• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

Jika Ada Kejahatan Dari Antara Kami Maka Ada Pula Kebaikan Untuk Kami Bagi

Bola mataku hitam, tidak bundar besar, atau sipit kecil. Tipe mata orang Jawa pada umumnya. Rambutku hitam agak ikal, kubiarkan panjang sampai bawah telinga. Hidungku? Biasa saja, tidak hilang amblas tidak juga mancung kayak mau lepas. Kulitku sawo matang. Tapi, karena aku orangnya suka kebersihan, kulitku tampak selau segar dan bersih. Dan, namaku Amir, Amir Syaifi. Tapi teman-temanku memanggilku Cepi, sebuah nama yang aneh. Mereka tidak sepenuhnya salah, karena keluargaku juga memanggilku demikian, dan teman-temanku hanya ikut-ikutan. Cepi. Pada ahirnya akupun menyukai nama itu, maksudku, aku pede dipanggil dengan nama itu. Sesuatu yang tragis pernah terjadi berkenaan dengan nama tersebut, saat SOS ngetop dengan Sephianya, akupun popular dipanggil Cepia. Gila. Itu dulu, saat masih di bangku SMA.
OK, kau sudah tahu tiga puluh persen tentang diriku, dan ada satu lagi yang ingin aku sampaikan. Satu hal yang paling kusembunyikan, yang mana dengan mengetahuinya, kau tak ubahnya dengan mengetahui tujuhpuluh persen tentang diriku. Sekarang, coba tebak, siapakah aku sebenarnya? Maksudku, orang apa aku ini? Kau tak kan percaya! Sungguh! Aku bukan orang Jawa, ya, aku bukan orang Jawa, aku seorang keturunan Tionghoa. Tapi, mengapa tampangku sangat menyimpang? Tentu saja, karena ayah ibuku bukan Tionghoa asli lagi, mereka berdarah campuran Jawa. Mungkin, segala kejawaan dalam darah mereka berlabuh dalam diriku. Sebentar! Lantas, apa menariknya? Apakah karena aku anak keturunan tapi berwajah tempatan membuatku menjadi menarik? Tentu tidak! Apa karena aku anak Tionghoa yang pintar? Tidak! Karena kadang pergi kuliah pakai sepeda ontel, tidak selalu pake motor? Tidak! Atau karena…tidak! Tidak! Bukan itu! Hanya karena menjadi keturunan Tionghoa tidak lantas membuatku menarik, apalagi dengan wajah yang nyleneh begini, tapi, ini menjadi “menarik” ketika keketurunanku mulai menjadi masalah bagiku, masalah bagi ketenangan hidupku.

Sampai di bunderan SMA 1, aku belok kanan. Jalan mulai menanjak. Dengan tenang kulewati bekas SMAku itu. Megah dan gagah. SMA 1 memang tempat anak-anak kalangan elit. Jika kau tidak benmar-benar berduit, atau punya prestasi selangit, kau tidak bisa menjadi bagiannya. Hampir semua lulusannya melanjutkan kuliah ke kampus-kampus besar di luar kota. UNMUH Malang, UNAIR, UGM, UNESA, dan sejenisnya. Tapi, kenapa aku-yang Tionghoa lagi berada-kuliahnya di Tuban saja? Di UNIROW? Ya, itu karena ibuku yang memaksa. Beliau tidak bisa tenang jika harus berpisah jauh dariku, anak semata waayang nya. Pokoknya ibu nggak rela! Kamu kalau mau kuliah, ya disini saja, titik! Demikian keputusan beliau satu tahun lalu, saat aku bilang mau kuliah di UGM. Bahkan, menurut beliau, tanpa repot-repot kuliahpun aku bisa hidup sukses. Cukup dengan turut berkecimpung mengelola tiga toko besar kami. Toko pakaian di jalan Pemuda, toko penyedia alat-alat dan perabot rumah tangga di jalan Basuki Rahmad, dan sebuah rumah makan di dekat alun-alun. Hei, jangan heran dulu, masih banyak yang lebih ‘wah’ dari kami. Memang kami orang –orang Tionghoa –kayaknya-jarang tidak lebih makmur dibandingkan orang setempat. Apalagi kalau sudah terjun ke dunia perdagangan, wuih, luar biasa! Mungkin berdagang adalah bakat alami kami. Maka tak heran, meskipun keadaan Negara sedang terpuruk, hal itu tidak terlalu bermasalah bagi kami. Kami telah bersiaga.
Keringatku mulai mengambang. Kelangkaan BBM datang lagi, harga BBM naik lagi. Aku tahu diri, frekwensi naik motorkupun kukurangi. Ibu selalu ngomel tiap kali melihatku berangkat kuliah naik sepeda. SPBU Sleko ramai, penuh sesak dengan orang yang ngantri beli BBM. Mereka lelah dan tak sabar. Aku menghela nafas. Negeri ini kaya, benar, semua tambang dan hasil hutan tersedia melimpah, tapi kenapa kita selalu susah? Kelangkaan BBM sering terjadi? Tarif listrik senantiasa naik? Kelaparan menimpa berbagai daerah-bahkan kemarin kubaca di koran ada yang sampai nekad bunuh diri karena tidak tahan menanggung lapar-padahal kita punya lahan yang amat luas untuk pertanian, dan, belum lagi tindak pelanggaran hukum yang terjadi hampir merata dimanapun kapanpun di tanah ini. Dan yang lebih membuat hatiku miris, adalah tindakan penimbunan bahan pangan yang dilakukan orang-orang Tionghoa-juga yang lainnya. Disaat kesusahan menikam, eh, malah ada yang tega mencoba mengeruk keuntungan. Dari situlah masalah tersebut muncul, kenyataan bahwa aku adalah seorang keturunan Tionghoa.
Saat masih SMA, apalagi saat kuliah sekarang ini, teman-teman sekolahku sering memperbincangkan masalah-masalah yang menimpa negeri. Dari masalah politik, kriminalitas, sampai social ekonomi. Dan jika pembahasannya sudah sampai kemasalah social ekonomi, kaumku, etnis Tionghoa, merupakan satu subjek bahasan tersendiri yang menggairahkan. Bukan sebagai kelompok yang dikagumi, bukan, tapi sebagai kelompok yang lebih sering dibenci dan dimaki, dikarenakaan ulah dari beberapa yang merugikan masayarakat. Bahkan, lebih parahnya lagi, akupun diajak berpartisipasi dalam perbincangan yang mengecam kaumku sendiri! (kok bisa? Karena mereka, teman-temanku itu, hampir semuanya tidak tahu kalau aku sebenarnya anak Tionghoa, hususnya teman kuliahku. Dengan penampilan njowo seperti ini, nama Amir Syaifi-orang Tionghoa di sini jarang yang muslim, tambah lagi tak jarang kuliah naik sepeda, membuat tak satupun dari mereka yang mau nekad berpikir bahwa aku seorang Tionghoa. Sedangkan teman SMAku yang tahu identitas asliku kuliahnya di luar kota). Aku benar-benar gila setiap kali ini trjadi.

Setelah lima belas menit bersusah-susah mendaki sepanjang jalan pahlawan, aku sampai di kampus. Pepohonan tinggi dan rindang berjejer di sepanjang jalan menuju kampus. Sejuk terasa. Aku menghela nafas. Berpikir entah berita apalagi yang akan dibahas di kelas oleh teman-teman. Tak jarang ada di antara mereka-yang aktif di organisasi kemahasiswaan-membawa koran ke kelas. Dibaca bersama, milih topik diskusi, terus diganyang ramai-ramai.
Karena itu, aku terus berusaha menyembunyikan siapa aku!
Kelasku terdengar ramai. Udin, ketua kelas kami, suaranya terdengar nyaring.
“Ah, keterlauan mereka! Masak di saat kelangkaan bahan pangan terjadi, malah beras ditimbun! Dasar vampir!”
Langkahku terhenti tepat di depan pintu. Dasar vampir. Huh, mereka pasti sekarang sedang membahas perbuatan buruk orang tionghoa. Padahal, masalahnya bukan itu, tidak ada monopoli kejahatan, tapi…
“Memang mereka itu egois, pengennya enak sendiri, tak peduli yang lain melarat,” Mely menambahi. Aku melangkah pelan. Mereka terus saja bicara. Mendengar semua itu, hatiku serasa pedih, geram. Ah! Ya, memang benar, ada dari antara kami yang jahat, maksudku, mereka tega mengeruk keuntunga dalan kesusahan, atau hal-hal buruk lain, tapi keburukan itu tentu bukan hanya ada pada kami, dan, ini menjadi masalah jika semua kami dianggap buruk, tanpa kecuali. Kejahatan dan kebaikan ada dalam diri siapapun dari etnis atau kelompok manapun, dan kita tidak bisa mengatakan bahwa satu etnis adalah satu kumpulan segala keburukan, kumpulan orang-orang jahat.
“Cep, kok keringatan gini, ngontel lagi ya?”
“Iya Har, BBM naik, jadi ya harus hemat.” Aku menjawab singkat.
“Nah, coba lihat, teman kita yang satu ini.” Giliran Salis bicara, “bangsa kita sedang menderita, banyak orang yang susah, atau semakin susah! Semua orang Indonesia! Seharusnya dalam keadaan seperti ini pemerintah lebih memperhatikan rakyat kecil. Belum lagi, sikap banyak orang kaya yang egois, bukannya menolong, malah menikam, mengeruk keuntungan dalam kesusahan! Seperti yang dilakukan si sipit di berita ini!” teman-teman yang lain pada berseru menyetujui. Beberapa menanggapi. Aku, aku hanya bisa menggut-manggut. Memang, aku seorang muslim, aku juga orang Indonesia, tapi, aku juga masih sangat sadar bahwa aku masihlah orang Tionghoa! Aku masih sadar itu! Dan, kesadaran itu, terasa pedih dan perih tiap kali disayat dengan…umpatan dan cercaan. Jelas mereka tidak menujukannya padaku, dalam pengetahuan mereka aku adalah orang Jawa tulen, tapi mereka sedang menyerang semua orang berdarah Tionghoa tanpa sadar, semua orang Tionghoa! Dan keasadaranku meneriakkan dalam hatiku, bahwa aku adalah masih orang Tionghoa. Itu yang membuatku terluka.
“Ya, benar, mereka emang pelitnya amit-amit”…

Aku duduk tak bergairah di ruang tamu. Buku Harun Yahya tentang kesalahan teori evolusi tergeletak di meja di depanku. Pikiranku melayang, tersangkut, jatuh pada kejadian di kelas siang tadi. Kejadian yang kesekian kalinya. Sentimen teman-teman pada etnis Tionghoa kurasa sudah keterlaluan. Bukankah itu kesalahan sebagian, mengapa seakan yang berdosa semua orang? Ah, orang susah memang pikirannya kacau, aku menggerutu.
“Seperti kemarin lagi Cep?” tiba-tiba ayah sudah duduk di sebelahku. Entah sejak kapan beiau sudah di sini. Aku cuman mendesah, mengangguk lesu. Memang selama ini aku selalu bercerita pada orang tuaku tentang semua masalah yang kuhadapi, khususnya hal-hal yang terlalu rumit untuk keselesaikan sendiri.
“Yah…mau gimana lagi, teman-teman mikirnya udah kayak gitu. Mereka tidak sadar bahwa sebenarnya tidak semua dari kita yang seperti itu. Bahkan banyak yang berjasa.”
“kenpa Cep?” ibu muncul dengan sepiring gorengan. Ah, mestinya beliau tidak tahu tentang ini. Tapi, sudah terlanjur kuceritakan kemarin-kemarin. “ketimbang kamu gak tenang, merasa tertekan tanpa bisa bernuat apa-apa, menurut ibu, mending gak usah terus kuliah Cep! Berdagang kan udah bagus, kamu bisa sukses tanpa kuliah!”
“ Aduh ibu! Bukannya nagsih solusi maah polusi” aku menggerutu. Ayah malah tertawa mendengarnya.
“Eh Cep, kenapa tidak kamu coba jelasin aja kalau tidak semua orang Tionghoia itu jelek. Mungkin mereka bisa mengerti. Belum pernah kau coba kan?”
“Gimana mau ngejelasin yah, mereka kayaknya sudah benar-benar …benci, anti, risih, apa sajalah. Lagian, tentu akan aneh bagi mereka jika tiba-tiba aku bela-belain orang Tionghoa.”
Sepi. Semua terdiam.
“kalau begitu, kenapa tidak cari cara lain?” Ayah melanjutkan. Matanya yang memancarkan wibawa itu menatap lurus mataku. “Ingat, satu perbuatan lebih kuat dari pada seribu kata-kata. Lakukan sesuatu!” Aku tidak mengerti maksud ayah, tapi beliau tersenyum, senyum yang membuatku semangat dan kuat. Ada sesuatu.

Lagi, kelas ramai dengan berita terbaru di koran. Tentang apa? Orang Tionghoa lagi. Ah. BOS CINA MENILEP GAJI KARYAWAN, demikian judul berita tersebut.
“Sialan mereka! Kenapa gak diusir saja sih dari sini!” Seseorang berseru.
“Dasar tidak tahu balas budi, udah dikasi numpang tinggal, hidupo enak, eh tega-teganya nyusahin orang, keterlaluan!”
Aku menahan nafas. Mencerna setiap kata. Menenangkan hati. Kuatur nafas, kusembunyikan segala kejengkelanku. Kemudian, aku berdiri.
“teman-teman, mohon perhatian!” Aku berseru lantang, ini sungguh tidak biasa. Mereka semua menoleh padaku, penasaran. Kuatur nafas sebelum bicara lagi. “selama ini, kita telah membaca banyak hal tentang bencana dan kerusakan yang menimpa negeri. Banjir, longsor, kelaparan, pengangguran, kelangkaan bahan pangan, dan banyak lagi. Kita juga membaca tentang ulah jahat manusia, diantaranya para keturunan Tionghoa.” Aku diam. Menunggu reaksi mereka. Mereka menatapku, menunggu. “Aku tahu, kalian peduli pada negari ini, pada saudara kita yang sedang ditimpa musibah. Kalian prihatin dan karena itu, kalian marah pada siapapun yang memperparah keadaan ini.”
“Ya betul.” Udin berseru. “Seperti yang dilakukan bos cina ini! Keterlaluan!” Kelas kembali riuh.
“Tenang, tenang, tenang teman-teman. Tahukah kalian, bahwa sebenarnya kita juga melakukan sebuah kesalahan? Kesalahan yang tidak sederhana!” Aku diam lagi. Mereka heran, beberapa bertanya, kesalahan apa? “Karena pemberitaan di koran tentang beberapa orang cina yang jahat itu, kita-kau tak tahu betapa susah payah aku menggunakan kata ini,kita-telah menganggap semua orang cina, semua keturunan Tionghoa adalah orang jahat! Pertanyaannya, apakah bijaksana jika kita menyamakan semua mereka sebagai orang jahat? Sedangkan sudah pasti tidak semuanya yang jahat!” kutatap wajah mereka satu-persatu. Wajah yang membuatku berdebar. Menunggu apa yang akan terjadi.
“Kau benar Cep!” “Wina bersuara. “Tidak sepatutnya kita beranggapan bahwa semua orang Tionghoa itu jahat hanya karena perbuatan beberapa dari mereka.”
“Sebentar teman-teman.” Kali ini Salis, aku tahu dia yang paling sentimen. “Mungkin benar yang disampaikan Cepi dan Wina, tapi, coba lihat, pada faktanya, mereka, orang –orang cina itu, benar-benar telah menyusahkan kita!” kelas kembali riuh.
“Salis, bukankah orang Jawa juga tidak sedikit yang memberi masalah pada negeri ini! Kau tahu itukan” Wina menanggapi.
“kalau demikian, apa buktinya kalau orang-orang sipit itu orang baik?” Salis menyerang.
“Tenang, tenang, tenang!” Aku mencoba menenangkan suasana yang makin kacau. “Bukannya aku ingin membela orang Cina atau mencipatakan perdebatan, aku hanya ingin mengingatkan satu hal, bahwa kita telah lupa satu hal, kita hanya mendapatkan satu jenis pemberitaan dari Koran, tentang keburukan mereka saja! Sedangkan kita belum pernah membuktikannya. Kalian tentu faham, dalam jurnalistik, bad news is good news.” Aku berhenti lagi. Rupanya kata-kataku barusan berpengaruh. Mereka diam dan menunggu. Ada juga yang tampak bingung, ngapain si Cepi ngomong kayak gini?
“terus, apa rencanamu?” Mely bertanya.
“Ya, benar, apa yang harus kita lakukan? Apakah kita rela terperangkap dalam pandangan buruk yang menyesatkan hanya karena berita Koran, atau kita harus membuktikannya sendiri kebenarannya? Ya! Mengapa tidak kita buktikan saja kebenarannya? Benarkah orang-orang cina itu, etnis tionghoa itu, jahat semuanya?”
Dengan selesainya kalimat terahirku ini, semua beban yang kutanggung serasa menguap, terbang dihembus angin yang menyelinap dari jendela. Dan menghilang di luasnya langit di atas sana. Kejahatan, kebaikan, keduanya ada bersembunyi dalam dada manusia. Semua manusia, tak peduli dia itu Cina, Jawa, Madura, Aborigin, Aria, atau apa saja! Keduanya sudah ada di situ. Dan, karena itu, kau temukan manusia yang jahat dan yang baik, tapi bukan bangsa yang jahat atau bangsa yang baik. Karena, sejahat apapun manusia dari suatu bangsa, diantara mereka tetap ada orang–orang yang berdiri penuh kebaikan. Juga sebaliknya.

Senin pagi. Tujuh orang mahasiswa lengkap dengan jas almamater berjalan menyusur trotoar sepanjang jalan Basuki Rahmad. Mereka membawa map, keluar masuk toko-toko megah di sepanjang jalan, toko-toko milik orang keturunan Tionghoa. Jadi? Ya! Aku mengajak mereka menggalang dana dari kalangan keturunan Tionghoa untuk disalurkan pada korban banjir di Widang. Kita buktikan, seberapa jahat mereka. Dengan sigap, teman-teman menanggapi usul ini. Berbekal surat-surat keterangan dari masing-masing organisasi mereka, kami mengadakan Aksi Bersama Peduli Korban Banjir. Dan yang terjun langsung, tentu teman-teman kelasku sendiri. Sebenarnya ini bukan ideku, tapi ide ayahku. Lebih dari itu, ayah juga mengajakku menemui para pemilik toko yang yang kesemuanya sudah kenal baik dengan ayah. Kami beritahukan bahwa besok senin akan ada penggalangan dana dari mahasiswa untuk disalurkan pada korban banjir. Dan, sambutan mereka sangat baik. Mereka sangat mendukung kegiatan ini. Tak lupa, ayah menitip pesan agar mereka berpura-pura tak mengenaliku. Saat ditanya kenapa, ayah menjawab santai, Cepi gak mau dapat istri wanita yang tertarik hanya karena dia anak Tionghoa. Ah ayah, ada-ada saja. Tapi, sebenarnya itu memang permintaanku. Aku masih ingin merahasiakan identitas diriku.
Hasilnya, benar-benar mengejutkan. Took pertama yang kami datangi took elektronik milik pak Hong. Dia menyumbangkan uang senilai duaratus ribu rupiah! Salis terheran-heran. Ini baru satu took, sedangkan yang akan kita datangi ada dua puluhan toko. Wah, jika masing-masing toko minimal menyumbangkan…..Ternyata benar, menimal mereka menyumbangka seratus ribu rupiah! Bukan hanya teman-teman, aku juga sangat senang. Semoga dengan ini, persepsi mereka berubah, batinku.
Tak terasa, sudah sampai di took nku. Took nalat dan perabot rumah tangga. Tapi, lihat, sebuah Jupiter MX parker tepat di depannya. Itukan motor Oom Hengky! Duh gawat, bisa terbongkar penyamaranku. Kamipun masuk ke toko, Wina yang bertindak sebagai juru omong, memulai pembicaraan. Ayah menyambut dengan hangat, Oom Hengky tersenyum ramah. Mereka bersikap seolah tak mengenalku. Hebat, pasti ayah yang memberi tahunya.
Wina berbincang dengan ayah sambil menunjukkan surat-surat keresmian dan tujuan kegiatan ini. Sesekali aku melirik Oom Hengky, dia tersenyum geli padaku. Pasti dia pikir aku ini anak yang aneh. Kemudian ayah mengeluarkan uang duaratus limapuluh ribu rupiah. Kulihat senyum kekaguman mengembang di wajah teman-teman. Pada saat itu, dari belakang, muncul tante Sulis, istri Oom Hengky.
“Ee…Cepi udah datang. Wah banyak ya yang ikut, Cepi hebat, punya teman yang peduli pada sesama…..” Tiba-tiba tante Sulis berseru lantang. Kami tertegun. Dia terkejut, seakan mengingat sesuatu yang penting, mata sipitnya membundar, wajahnya memerah, telapak tangannya menutup mulutnya. “ups…!” dia berseru lirih.
Aku kaget. Ayah kaget. Oom Hengky kaget. Teman-temanku? Mereka tersentak. Keterkejutan yang amat mengalir di pori-pori wajah. Dari menatap tante Sulis, berganti menatap ku. Heran, tak percaya, bahkan…gelisah. Toko ini terasa sepi. Derum kendaraan di luar tak bisa masuk kedalam. Gelisah dan tegang.
“Cepi…kamu…?” Mely lirih bersuara. Aku hanya bisa menarik nafas berat, tak berani menatap wajah mereka. Berat, berat sekali. Aku merasakan wajahku memanas. Mungkin malu, kecewa, bersalah, atau…entahlah, aku tak tahu pasti perasaanku saat itu.
“Cepi…?” Mereka bertanya, dan aku harus menjawabnya!
“Ya,…maaf teman-teman.” Ahirnya keluar kata-kataku. “Aku memang keturunan Tionghoa, tapi…apakah itu masalah bagi kalian? Aku hanya ingin menunjukkan pada teman-teman bahwa kami tidak seburuk yang teman-teman angka, setidaknya tidak semua dari kami. Memang benar, ada orang-orang jahat diantara kami, tapi bukan berarti semua dari kami, dan tidak berarti pula bahwa yang lainnya tidak melakukan kejahatan seperti yang dilakukan sebagian dari kami itu. Jika ada kejahatan dari antara kami, kebaikanpun ada untuk kami bagi.” Aku diam, rasanya amat sejuk setelah mengucapkan semua itu. Sesuatu yang telah lama ingin aku sampaikan pada mereka. Aku menunggu, menatap wajah mereka satu-satu. Mencari sebuah reaksi, sebuah penerimaan pada kenyataan.

Para mahasiswa itu berjalan dengan penuh semangat. Suaranya terdengar bahagia dan ringan. Berjalan beriring menyusur jalan Basuki Rahmad, dan langit di atas amat bersih dari gumpalan awan. Aku tersenyum, sepertinya ini senyum paling indah yang pernah menghias wajahku.

Arul Chandrana
Tuban 20 Maret ‘08

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: