang cinta tak bisa dipaksakan, tidak bisakah makhluk cinta sialan itu dihargai? Disambut dengan layak karena telah berkorban begitu banyak?”
Aku memalingkan muka. Aku merasa, ini akan berbeda dengan hari-hari lainnya. Pertemuan kali ini akan membawa suatu perubahan yang lain. Entah bagaimana, bisik angin dari samudera jauh mengisikiku.
“Tiap tahun pada hari ulang tahunku, aku senantiasa memintamu untuk menemuiku hanya untuk menanyakan sudahkah terbuka hatimu buatku? Dan kau ceraikan isterimu, aku bercerai dari suamiku, lalu kta menikah, sebagai hadiah ulang tahun yang selalu kudamba. Dan malam harinya, karena kau—seperti yang telah kutakutkan—masih saja menolakku, menganggapku sekedar sahabat, aku menangis sepanjang malam. Membiarkan suamiku merenungi sendiri kue ulang tahun hadiahnya di ruang tamu, dan aku sendirian di kamar. Begitu terus selama lima tahun. Belum lagi tangisku di hari-hari yang lain, di tempat-tempat yang lain.”
“Untuk semua itu, aku sungguh minta maaf padamu. Ya aku tahu kata maaf tidak pernah cukup untuk semua yang telah menimpamu. Tapi kta harus melihat kenyataan dengan berani, untuk menghadapinya dan menerima tiap konskwensi yang dihadirkannya. Tak perlu menyesali…”
“…karena penyesalan hanya membuang waktu hidup kita yang berharga. Itukan yang ingin kau sampaikan? Aku sudah hapal, tak perlu mengulang untuk yang ke lima ribu satu kalinya.”
“He he he, kau masih bisa belajar rupanya. Tidak terlalu buruk.”
“Terkadang aku mengutukimu, berdoa agar kau suatu waktu merasakan kegilaan yang sama seperti yang kurasakan. Terserah kau tergila-gila pada siapa saja, aku tak perduli. Aku tahu ini konyol, tapi ini membuatku lebih baik sesudahnya, jadi selalu saja kuulangi dalam mengarungi hari-hari beratku.”
“Kau berhak melakukannya, dan asal tahu saja, itu sudah terkabul.”
“Pada isterimu. Aku tahu. Aku juga tahu, sejak pertama kali, jika dia memang yang kau cari selama ini. Aku cuma sahabatmu.”
“Ya, kau selalu memilikiku sebagai sahabat. Dan itu sudah sangat lama. Bahkan, bisa dibilang—dalam konteks ini—kau lebih dulu memilikiku dari pada isteriku.”
Aku tahu dia tersenyum, seperti yang terjadi tiap kali aku mengatakan kalimat yang sama padanya di penghujung telponnya kala dia menangis.
“Ya, kau benar. Dulu, aku selalu merasa hancur tiap kali menyadari bahwa tak mungkin lagi aku mendapatkanmu, bagaimanapun caranya. Bahkan aku mulai takut kau akan menolak menemuiku di pantai ini tiap hari ulang tahunku.”
“Ha ha ha, tapi bukankah sekarang semua sudah lebih baik, kau tak lagi memikirkanku, kau telah merdeka dari dirimu, terimakasih pada ibu yang dengan caranya telah menyadarkan kau, sahabatku.”
“…”
“Dengan begitu, tentu mudah kemudian bagimu untuk benar-benar mencintai suamimu.”
“Kau tahu apa soal mencintai suamiku?”
“Aku tahu apa? Mungkin tak banyak, tapi yang jelas, dia adalah lelaki pilihanmu. Kau memilih untuk menikahinya dari pada menikah dengan pilhan ibumu.”
“Aku tidak memilih menikah dengannya, tapi terpaksa karena kau tidak mungkin menikahiku.”
Kalimatnya ini selalu berhasil memukulku. Dia sahabatku, semenjak SMA, lalu masa kuliah, di mencintaiku, dan aku mencintai orang lain. Dia menuntut cinta dariku, tapi tak bisa memaksakannya. Maka hiduplah dirinya dengan segala luka-bebannya.
“Kau tahu sendiri, begitu ibuku bercerai dengan ayah dan menikah dengan lelaki lain yang lebih kaya, tak lama kemudian ayah jatuh sakit dan meninggal. Aku tinggal seorang diri, tapi meski hidup terpisah ibu masih perduli padaku, atau mungkin kata yang lebih tepat, dia masih bersedia memakaniku. Begitu dia tahu ada kawannya yang ingin menikahiku, tak peduli betapa tua usia lelaki sialan itu, ibu sangat bersemangat untuk memaksaku kawin dengannya. Mana aku mau?”
“Jika aku dalam posisimu, akupun akan menolak dan memilih orang lain.”
“Kau sudah tahu tentang ini, tapi kau tak tahu rahasia terbesar di balik semua ini. Rahasia yang mungkin—mungkin—akan sanggup menghancurkan dirimu.”
“…”
“Aku memilih suamiku sama sekali bukan karena aku mencintainya, bukan, tapi…tapi karena dia memiliki nama yang sama denganmu, menyukai warna yang sama dengan warna kesukaanmu, menyukai grup musik yang sama dengan grup musik kesukaanmu, lahir di bulan yang sama dengan bulan…”
“Kau menikahiku…kau berharap menikahinya sama dengan menikahiku, kau berharap itu bisa menyembuhkan lukamu, kau berharap itu akan mengobati tiap keperihan hatimu. Kau sungguh melakukannya.”
“Ya, itu semua adalah alasan aku memilihnya, dan mati-matian memperjuang-kannya, menentang kekerasan hati ibu, menerima tiap makiannya. Aku tak ingin kehilangan dirimu sekali lagi.”
“Hfff…”
“Kau sudah tahu sekarang. Semua yang telah menjadi rahasia terdalam. Selama lima tahun ini.”
“Kau tidak perlu lagi melakukannya. Maksudku, kau telah berhasil melupakanku, kau telah berhasil melihat, menghadapi, dan menerima kenyataan, hal mana tak pernah bisa kau lakukan sebelum ini. Cintailah dia, cintailah bayang-bayangku itu dengan sepenuh hatimu, segenap jiwamu. Jadikan dia segalanya. Kau pasti bisa, kau telah berhasil melupakan aku kan? Mm…maksudku, tidak lagi memperdulikanku. Apapun itu, kau telah berhasil melupakanku. Percayalah, ini akan lebih baik demikian.”
“Semoga. Akupun berharap yang sama.”
Angin terasa lebih dalam bertiup, seakan bisa menyelusup menembus lapis kulitku, masuk mengitari ruas-ruas tulangku. Ada kelegaan, kesejukan. Isteriku tahu tentang semua ini, dan aku tahu dia telah bersabar sejauh ini, memberiku kesempatan untuk perduli pada sahabatku ini. Aku tahu ini sangat sulit bagi wanita. Dan aku kagum mendapati isteriku mampu melakukannya. Pertemuan seperti ini harus segera disudahi. Mungkin inilah pertemuan terakhir kami, pertemuan yang meminta peceraian. Aku menghembus nafas lega. Rasa sesak di dada berangsur menguap.
“Baiklah, mungkin aku harus pergi sekarang, kau tahu, urusan keluarga. Aku senang dengan apa yang kau dapatkan sekarang. Kau tampak lebih tegar dan kuat sekarang.” Aku menatap wajahnya, membelai rambutnya untuk perpisahan. Dengan mantap aku bangkit dari pasir pantai yang lembut. Dalam benakku, aku tak sabar menunggu untuk menyampaikan kabar luar biasa ini pada isteriku. “Oya, aku harap kau tak keberatan untuk menjadikan pertemuan ini sebagai pertemuan yang terakhir kali. Maksudku, pertemuan di mana seseorang meminta orang lainnya untuk…mmm…-meninggalakan pasangannya. Maaf, aku tidak bermaksud kasar. Titip salam untuk suamimu ya.”
Kemudian aku berbalik dan pergi. Dan setelah tiga langkah meninggalkannya, dia bicara, dengan suara yang tegas dan penuh harapan.
“Beberapa waktu lalu, dia tahu jika sebenarnya s’lama ini aku menangisimu, bukan orang tuaku atau siapapun itu. Diapun tahu alasanku menikahinya. Dia menemukan diaryku. Dia marah besar, dan besok, dia akan mengajukan tuntutan cerainya ke pengadilan. Dia menundanya sampai besok demi memberiku keleluasaan menemuimu hari ini. Sebagaimana tiap tahun kita lakukan di hari ulang tahunku.”

The End
Sunday, May 17, 2009
Dusk, 00:04

cerpen ini selesai empat menit tepat setelah memasuki hari ulang tahunku. dan aku membutuhkan dua jam untuk menyelesaikannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: