• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

SEMANGKUK API DAN SALJU

Jadi lihatlah, alangkah mengherankannya dunia dan kehidupan ini,karena satu hal bisa merefleksikan dua hal yang sangat salju-kematianbertentangan secara bersamaan sekaligus. Pada satu wujud, bisa kita temukan dua eksistensi yang saling beroposisi secara bersamaan. Mustahil tapi riil.

Mungkin terbayang oleh kita sesuatu yang yang kita anggap berdiri sendiri dan hanya menyiratkan satu representasi tunggal, padahal, ternyata tidak.

Kita semua tahu air mata, orang-orang selalu mengasosiasikannya dengan kesedihan, jika kita menangis, maka pastilah kita tengah bersedih, tapi pada saat bersamaan, orang yang sedang penuh dengan kegembiraanpun meneteskan air mata. Kita tahu es, dia adlah wujud dari sensasi dingin yang bisa dirasakan oleh manusia. Tapi es yang amat dingin, ternyata pun membakar manusia, layaknya api yang membuat tangan kita gosong. Rasa sakit (pain), kita yakini sebagai suatu jenis rasa yang amat nyata dan menyiksa, tapi rasa sakit yang amat justru puncaknya adalah tidak merasakan apa-apa. Hampa-kosong. Orang-orang bertindak brutal ketika dia frustasi, tak ubahnya dengan mereka, orang-orang yang larut dalam euforia kesenangan pun bertindak brutal untuk meluapkannya. Bayangkan, dua hal yang sangat bertenyangan senantiasa nampak dalam satu wujud saja.

Dari semua contoh yang bisa disebutkan, ada satu yang paling mencengangkan, yaitu partai politik. Apakah yang tercermin dalam partai politik itu? Di dalamnya, berdiri berdempetan kebohongan dan harapan. Saat musim pemilu tiba, ratusan juta kebohongan disebarkan dalam semua bentuk media yang bisa dihasilkan oleh kreatifitas manusia (dalam tahap ini, kreatifitas justru untuk menghabisi sang pemilik kreatifitas). Saking dari terlalu seringnya dan memasayarakatnya kebohongan itu disuapkan kedalam pikiran masyarakat, sampai semua itu lebih terdengar sebagai harapan dari pada sebuah kepalsuan. Tapi, yang terlebih lagi menggelikan, adalah bagaimana masyarakat sebagai korban merespon semua ini. Mereka adalah sekumpulan manusia yang membutuhkan harapan–karena kerasnya hidup, putus asa, kejengkelan dan kebosanan yang diselimuti kemuakan, dan karenanya sangat mudah untuk jatuh dalam harapan (palsu) walau semustahil apapun itu. Yang menjadi pertanayaan adalah, bagaimana bisa sangat cepat mahluk manusia ini melupakan segal;a yang terjadi dalam diri dan kehidupannya? Baru saja mereka dipecundangi oleh orang-orang yang mereka pilih pada pemilu kemarin yang kali ini kembali mencalonkan diri. Baru saja lima tahun mereka telah dipecundangi, tapi kini, kembali segala kebohongan yang tersaji mereka telan mentah-mentah. Alangkah mengenaskan.

Aku, atau orang-orang yang lainnya juga, masih memiliki sedikit kesadaran, juga beberapa kecemasan, namun apa artinya semua itu? Karena tak jarang kami juga terbuai dengan apa yang sedang disinetronkan oleh para penguasa kami sendiri. Terhibur oleh sedikit insentif yang memang adalah hak kami–jadi tidak bisa disebut sebagai kebaikan mereka. Gila, penyatuan pertentangan yang lain lagi!

  • 11 maret 2009
  • Advertisements

    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s