Posted in sastra

Jika Aurora Berwarna Tiga

(Karangan ini aku persembahkan untuk para aurora yang menghuni kelas Bhs. Inggris 2005 C UNIROW Tuban, it’s wonderful to know you all, guys)

aurora-baru1. Setiap Nasib, Tidak Terduga
Ya, tentu saja, Aku belum pernah seumur hidupku membayangkan ini, membayangkan menjadi mahasiswa di kampus ini. Bahkan aku sebelum ini tidak pernah tahu kalau kampus ini ada. Aku tak pernah tahu sebelumnya. Saat itu Aku sudah bikin keputusan dan membuat persiapan untuk melanjutkan studiku selepas MA (Madrasah Aliyah) ke BEC, tempat kursus Bahasa Inggris di Pare yang legendaris itu. Kak Erna tetanggaku yang sudah sedang belajar di sana, membantuku mendaftarkan diri dan mencarikan tempat kos jika nanti aku sudah di Pare.
Suatu malam, kak Rizal, kakakku tertua yang tinggal di Brondong, menelpon. Kami berlari tergopoh-gopoh ke rumah Pak Taufik si kaya pemilik Wartel satu-satunya di kampungku.
“ Kamu mending di Tuban aja, bukankah kamu pingin belajar mandiri, kalau kuliah di Tuban, bisa sambil kerja, kuliah biaya sendiri.kalau kursus di Pare,tiap bulan kau minta kiriman ibu.” Suara di telpon meletup-letup dari ujung yang amat jauh di seberang laut sana. Yang jelas, malam itu perutku rasanya ngilu, perasaan yang yang selalu ku alami jika sedang di timpa pemikiran yang berat. Antara Pare dan Tuban sebenarnya sama saja,yaitu aku akan belajar Bahasa Inggris di sana. Bedanya, di Pare ada teman-teman sekampung yang lebih dulu ke sana, dan di Tuban, jika aku kuliah di IKIP itu ( sebelum sekarang menjadi UNIROW ), aku akan menjadi orang asing satu-satunya di tanah Ronggolawe itu, satu-satunya manusia berbahasa Bawean di antara manusia-manusia berbahasa “sugeng dalu, sugeng siang” itu, seperti seekor antilop diantara kawanan zebra. Memikirkan keterasingan yang mungkin menindasku jika aku kuliah di IKIP Tuban, membuatku merinding dan perutku kejang. Sebenarnya, aku tidak punya suatu alasan tertetu mengapa merasa bahwa aku akan terasing ditempat asing itu, perasaan itu tiba-tiba saja datangnya. Aku malam itu tidur sambil membayangkan puasa senin kamis di Pare untuk menghemat uang kiriman ibu dari Bawean.
Tanggal 22 Juli 2005, aku sudah di tanah Jawa, tempat segala macam universitas prestisius dan penjara kesohor berdiri. Saat turun dipelabuhan Gresik, kepalaku terasa agak pening. Aku berlayar seorang diri untuk pertama kalinya. Dan, mulai esok harinya, sejak pukul 5 lewat beberapa menit dipagi hari, aku harus sudah lari lintang pukang keluar rumah, dimangsa dinginnya pagi menuju gudang pengolahan ikan manyung yang berbau mematikan. Udara pagi yang lembab dan dingin terasa berubah menjadi semacam senjata biologi saat bersenyawa dengan bau-bauan kejam yang menggumpal didalam gudang manyung reot ini. Aku bekerja sampai pukul 5 sore. Sungguh, ternyata memang benar sekali, setiap nasib seorang turunan Adam benar-benar tak bisa diduga. Aku yang sudah 80% matang memilih BEC, ternyata malah kuliah di IKIP Tuban, padahal semua guru MAku sudah kukabari tentang rencanaku ke Pare. Dan, ternyata yang dimaksud sambil kerja oleh kakakku adalah nguli di gudang manyung. Luar biasa, aku tertawa memikirkan ini. Tapi asal kau tahu kawan, saat itu sama sekali aku tiada merasa sedih, meski berpisah dengan ibu yang telah lebih dari 18 tahun tak pernah jauh dari ku, berpisah dengan teman-teman sepermainan, dengan kakak perempuanku yang pemarah tapi menangis saat aku bertolak ke Jawa, dengan semua orang yang kukenal dan kusayang, dan tinggal di Jawa dengan kakak, nenek dan bibi (aku belum punya teman kala itu) saja, aku sama sekali tiada merasa nestapa. Bahkan bekerja di gudang ikan ini menjadi suatu kebanggaan tersendiri bagiku.

2. Setiap Yang Pertama Adalah Yang Tak Terlupa
Bersama ipar perempuanku yang juga akan kuliah di IKIP, kami pergi mendaftar. Saat itu sudah gelombang ke2 pendaftaran. Wanita muda anggun itu duduk tenang di angkot, aku di sebelahnya, perasaanku seperti anak kecil diantar ke pak dokter untuk disunat. Takut dan senang tumpang tindih tak karuan. Sesekali Firoh, begitu namanya, kulirik sedang tersenyum. Di luar mobil, rumah, pohonan, warung, dan kendaraan diparkir tampak seperti berkejar-kejaran. Suatu tipuan mata akibat kecepatan. Tiap kali angkot ini berhenti, penumpang bergantian keluar masuk, aku terjepit diantara dua perempuan. Sumpah, tak pernah sebelumnya aku berada dalam keterjebakan seperti ini!
Aku tak bisa berkata-kata di depan satpam berseragam putih, celana gelap, perut tambun dan wajah bengis tapi lugu itu, walau Firoh berkali-kali mencolek tanganku agar cepat ngomong. Dalam pikiranku, aku berharap agar dia mengasihaniku dengan berbicara pada pak satpam, tak terus memaksaku. Karena lidahku kelu dibawah bayang-bayang kumis mas satpam itu.
“Tempat pendaftarannya dimana pak?” Firoh akhirnya bicara. Ya, hanya itulah yang harusnya ku katakana, tempat pendaftarannya dimana pak?, hanya 5 kata itu! Tapi jelas-jelas aku tidak berdaya untuk menyuarakannya. Demikianlah sobat, nasib anak pulau bertemu satpam kampus untuk pertama kali.
Belum ada cermin besar dikamarku saat itu, kecuali sebuah cermin kecil bekas bedak viva. Menatap wajahku dalam cermin yang bagiku kadang sungguh tampak ‘luar biasa’. Kemeja putih dan celana gelap membungkusku, pagi ini aku akan memulai tahap awal yang paling berarti dalam rangkaian sejarah hidupku, suatu periode yang memberi tanda yang amat jelas dan panjang yang membuatku tidak menjadi aku yang dulu lagi. Hari ke 8 di bulan Agustus. Hari ini berlangsung tes tulis untuk seleksi mahasiswa baru, besoknya tes wawancara, aku benar-benar menyiapkan diri dengan gila-gilaan untuk hal ini, walaupun aku lulusan terbaik bahasa inggris dulu waktu MA, entah bagaimana aku merasa bahwa para peserta tes yang semuanya orang jawa itu jauh-jauh lebih baik dari aku. Mungkin tiap orang pulau punya rasa minder saat berhadapan dengan orang jawa.
Sampai di IKIP, aku malah dihajar habis-habisan oleh beban-beban yang tidak berperikemanusiaan, aku tegang karena aku akan menghadapi tes masuk sementara disini aku tak kenal satu orang pun kecuali Firoh. Ditambah lagi, kita sekarang kebingungan mencari dimana tempat tes kami akan berlangsung. Aku yang memang sering bingung di depan peta, melongo tolol di depan denah yang menunjukkan tempat-tempat pelaksanaan tes. Denah itu sama sekali tak membantuku! Untunglah Firoh tampak mesam-mesem prtanda mengerti, dan itu justru membuatku makin kecut, ternyata orang jawa pandai membaca denah , apalagi hanya soal-soal tes masuk? Pasti dilibas habis! Jika aku bisa melintasi lubang-lubang cacing yang tersembunyi dalam black hole diluar angkasa sana, lalu kembali kehari pelaksanaan tes masuk ditahun 2005 itu, aku pastinya akan tertawa terpingkal-pingkal menertawai diriku sendiri demi melihat bagaimana dengan otoriternya Firoh menyeretku ke Barat ke Timur dalam suatu perburuan mencari ruang kelas tempat ujian tes tulis kami diadakan. Rupanya teman-teman, orang Jawa yang bisa baca denahpun masih bisa bingung.
Tapi hari ini belumlah terlalu menyeramkan dibandingkan dengan hari kedua, saat tes wawancara diadakan. Aku mbolos nguli demi mempersiapkan diri menghadapi tes wawancara itu. Ingat, belum pernah seumur hidupku sebelumnya menjalani yang namanya tes wawancara. Ditambah lagi, ada kabar tes wawancara untuk anak jurusan bahasa inggris menggunakan bahasanya Shakespeare itu. Wah, sepanjang hari mbolos itu aku tak habis-habisnya membaca buku percakapan bahasa inggris.
Maka, sepanjang perjalanan, mulai dari keluar rumah sampai duduk dalam mobil, kami senantiasa berkomunikasi dengan bahasa inggris sebagai pemanasan. Para bakul ikan, laki-laki dan perempuan tua, anak-anak sekolah, bahkan sopir dan kernetnya, merasa jika diantara mereka tengah duduk dua muda-mudi dari kota Manchester yang sedang dalam perjalanan wisata ke Goa Akbar di Tuban. Aku sempat menangkap lirikan mata beberapa penumpang, penuh penghormatan dan penasaran. Asiknya jadi (calon) mahasiswa Bahasa Inggris. Entah apa yang ada dalam benak wanita muda bertubuh kekar disebelah ku itu, yang jelas aku hari ini sangat senang, aku merasa bisa untuk mengatakan, “ya aku bisa!”
Begitu sampai di kampus, kembali kejadian kemarin terulang. Aku melongo di depan denah yang tampaknya lebih rumit lagi sekarang, sedangkan Firoh dengan serius menelisik tiap alur yang ditunjukkan denah ‘misterius’ itu. Sesekali tangannya menunjuk-nunjuk mengikuti garis, lalu, kembali bibirnya tersenyum seperti hari kemarin. Maka, saudara-saudara sekalian, pada suatu pagi di IKIP PGRI Tuban saat ratusan mahasiswa berjubel untuk mengikuti tes wawancara, aku diseret pontang panting oleh Firoh dengan tanpa belas kasihan mencari ruangan dengan tulisan BAU, tempat tes wawancara kami. Ternyata, orang yang tersenyum di depan denah belum tentu bisa dipercaya. Setelah pencarian yang memalukan dan mengerikan, akhirnya tempat keramat itu ketemu juga. Hampir setengah wilayah kampus ini kami telusuri, dan ternyata BAU ada di jarak sekitar 20 langkah saja dari tempat denah sialan itu berada. Di depan pintu masuk, firoh tersenyum puas.
Jika kau pikir kami sial, maka ketahuilah, ada lagi yang jauh lebih sial. Selama kami mengantri di depan pintu BAU (kala itu aku belum tahu apa arti BAU, aku lebih suka membacanya ‘bau’ dan kemudian menertawakannya. Aku berbisik ke Firoh, “Kita wawancara ditempat BAU?”) berkali-kali kami kedatangan mahasiswa kesasar. Berjalan seorang diri atau berdua, kepala clingak-clinguk seperti monyet cari sesuatu, sedang matanya menyorotkan cahaya keputusasaan yang dalam. Bahkan ketika kami sudah selesai wawancara, yang ternyata sama sekali tidak seperti yang aku khawatirkan, ada beberapa mahasiswa yang sedang ngantri dengan bimbang dan ragu di depan pintu.
“Sampean wawancara di BAU mas ? “ tanyaku.
“ Tidak mas, di ruang Kajur Bahasa Inggris,” jawabnya lesu. Akuu terkaget-kaget,bagaimana bisa dia tersesat selama ini? Lalu kami pun mengantarnya ke ruang Kajur Bahasa Inggris yang telah kami ketahui letaknya karena tepat di sebelah pintu masuk, dan ternyata tes wawancara di ruangan tersebut telah usai beberapa waktu lalu. Sebelum kami pulang, masih sempat kulihat bagaimana pria malang itu susah payah memotivasi dirinya untuk berani masuk ke ruang kajur yang mulai sepi. Di punggungnya, kulihat basah yang luar biasa.

3. Entering The History
Tapi sejarah yang sebenarnya baru akan di mulai hari ini, hari pertama dalam rangkaian dua hari OSPEK. Aku sudah akrab dengan cerita mengenai kejamnya pengalaman OSPEK. Terlebih lagi, kala itu baru saja tragedi ITPDN ( sekarang IPDN ) terjadi. Aku berpikir macam-macam tentang kemungkinan apa yang mungkin terjadi padaku. Mungkin aku akan disuruh lari keliling kampus hanya bercelana panjang, atau disuruh Push Up 50 kali,atau disuruh memakai baju dari kantong plastic. Ah, kejam nian peristiwa-peristiwa yang melesak dalam pikiranku.
Pukul tujuh lewat, kami terlambat datang ke kampus. Para satpam (aku belum tahu kalau ternyata mereka adalah panitia dari satuan MENWA ) bekeliaran merapikan para mahasiswa baru yang terserak tak beraturan, aku bersijingkat lari ke dalam barisan. Kesan militer yang di pendarkan dari uniform mereka benar-benar mengintimidasiku.
Maka terjadilah hal itu, OSPEK itu, yang ternyata sungguh di luar dugaanku ! Masa satu hari OSPEK hampir 80% kami habiskan di dalam ruangan, mendengarkan presentasi dari orang-orang paruh baya membawakan materi-materi yang sama sekali tak bisa kumengerti. Entah karena yang di jelaskan sama sekali tak merangsang saraf curiousityku atau juga mungkin karena pria ini, pria berstyle yang telah menyesatkan persepsiku tentang dirinya. Pria muda yang saat berjabat tangan dia sebut namanya dengan cepat : David! Karena aku samasekali tak menduga seorang Jawa akan memiliki nama seasing itu, ku minta dia mengulangi.
“ David, namaku David! “ Katanya cepat.

Kau tak pernah tahu siapa itu orang yang menggenggam peta jalan hidupmu, orang yang jika kau temui maka dengan suatu cara yang tak kau sadari dengan pasti dia menuntun arah orientasi hidupmu. Dan pada pagi itu, di dalam gedung I saat tiga orang wanita yang tak lagi muda berpresentasi tentang perpustakaan (baru kemudian hari, aku tahu kalau tidak ada beda antara memperhatikan atau tidak presentasi itu), aku telah berjabat tangan dengan pria muda yang disalah satu sakunya terlipat rapi peta hidupku. Pria muda itu, tentu saja si kampret, suatu panggilan yang dikemudian hari mengganti nama asingnya, David.
Wajah pria muda ini pasti membuat tiap perempuan lawan bicaranya berantakan degup jantungnya. Dengan gerak kepala yang proporsional, pronunciation yang tidak mengesankan logat dan dialek jawa, serta kilat mata disetiap kata-katanya yang mengandung semangat, mengesankan dengan amat meyakinkan bahwa anak lelaki lawanku bicara ini adalah orang dari kalangan The Have, orang-orang beruang. Warna kulitnya sama sekali tak seperti orang yang harus pontang panting dibawah hujan dan terik matahari untuk menyambung hidup. Sekilas, dia ada kemiripan dengan Salman Khan. Akan tetapi, saat kucermati pakaiannya, celananya, tas dan sepatunya, menginformasikan padaku bahwa si David ini tidaklah beda stratanya dengan ku. Baju putihnya adalah bekas SMA dulu, ya, aku tahu sekali itu dari model potongannya. Sedangkan celananya adalah celana yang telah kelelahan dipakai 5 kali sehari ke musholla. Tasnya butut dengan warna kusam menyedihkan. Sedang sepatunya, aku tidak tahu bagaimana harus menggambarkannya tapi yang jelas, aku punya firasat bahwa tak lama lagi sepatu itu akan koyak, kedua-duanya. Tahukah anda apa yang berkecamuk dalam pikiranku? Aku menduga mungkin David ini adalah seorang putra dari keluarga kaya raya yang berjiwa sederhana, berpikiran maju dan benci atribut. Baginya isi kepala tak bisa dibandingkan dengan tetek bengek performa badani. Atau, jika dia bukan anak orang kaya, mungkin dia anak orang miskin yang malas membantu orang tuanya, tapi aku tak percaya terhadap dugaan terakhirku ini. Lepas semua itu, pria muda ini telah dengan sopan dan santun merampas semua simpatiku, rasa sayang dan kesetiaanku. Maka dimulailah semenjak hari ospek itu babakan baru dari teater kehidupanku. Sebuah kisah yang akan membakar rasa kasihan dan kejengkelan dengan perjuangan-perjuangan pemuda tanggung demi mencapai khayalan-khayalan dan ambisi-ambisinya.

4. Vic Zhou dan Aku
Sebelum aku pindah ke jawa, selama bulan Ramadhan di salah stasiun televisi swasta ibu kota ditayangkan drama Asia MARS, yang dibintangi oleh Vic ‘F4’ Zhou dan gadis imut lugu Barbie Hsu. Aku tidak bisa bohong bahwa aku sangat suka drama itu. Jalan cerita yang dijalin dengan kiah-kisah romantis dan menegangkan-walau absurd- ditambah karakter tokoh-tokohnya yang unik, menjadi alasan mengapa aku tergila-gila pada serial tersebut. Tapi, ada satu hal sebenarnya yang amat berkesan dalam memoriku hingga hari ini, yaitu jalan menuju kampus Vic yang kiri kanannya penuh ditumbuhi pohin-pohonan yang tinggi nan rindang. Aku membayangkan alangkah sejuk dan tenangnya pikiran jika melintasi jalan itu bersama orang kesayangan, ah, tak terlukiskan. Dan, yang luar biasa adalah, jalan sepanjang sekitar tiga ratus meter menuju kampusku ini kiri kanannya juga ditumbuhi pohonan yang meskipun amat tak sebagus dan serindang di Mars, cukup mampu melahirkan sensasi damai itu. Maka, tiap selesai kuliah, kami berjalan bergerombol menyusur trotoar, dinaungi pohonan tak rindang, disemprot asap hitam pekat dari knalpot truk-truk raksasa. Yang tak tahu diri.perlu aku tulis, tak ada truk yang lewat di jalan menuju kampusnya Vic dalam serial Mars itu. Dan aku merasa jika aku adalah si Vic yang dengan anggun berjalan ditemani Barbie si ayu, dalam kasus ini, Barbienya adalah si Kampret.
Tapi kami tak ambil perduli. Sepanjang jalan kami bercanda, menggoda, tertawa, dan terbatuk-batuk karena asap. Habibi dan Halili, duo dari Paciran yang kompak banget, seperti jalinan kerjasama tukang bakso dan penjual es degan, saling melengkapi dalam tiap aksi. Hima dan Lina, ratu-ratu kecantikan dari kerajan terasi, senantiasa tersenyum dan tertawa dengan cara yang memikat hati. Di kemudian hari, Lina punya bab tersendiri untuk diceritakan. Awalnya aku tidak percaya mereka berasal dari suatu keluarga yang telah turun temurun beroprasi dalam jaringan sindikat produksi terasi karena suatu alasan sederhana, mereka sama sekali tidak memiliki cita rasa keterasian dalam setiap penampilannya, bahkan sekedar bau terasipun tidak tercium dari baju mereka! Hal ini sangat bertolak belakang dengan ku. Baru beberapa bulan bergelimang manyung, sudah tampak seperti orang yang dengan suatu kesialan tertentu telah dilahirkan oleh ibunya di dalam gudang manyung paling bejat dan dengan suatu kenestapaan tertentu pula, tampak seperti orang yang akan tamat riwayat hidupnya di antara mayat para manyung pula. Dengan mengagumkan aku telah berevolusi dari suatu jenis anak pulau yang introvert dan kurang gaul dan tidak keren sama sekali menjadi pemuda dengan kepercayadirian yang meluap-luap dengan suatu aroma amis ikan manyung yang senantiasa terhembus dari sekujur badannya. Dengan kata lain, aku telah menjadi seorang pemuda bau amis yang tak tahu diri! Tapi kawan, kita lihat saja nanti apa yang akan dibuat oleh pemuda amis ini. Selalu berjalan di depan barisan, Diana dan Firoh. Diana tetangga satu desa kami. Dia di anugerahi Tuhan dengan suara emas yang luar biasa merdunya, menakjubkan. Tiap kali dia menyanyikan cuplikan lagu Christina Aguilera seakan mulutnya itu telah berubah menjadi home theatre yang melantunkan I Turn To You di suatu pagi yang syahdu. Dia luar biasa, selalu luar biasa. Jika bicara bahasa Inggris, kedengaran indah betul tiap kata yang dilafalkannya, walau aku ragu entah benar atau salah pronunciationnya. Tapi ingat, jangan sekali-kali bikin ulah dengannya, karena Diana ini bukanlah sosok yang mau merendahkan suara dan berlembut kata jika bertemu dengan yang tidak berkenan dihatinya. Jika kau lakukan itu, hhhmmmmm…., tunggu saja, tama riwayatmu. Dan kami. Di ekor gerombolan ajaib ini, seperti orang gila tiada jeda speaking English. Selalu bicara dalam bahasa inggris, tiada putus-putus, tiada jeda, tiada bosan, begitu terus sepanjangjalan, saat nunggu angkot saat duduk dalam angkot, kita selalu berkomunikasi dengan bahasa inggris. Aku dan david seperti radio dan baterainya, jika disaatukan, maka suara-suara hebat itu akan meluncur dengan deras tanpa diminta. Aku tak tahu apakah orang disekitar kami tersiksa oleh kami, tapi yang jelas, beginilah seharusnya mahasiswa bahasa inggris dalam persepsi kami. Tiap kali pulang, bergerombol menyusuri jalan manunggal, dengan pohon-pohon disisi jalan, aku membayangkan jika ini adalah salah satu adegan dari sekian banyak adegan hebat MARS. Dan aku adalah Vic Zhou nya! Aku benar-benar menikmati sensasi ini, dan sebagai representasinya,seulas senyum manis aku haturkan untuk alam semesta.ahhhhh…. luar biasa jalan manuggal ini, walaupun aku berjalan tidak bersama seorang Barbie Hsu tapi dengan pria kesurupan yang waktu kecil punya tabiat seperti kuda, suka berlari tanpa henti, dan entah dukun mana yang menyarankan orang tuanya menamainya Eko Khoirul David, tapi aku puas, sangat puas sekali. Sahabat-sahabatku itu adalah orang yang sempurna dalam spesiesnya masing-masing. Mereka adalah kekayaan ciptaan Tuhan yang bisa membuat jiwamu makin dewasa, makin indah, makin tegar.
Setiap kali masuk kelas, senantiasa aku merasa merinding bulu- bulu kudukku, terpukau melihat ruanganku yang luas itu hanya memiliki satu meja, meja untuk dosen, sedangkan kami para mahasiswa, duduk di kursi yang dengan suatu rancangan yang unik telah terdapat meja di sisi kananya, luar biasa! Aku belum pernah menemukan seperti itu sebelumnya. Meja dan kursi dikutuk menjdi satu. Aku tak bias membayangkan, alangkah sulitnya anak kidal yang kebagian kursi+meja kutukan seperti ini. Aku masih tidak percaya bahwa aku adalah mahasiswa.
Di antara anak perempuan yang berjejer itu, ada satu yang mengagumkan, dia tidak memakai baju ketat seperti yang lainnya, tapi tubuhnya aman dengan perlindungan jilbab anggun yang dikenakannya. Wajahnya menyiratkan kematangan jiwa, kata-katanya tegas dan matanya menundukkan. Wanita yang jika bicara mengangkat kepalanya tegak, dengan pilihan kata yang membuatmu harus cermat untuk menjawabnya, karena sepertinya dia akan menghantam tiap kata yng salah terucap dari lidahmu. Wanita itu punya nama panggilan yang aneh, mengingatkanku pada salah satu temanku yang jadi bulan-bulanan waktu SMA. Namanya adalah : Icang. Tapi, pemilik nama itu rupa-rupanya adalah seorang yang kejam, setelah perkenalan pertamaku dengannya, yang sebenarnya membuatku mengagumiya,kemudian berubah menjadisuatu terror yang tak kenal ampun. Hebatnya, saat itu Kampret juga merasakan nuansa terror pada Icang. Maka mulailah saat itu kami menganggapnya sebagai tokoh antagonist dalam kelas kami, kelas 2005 C. kami merasa bahwa Icang ini tak akan pernah setuju dengan gagasan-gagsan yang mungkin akan kami keluarkan, dan tidak akan pernah mau dekat dengan pria-pria kumal dan butut seperti kami. Kami merasa bahwa Icang adalah suatu representasi dari segala pertentangan yang ada pada diri kami. Dia adalah antithesa kami. Dan anehnya kami agak-agak takut kalau ada dia. David selalu tergila-gila mengajak teman-teman untuk senantiasa berkomunikasi dengan sesama mahasiswa bahasa inggris dengan memakai bahasa inggris, tapi dia akan jadi kikuk jika sekonyong-konyog Icang datang sambil melemparkan lirikan mata padanya yang menjatuhkan mental. Kala itu, kami sepakat untuk bertahan melawan aura jahatnya. Dan, kala itu, kami juga tidak tahu bawa putaran nasib bisa sangat aneh, sangat mengejutkan dan kadang tak masuk akal. Kami kala itu tidak sadar bahwa cerita dengan Icang akan berbuntut panjang. Kami tidak tahu itu.

5. INTRODUCING AURORA
Yang paling mengagumkan dari semua ini, bahkan lebih hebat lagi dibandingkan dengan film Kuch Kuch Hota Hai yang meledak itu, adalah bagaimana kita semua telah terkumpul dalam satu kelas ini, bagaimana kita dipersekongkolkan oleh Tuhan dalam kelas C yang bagiku penuh dengan kejutan-kejutan tak terduga. Kita samasekali tidak menyadarinya ketika tangan-tangan Tuhan menjalin benang-benang hidup kita yang awalnya terbentang sendiri-sendiri berubah menjadi satu anyaman indah. Dengan tanpa sadar sebenarnya, empat tahun ini telah membuat kita dekat satu sama lain. Sebagian dari kalian telah kumasuki rumahnya, melangkahi pintu masuknya, minum dari gelasnya, dan makan nasi dari piringnya. Alangkah luar biasanya semua ini. Apa bisa kau bayangkan betapa telah dengan hebatnya Allah mempertemukan kita semua?
Tak pernah sebelumnya kubayangkan di dunia ini ada orang yang bernama Cik Inturni, sebuah nama yang sejak tiga bulan pertama mengetahuinya membuatku tak pernah berhenti terkekek-kekek. Cin Inturni? Chick in Turning? Atau kanang, yang memaksaku untuk ingat Mansyur S, saat dia dengan wajah melas melantunkan lagu “ Kana, kaulah gadis impian “. Betapa miripnya Kanang dengan Kana! Atau Sholah, si wajah kotak seperti sabun lifebuoy, dengan jenggotnya yang berserakan membuat wajah kubusnya seperti lapangan sepak bola denagn rumput liar di sana-sini. Karena tubuhnya yang gede seperti Hulk Hogan, akhirnya kami memanggilnya DANRAMIL! Si Keamanan kelas. Aku masih ingat betapa pak Gatot tertawa saat mengetahui nama barunya itu. Bayangkan, pernah kau berpikir bertemu dengan orang-orang seperti itu? Bertemu dengan Kholis yang jika bicara maka alat bunyinya itu bisa bergerak sangat cepat memberondongkan kata-kata seperti senapan mesin otomatis yang mampu menembakan 5000 butir peluru dalam satu detik? Atau bertemu dengan Pukadin yang hampir gila mencintai Liverpool, bahkan suatu malam dia pernah bermimpi bekunjung ke Anfield Stadium, markas football club itu. Uniknya, aku yang tidak ada sangkut pautnya dengan Liverpool muncul dalam mimpi gilanya itu. Dan juga Isti’ah gadis Rembang yang sedari pertama kuliah kuminta memakai jilbab dan pada akhirnya diapun mengenakan pakaian sempurna itu, hingga jadilah dia bidadarinya kelas kami. Tapi tentu tak seheboh Amar, bujangan asal slawe yang entah apa alasannya Tuhan memberinya wajah mirip Amir Khan habis dihajar begundal kota Mumbay. Di awal kuliah, dia adalah penjahat yang suka menjawili para cewek, sehingga mengundang kemarahan teman-teman. Tangannya itu seperti besi dan magnetnya adalah mahasiswi-mahasiswi itu. Senantiasa tersedot utuk jowal-jawil. Begitu pula Istianah, pernah kau pikir akan bertemu wanita seperti itu? Aku tidak tahu apa yang bisa kutulis tentang dia, yang jelas dia pernah meminjamiku novel berjudul “Uncle Tom’s Cabin”, novel perjuangan negro Amerika melawan kejahatan rasisme. Novel yang membuatku terharu dan berkaca-kaca, dan Riris, orang yang disemester pertama kami nobatkan sebagai gadis paling ayu dikelas kami tapi akhirnya kita semua (para cowok) harus gigit jari. Ada pula Bidayanti, yang seluruh saudaranya bernama hamper sama: Bidayana, Budiyanto,atau jika ada lagi tentu akan bernama Bedanyata. Dan Mbak Ifa, Mbak Lina, kemudian Mbak Zizah, mereka harus aku panggil mbak karena merekalah yang pertama kali berkeluarga. Padahal awalnya aku berpikir bahwa aku yang mungkin pertama kali pensiun dari masa lajang, ternyata tidak.Dan tentang mengapa aku tidak kunjung menikah aku belum berani untuk melakukan analisa SWOT.
Diantara kami, perlu kukatakan, selalu duduk disebelah Hima, si anggun Chloe Sullivan, ya, jika kau nonton Smallville, kau tahu siapa itu Chloe. Di sini, dikelas ini, juga ada Chloe. Tak peduli jika kau sangat tidak setuju dengan aku tapi setidaknya mataku yang menderita minus 3 ini menyatakan betapa miripnya teman aku itu dengan Chloe Sullivan, Allison Mack itu. Dia, tentu saja tak lain tak bukan adalah Lina, mutiara didalam lautan terasi. Yang tiap kali pulang kuliah akan mengatakan “Aroma, wartel Aroma’ pada kernet saat mau berhenti. Maka jadilah kami menyebut gang rumahnya itu dengan sebutan “Aroma Therasy”.

Juni 08

Advertisements

Author:

tahu sendiri kan, di sini kau akan menemukan rahasia ku, tapi tolong, setelah kau temukan, simpanlah dengan aman bersama dirimu. terima kasih

3 thoughts on “Jika Aurora Berwarna Tiga

  1. Hi. friend. It’s so long time i hven’t met u. anythings go right? hmmm. this short story i’ve read years a go. cool i think.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s