Posted in think

Mitologi bawean: kaot-kaot

crow_moon_Datanglah ke bawean, mintalah selembar kertas berikut alat tulisnya dari seseorang. Lalu gambarlah seekor burung gagak hitam. Lau tunjukkan padanya, maka jawaban yang akan kau dapat dariny: kaot-kaot, si burung setan pembawa kematian.
Begitu kaot-kaot hinggap di atap rumah sebuah keluarga, kematian akan datang pada salah seorang dari penghuni tumah itu. Jerit pekik si kaot-kaot meremangkan bulu roma. Terkadang, bertemu iblis jauh lebih menyenangkan dari pada sekedar mendengar jerit kaot-kaot. Namun demikian, tak seorangpun pernah melihatnya dengan mata kepala sendiri. Kecuali hanya isu, dan kabar burung tentang seseorang dari desa yang jauh yang membakar sarang si kaot-kaot. Kaot-kaot adalah mitologi yang hidup, menjelma menjadi keyakinan, dan memngukir bentuk dari kehidupan para pemegang keyakinan itu.
Bagiku, seekor burung tetaplah hanya seekor burung, tak peduli semisterius apapun itu. Termasuk juga kaot-kaot. Tapi, setelah membuka begitu banyak halaman untuk dikaji, kaot-kaot lebih tepat interpretasikan sebagai suatu bentuk filosofi, ajaran tentang kearifan dalam berkehidupan.
Dalam mitologi bawean itu, kaot-kaot dipercaya sebagai seekor burung—gagak kah?—pembawa kesialan, atau lebih tepatnya, kehadirannya merupakan pertanda kehadiran kesialan—bahkan juga kematian. Pertanyaannya, pakah kaot-kaot pembawa berita kesialan—klau memang betul maka itu adalah anugerah bagi suku bawean—atau justru kaot-kaot itu sendiri yang membawa dan menyebarkan kesialan—kalau benar, maka inilah kutukan bagi suku bawean—pada setiap orang? Semua ini menggiring masyarakat bawean menjadikan kaot-kaot sebagai symbol keburukan yang dating entah dari bagian dunia yang mana. Akan tetapi, tidak pernah sadarkah kita bahwa sebenarnya ada kaot-kaot dalam masing-masing dada kita? Ada sarang kaot-kaot dalam masing-masing rongga jiwa kita. Kaot-kaot adalah perlambang dari kecurigaan, prasangka, dan tiap pikiran buruk yang menghinggapi otak kita. Setiap waktu, mulai dari membuka daun jendela kamar, melangkah keluar pintu rumah, menyapa dan melewati orang-orang, dan sampai kembali pulang, kita selalu diliputi kecurigaan, prasangka pada tiap wajah yang entah dengan alasan apa tersenyum pada kita, pada tiap tatapan yang kita terima di setiap ruas jalan.
Dan, jika makin dalam prasangka itu dibiarkan menggali, kecelakaan bisa saja dating menerjang. Kaot-kaot telah hinggap di atap rumah jiwa kita.

*semakin hari, hasil penelitian dari lembaga-lembaga riset kemasyarakatan internasional menemukan bahwa delapan dari tiap sepuluh orang di dunia menderita kegelisahan, keterasingan—alienasi, dan ketakutan yang berlebihan pada lingkungan dengan tanpa alasan—phobia. Lalu ada pertanyaan, butuh berapa tahun lagi kaot-kaot ini untuk hinggap di tiap jiwa manusia hingga takbersisa?
30 04 09

Advertisements

Author:

tahu sendiri kan, di sini kau akan menemukan rahasia ku, tapi tolong, setelah kau temukan, simpanlah dengan aman bersama dirimu. terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s