Posted in sastra

ORANG MATI DI KAMPUNG

Angin beku berlari diantara pepohonan dan dedaunan, bergemerisik di sepanjang jalan sempit berumput yang sepi itu. Tak ada burung bertengger di dahan, kelengangan di muka tanah. Di sebuah tikungan, muncul seorang lelaki tua berjalan gontai. Karung lusuh di pundaknya, baju kumal dan celana pendek yang telah hilang warna menutup tubuh cekingnya. Pak Hadun, duda tua yang sehari-harinya bekerja mencari rumput untuk dua ekor sapinya di kandang. Matahari sudah pun agak miring ke barat, sedang dia sama sekali tidak tertarik mengumpulkan rerumputan yang berserak di kanan-kiri jalan. Tetangganya bilang rumput di kuburan sudah tinggi-tinggi dan tua-tua, sangat cocok untuk sapinya yang masih muda. Ke sana, ke kuburan pak Hadun melangkah.
Dibuangnya puntung rokok yang tinggal gabusnya. Menghembuskan nafas berat sampai kosong dadanya. Merokok bikin cepat mati, kata orang, juga kata anak tetangganya yang baru SMA. Tapi apa peduli dia? Dua temannya semenjak kanak-kanak telah mati duluan lima bulan kemarin dan keduanya bukanlah perokok. Yang satu mati diseruduk berangus, sapi hitam legam menyeramkan. Satunya lagi hanyut di kali saat memandikan kerbau. Kalau mau mati manusia ya mati, Sing Nduwe urip kalau berkehendak mengambil ya tinggal ambil, tidak ada sangkut pautnya dengan rokok. Pak Hadun selalu berkata begitu pada setiap orang yang menyerang dia dan hobi merokoknya. Bukannya bikin mati lho pak, tapi cepat mati! Sanggah lawan bicaranya. Bah! Cepat mati katamu? Aku sudah merokok bahkan sebelum baligh! Dari rokok klobot jagung bikinan embah sampai sekarang yang pakai filter bikinan pabrik, kalau benar kata-katamu itu, seharusnya sekarang aku sudah tinggal tulang-belulang jadi santapan cacing di bawah tanah, buktinya? Lima puluh delapan tahun sudah aku hidup dengan rokok, tapi siapa yang mati? Siapa coba? Bah! Kalau sudah begitu, pak Hadun akan tertawa terkekeh-kekeh, tapi tawanya itu terdengar amat mengerikan. Tawanya itu mengesankan bunyi sesak dan ampek dari dadanya. Tarikan-tarikan nafasnya terasa berat dan susah. Diiringi batuk kering berkali-kali. Lima puluh delapan tahun hidup dengan rokok, lima puluh delapan tahun menghancurkan jantung dan paru-parunya. Sedang pak Hadun tidak menyadarainya.
Bicara soal orang mati, pak Hadun selalu menertawakan tetangga-tetangganya, sanak-familinya, teman-temannya, bahkan kalau boleh dia akan tertawakan orang sekampungnya. Pak Hadun benar-benar heran dengan orang-orang hidup-selain dirinya-kalau sudah membahas tentang orang mati. Kenapa mereka sangat takut sekali? Apa yang membuat mereka menjadi pengecut pada badan yang tak lagi berdaya itu? Pada suatu malam jum’at kliwon, bulan sabit di langit, tujuh bulan yang lalu, dia dengan beberapa tetangganya cangkrukan di gardu ronda. Orang-orang pada asyik main gaple sedang dia ngobrol soal sapi dengan Pak RT. Tiba-tiba dari masjid terdengar suara pengumuman. “Assalamu’alaikum…. innalillaahi wainna ilaihi roji’uun, Bapak Martadi telah berpulang kerahmatulloh…” Pengumuman itu diulang-ulang sampai tiga kali. Tetangga-tetangganya yang sedang asyik main gaple membeku, tangan dan mulut mereka terdiam rapat membatu, wajah-wajah mereka tercenung. Pak Martadi? Martadi? Si tukang sihir itu? Dia mati malam ini!!! Seperti tiba-tiba kesemutan bokong mereka, tetangga-tetangganya itu pada beringsut turun dari tempat duduknya, ambil sandal dan dengan sedikit basa-basi dengan Pak RT langsung lari lintang-pukang meninggalkan gardu. Malam disitu tiba-tiba jadi amat sepi, orang-orang mendadak hilang. Tinggal pak Hadun dan pak RT yang tersisa. Pak Hadun tahu teangga-tetangganya itu pada lari pulang kerumah walau sebagian dari mereka bilang mau ta’ziyah. Dan pak Hadun tahu mereka akan dengan tergesa-gesa dan ketakutan mengetuk pintu rumahnya masing-masing. Pengen cepat-cepat menyelinap masuk seakan seekor berangus gila sedang mengincar bokong-bokong kerempeng mereka. Dan istri-istri mereka juga dengan tergopoh-gopoh akan membukakan pintu rumahnya, menarik lengan suaminya yang ketakutan segera masuk. Menutup pintu cepat-cepat, menguncinya rapat-rapat, lalu masuk kamar cepat-cepat serta menutup dan menguncinya rapat-rapat. Kemudian meringkuk bersama dalam dua selimut, satu selimut tua nan kumal, yang satunya lagi selimut ketakutan yang luar biasa tebalnya. Bagi yang punya anak, mereka akan tidur menggerombol kayak induk ayam dan anak-anaknya. Tak peduli berapa jumlah anaknya dan berapa kapasitas tempat tidur reot yang mereka pakai.
Pak Hadun dan Pak RT melongo melihat orang-orang itu, orang-orang hidup yang takut setengah mati pada orang yang sudah mati, pada bekas orang hidup! Pak Hadun melirik pak RT, dia nyengir, dia tahu orang nomor satu di lingkungannya itu juga sebenarnya sedang ketakutan setengah mati. Tatapannya kosong, mungkin yang dipikirkannya adalah betapa ngerinya keadaan dirinya. Di luar rumah hanya berdua, dalam pada itu si Martadi, penghisap darah itu mati, malam ini, malam jum’at kliwon dengan bulan sabit di langit. Pak RT yang dilirik pak Hadun, cuma bisa tertawa dengan gelisah. Jadi sepi ya pak? Tinggal kita berdua, katanya dengan tanpa gairah. Alangkah kasihannya pak Hadun dengan tuan yang terhormat ini. Orang hidup yang sangat disegani bahkan ditaati oleh orang hidup yang lainnya, mendadak jadi pengecut gara-gara satu orang mati! “Kalau mau ta’ziyah , silahkan pak RT,” pak Hadun berbicara. “Oh… gitu ya, gak pa-pa sendirian pak?” Tanya pak RT. Tapi sebelum pak Hadun menjawab beliau langsung berdiri ambil sandal, ancang-ancang berlari. Saya tinggal pak Hadun ya!
Dari gardu, pak Hadun meringis menatap ketua RTnya itu, dia tahu bahwa takkan pernah ada pak RT itu di rumah duka malam ini. Dia lari mobat-mabit ke selatan sedangkan rumah si Martadi di barat. Pak RT itu lari pulang ke rumahnya, ke dalam selimut istri gendutnya itu yang sudah empat tahun belum beranak.
“Dasar monyet!!!” seorang lelaki ceking menggerutu sendiri di gardu sepi.
Karena melamun, pak Hadun tak sadar di depannya ada batu sebesar kepala menghadang, kakinya tersandung, “monyet alas!!!” Dia mengumpat. “Siapa yang melempar batu sebesar ini ke tengah jalan?” gumamnya sendirian. Dia angkat batu itu ke tepi. Di kanan kiri jalan terbentang ladang-ladang cabai milik orang kampong-pertanda dia sudah dekat ke tujuan, ke kuburan. Tapi betapa kagetnya dia, cabe-cabe yang sudah setinggi perut itu pada berantakan, roboh di sana-sani bukan hanya satu ladang tapi hampir di semua ladang yang ada di sekitar situ. Ada apa gerangan? Siapa pelakunya? Alamat perang ini! Pak Hadun jadi ingat waktu kecil dulu. Dua keluarga bertempur gara-gara yang satu kedapatan sedang merusak ladang cabai keluarga lainnya. Dua orang tewas dalam pertikaian itu. Digelayuti rasa penasaran dan gelisah yang amat dalam, Pak Hadun meneruskan perjalanannya ke kuburan. Dia ingin lekas-lekas menyelesaikan kerjanya dan segera melaporkan hal ini ke pak lurah sebelum terjadi bencana. Ah dasar manusia! Kenapa mereka amat suka berseteru dan membunuh? Menambah jumlah orang mati tiap hari. Dan anehnya, kenapa manusia hidup itu amat takut terhadap manusia mati? Bukankah itu justru saatnya bagi seseorang-yang masih hidup-untuk meraih keberaniannya?! Disaat masih hidup orang-orang takut bukan alang kepalang kepada Si Martadi, penyihir penghisap darah itu. Seharusnya orang-orang jadi berani saat dia mati. Karena justru dengan matinya itu dia tidak bisa lagi menyihir dan menghisap darah orang-orang yang melawannya. Si mati Martadi akan diam saja digebuki orang-orang hidup itu, tapi apa nyatanya? Mereka yang belum mati malah takutnya makin menjadi-menjadi terhadap Martadi justru saat dia mati! Pak Hadun tak habis pikir mendapati kenyataan itu. Bahkan Pak RT-nya yang punya andil besar dalam hal mengurus kematian warganya justru takut pada warganya yang mati. Suatu jenis warga yang justru jadi amat tergantung padanya sebagai pejabat RT dan sebagai orang hidup. Padahal, disaat masih hidup, dengan seenaknya pak RT main perintah sana-perintah sini, dan memang dasar mereka para warga yang tolol, warga yang cuma berpikir hari ini kita makan apa, dengan begitu patuhnya mengikuti instruksi pak RT. Pak RT menjadi amat hebatnya, amat berkuasanya, amat besar dan agungnya (bayangkan, bagaimana pula dengan Pak Lurah? Betapa berkuasanya dia kepada warga yang masih hidup itu). Akan tetapi, ceritanya jadi terjungkir balik 360o jika si warga hidup menjadi mati. Entah itu mati yang dikehendaki atau yang bukan atas kehendaknya sendiri sampai pada detik kematiannya, sampai pada detik tamatnya, sampai pada batas akhir kehidupan ragawinya. Pak RT, juga warga kampung lainnya jadi amat segannya, amat takutnya pada si warga mati itu. Apakah hal itu karena mereka orang-orang yang menghormati orang mati karena suatu ajaran akhlaq tertentu? Bukan! Bukan karena itu! Tapi karena mereka takut disatroni, takut didatangi, takut digentayangi oleh si warga yang mati itu. Bagaimana bisa orang mati menakut-nakuti orang hidup? Keluar dari tanah lalu dengan bangganya meneror orang-orang baik di rumahnya maupun di jalanan yang sepi?
Sedangkan bagi Pak Hadun, kematian seseorang adalah justru kemenangannya. “Sekarang mati kowe, gak bisa lagi kowe berbuat seenaknya!” Pak Hadun gemar sekali ikut mengurus mayat. Kadang-kadang mengusung keranda, kadang-kadang menggali kubur, tapi yang lebih sering adalah menampah mayat dari liang kubur. Begitu si mati beralih ke tangannya, hati Pak Hadun bergemuruh, bersorak riang! Orang itu kini benar-benar tak berdaya, dia bisa berbuat apa saja, seenak hatinya. Pernah suatu ketika dia pura-pura tak sengaja menginjak kepala mayat tetangganya saat direbahkan di liang lahat. “Lobangnya kesempitan!” Begitu dia berkilah. Tapi sebenarnya itu karena sakit hatinya pada si mayat, suatu dendam yang subur dia tanam. Karena di saat hidupnya, si mayat itu pernah menolaknya mentah-mentah saat mau hutang dua kaleng beras untuk anak bininya. Penolakan itu diam-diam menyayat harga dirinya, tapi apa yang bisa diperbuat orang seperti dia? Yang-waktu itu-hanya punya tiga orang anak, satu bini, tanpa sepeserpun harta apa lagi kuasa. Dan dia hanya bisa merutuk, memaki. Maka, kesempatan pembalasan itupun menunjukan dirinya di dalam kolong kuburan. Dan Pak Hadun memanfaatkannya dengan sempurna.
Pekuburan itu sudah kelihatan, pohon cempaka tumbuh disana-sini, di pinggir dan di dalam komplek. Bunganya yang putih menyembul di tiap ranting. Dan di bawahnya, rumput hijau yang tinggi-tinggi itu… tak ada! Di permukaan pekuburan itu berserakan tanah merah bekas galian. Di semua tempat di setiap jengkal tanah pekuburan, tanah merah bekas galian menutup seluruh permukaan pekuburan. Bukan hanya itu, nisan-nisan bergelimpangan, terpelanting berserakan dimana-mana, seakan-akan ratusan celeng baru saja mengobrak-abrik pemakaman itu. “Monyet alas! Kenapa kuburan ini…?” pak Hadun tersentak kaget. Segera dia berlari menghambur kesana, berlari secepatnya. “Gusti Allah!” Jantung rusaknya berhenti berdetak. Tiga kuburan lawas yang terletak paling pinggir terbongkar, tanahnya morat-marit. Pak Hadun mengintip isinya, kosong melompong! Kuburan-kuburan itu kehilangan penghuninya. Mayat-mayat yang sudah puluhan tahun mendekam di sana raib entah kemana! Pak Hadun bergidik. Dia teringat cerita anak tetangganya yang baru SMA tentang beberapa perusahaan di luar negeri yang suka mencuri kerangka orang mati, katanya untuk dijual ke sekolah-sekolah kedokteran di sana. Itulah sebabnya kenapa makam-makam orang luar negeri selalu dibeton. Pak Hadun segera mengalihkan pandangannya, dia sapu seluruh permukaan pekuburan, terbongkar semua! Setiap kuburan terobrak-abrik! Berantakan tak karuan. Pak Hadun berlarian kesana-kemari kebingungan, memeriksa tiap-tiap kuburan yang sudah tidak bisa dikenali lagi milik siapa karena nisannya sudah tercerabut mencitat kesana kemari. Kuburan besar-kecil, orang penting-orang terkucil, tua-muda, semua terbongkar dan kosong melompong, termasuk kuburan tetangganya yang dia benci itu, juga rusak dan raib isinya (dia tahu bukan karena dia mengenali yang mana kuburan tetangganya itu, tapi karena tak satupun kuburan yang tersisa dalam keadaan utuh).
“Monyet alas! Bajingan mana yang melakukan perbuatan ini!” Pak Hadun memaki. Heran tak bisa membayangkan berapa puluh orang dikerahkan perusahaan kerangka luar negeri itu untuk membongkar makam-makam ini. Dan berapa cikar yang dipakai untuk mengangkut tulang-tulang itu. Pak Hadun terduduk di bawah pohon cempaka, keringatnya banjir, nafasnya sesak, karung dan sabitnya jatuh entah dimana. Dia berpikir, bukankah baru dua minggu lalu ada orang yang mati, tapi kenapa jasadnya juga raib? Semestinya sekarang dia belum jadi tulang-belulang, setidaknya masih berupa jasad rusak penuh belatung, tapi kenapa ikut diusung? Kebingungannya diselimuti kekelaman yang perlahan-lahan menyelimuti pemakaman. Matahari kian jauh terjerembab di ufuk. Pohon-pohonan makin tampak seperti bayang-bayang hitam. Pak Hadun tersentak, makam istrinya juga hilang! Ya, istrinya yang telah mati tujuh tahun yang lalu namun masih saja sering datang dalam mimpi-mimpinya. Kesadaran itu memicu munculnya suatu perasaan lain. Sebuah amarah yang menyala-nyala! Pak Hadun berang, mayat istrinya dicuri orang. Bergegas dia bangkit, lalu berlari sekencang-kencangnya hendak ke rumah Pak Lurah untuk melaporkan perampokan gila-gilaan itu. Dia terajang ladang cabai di sekitar pekuburan, batang-batang cabe yang masih tegak bergelimpangan disambar kaki dan tangannya, jalan pintas ke rumah Pak Lurah. Karena kalap Pak Hadun tak lagi memperhatikan sekitar. Ladang yang dia terobos ternyata sudah porak-poranda. Batang-batang cabai bergelimpangan dimana-mana, seakan-akan baru saja ratusan kambing jawa balapan di situ.
Pak Hadun terus berlari, memompa jantungnya, memacu paru-parunya. Hingga akhirnya, dia tiba-tiba sesak di dada. Dadanya seakan hampa dan ingin meledak. Pak Hadun tersungkur setelah sprint beberapa ratus meter. Dia tergelepar, kakinya kejang, nafasnya sepenggal-sepenggal, seperti ikan yang terkait kail dan sedang menunggu ajal di bedengan. Dalam kepayahan dia menatap sekeliling, kebun mangga manalagi, kebunnya Si Martadi penyihir itu. Sebentar lagi dia sampai ke rumah Pak Lurah. Sedikit lega di dadanya. Dalam keremangan maghrib, mata rusaknya menangkap sebuah bayang-bayang bergerak pelan diantara pokok-pokok mangga. Pelan-pelan dia jalan, layaknya sedang memeriksa pokok mangga satu persatu. Pak Hadun merasa kenal dengan sosok dalam keremangan itu. Bentuk tubuhnya, tinggi badannya, cara jalannya, dia benar-benar merasa kenal dengan sosok dalam keremangan yang kian mendekat itu. Pak Hadun duduk, mengucek-ucek matanya, mempertajam pandangannya. Sementara si sosok dalam keremangan tampaknya sadar akan keberadaannya. Sosok itu bergegas berjalan ke arahnya. Semakin dekat dia, semakin yakin pak Hadun, dan semakin kacau pikirannya. Hadun…! ngapain malam-malam gini di kebun orang?! Sosok itu berseru kasar. Hah… suara itu, logat itu, sosok itu… Martadi?!?!?! Sejenak nafas pak Hadun hilang. Benarkah pandangan dan pendengarannya? Martadi si penghisap darah yang mati karena stroke tujuh bulan lalu itu kini tengah hadir di depannya? Dalam sisa-sisa cahaya keremangan matahari, sosok yang tinggal beberapa langkah di depannya itu tampak jelas, dia adalah Si Martadi, ya… dia Martadi, wajahnya yang kasar itu tampak jelas sekali bagi pak Hadun.
Tiba-tiba pak Hadun ditikam oleh sebuah ketakutan yang amat menyeramkan. Sebuah rasa takut yang tak pernah dia rasakan sebelumnya. Sebuah rasa takut yang tidak menimbulkan ketaatan dan kekerdilan, tapi rasa takut yang mengajaknya untuk kabur, untuk lari tunggang-langgang. Dengan meraung-raung pak Hadun segera bangkit, berbalik dan lari sekencang-kencangnya. Jduk!! Dalam kalap dia tidak melihat batang mangga yang melintang di depannya, kepalanya menghantam keras tapi dia tak pedulikan rasa sakit nyeri itu. Segera dia bangkit lagi, lari lagi, lebih kencang lagi tak peduli kanan-kiri. Di belakangnya dia mendengar Martadi berteriak-teriak “Hadun!…Hadun!” pak Hadun tak hiraukan panggilan mayat hidup itu.
Dia sudah ternampak rumah besar Pak Lurah, harapan dan keberaniannya muncul, seperti lilin yang menyeruak kegelaman malam. Dia pacu langkah kakinya lebih cepat lagi, dan untuk kesekian kalinya, karena tak melihat jalan, kakinya menginjak tahi kambing basah. Lagi Pak Hadun jatuh, tubuh cekingnya menghantam tanah, berketepak keras. Kakinya terkilir. Sakit sekali rasanya. Siku kirinya pun berdarah karena menopang tubuhnya saat jatuh tadi. Mulutnya mengerang, mukanya meringis, tapi dia senang karena antara dia dan rumah Pak Lurah hanya dibatasi dua rumah saja. Dia tatap rumah Pak Lurah seiring dengan meredanya degup jantungnya, telinganya menangkap suara ramai dari tiap rumah di sekitarnya. Tiap rumah penuh gelak tawa, anak-anak, tua-muda, laki-perempuan, terdengar bercerita penuh semangat. Tampak seseorang keluar dari balik pintu rumah Pak Lurah, duduk di beranda dan diikuti beberapa orang lainnya. Pak Hadun kaget bukan kepalang etelah dia amati benar-benar orang yang paling tua di sebelah kiri Pak Lurah.
“Gusti…!!!” dia tercekat, di bawah terang lampu neon tampak jelas dia, si orang tua itu, adalah kakeknya Pak Lurah, orang yang telah mati saat dia masih remaja! Dan kini orang yang mati puluhan tahun itu… tampak segar bugar duduk di beranda rumahnya sambil tertawa-tawa girang, dan di sebelahnya, wanita tua itu… nenek Pak Lurah, yang mati menyusul suaminya tiga bulan kemudian. Pak Hadun seperti hilang jiwanya, duduk terpaku di tengah jalan sambil terus mengerang kesakitan, sementara pikirannya kosong. Dia tak mendengar sebuah pintu terbuka, seseorang melongokkan kepalanya, “Hadun! Hadun! Kenapa duduk di situ?! Ayo masuk sini!” sebuah suara memanggilnya, suara yang amat akrab di telinganya, suara yang selalu menemani hampir seluruh hidupnya. Pak Hadun menoleh… oh! Darahnya tersirap, habis sudah! Misno, temannya yang mati lima bulan lalu diseruduk berangus berdiri senyam-senyum di ambang pintu belakang rumahnya. Gusti…!!! ORANG-ORANG MATI DI KAMPUNG…

UNIROW, 28 Nofember 2007

Advertisements

Author:

tahu sendiri kan, di sini kau akan menemukan rahasia ku, tapi tolong, setelah kau temukan, simpanlah dengan aman bersama dirimu. terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s