Posted in sastra

INSTANT EVOLUTION

Sebelum kuceritakan semua katastrophy ini, perlu-tentu saja-aku beberkan dengan jelas muasalnya, akar dari semua ini, yaitu aku yang akan disantap oleh tiga penolongku sendiri!

setiap hari aku makan di warung di depan kampus. warung yang tentu saja lusuh karena rendahnya kelasnya. dan betapa aku ragu pada kehiegenisannya.

(selanjutnya, menu makan tidak pernah berubah kecuali minumnya, es teh atau es asem atau teh anget. Pecel super murah itu, seharga 2000, selalu topik sentral)

Aku kaget, tersentak tak karuan. Gila! Brekedel! Benci & takut luar biasa! Setelah beberapa hari tidak bercermin (dengan asumsi wajahku tidak akan berubah selama 5 tahun ke depan, wajah yang gitu-gitu doang), pagi ini saat aku bersiap ke kampus untuk beli sarapan pecel & es asem (ingat aku kuliah sore & sekarang hari Rabu), aku lihat bencana itu di cermin, wajahku sendiri yang tampaknya dengan kaget menatapku ya (tentu saja) kaget. Dalam cermin itu, heran….wajahku tampak seperti….setumpuk pecel seharga 2000 perak di warung depan kampus! Bukannya ini metaphor untuk wajah yang bangun kesiangan dan hanya cuci muka, tapi wajahku benar-benar jadi setumpuk pecel, pecel beneran!
Ya Allah Ya Rabbi, apa-apaan ini? Sihir sialan mana yang memantrai aku semalam?
Segera aku lari ke kamar mandi. Kucuci mukaku sebanyak-banyaknya, kuguyur dengan air bercanting-canting. Uh seger rasanya. Jelas aku rasa ada semacam benda rupa–rupa berleleran dari mukaku. Tapi, aku masih ragu……. Udah hilang gak unsur pecel itu ? Dengan hawatir dan harap-harap cemas, kuraba batang hidungku. Rasanya kesat, agak lembek, seperti……. potongan besar kacang panjang yang terguyur sambal kacang. Hah? aku pegang kupingku, apa ini? Sekeping tempe goreng pakai tepung yang keras dan kaku?! Dan, rambutku…….. kenapa besar –besar dan lembek seperti mi rebus tanpa merek yang biasa aku makan dengan nasi pecel? Aku menyeringai gemetar, lidahku menjulur-julur, menyepak-nyepak gigi…….bukan, bukan gigi…….. tapi butiran–butiran nasi yang tumbuh di gusi!!!
Brekedel !
Kalap, kumasukkan kepalaku kedalam jeding, tanganku nggerayang mencari-cari sikat cuci baju. Ketemu. Tanpa ampun sedikitpun, ku gosok keras–keras dengan sikat kasar itu seluruh bagian kepalaku. Krosak – Krosak- Krosak- Krosak. Kremesek bunyi bulu-bulu plastik kasar menghajar kepala pecelku berbaur dengan kecopak air. Aku tak perduli, bajuku basah semua, tak kuhirau! Aku terlampau risau. Selama penyikatan itu, ada perasaan seperti helai-helai mi rebus yang rontok, tempe–tempe yang gugur, kacang panjang yang ngelupas, dan butir–butir nasi yang tanggal. Hmm, beres dah. Ku entas kepalaku dari jeding yang airnya jadi keruh terkontaminasi pecel murahan. Bergegas aku berlari kecermin, dan, kau tanya bagaimana hasilnya sahabat? Kayak nasi pecel kejatuhan asbak seberat setengah kilo. Berantakan morat –marit! Dari sela-sela rambut mi rebus ku, keringat me…….bukan! Bukan keringat, tapi sambal pecel encer yang menetes, ya, sambal kacang itu!
Aku terjajar kebelakang menempel tembok, lalu, lungsur terduduk ke lantai berkeramik putih itu. Ada apa ini? Sihir siapa ini? Atau virus apa yang telah menyusup ke panci warung pecel itu sehingga membuat wajahku jadi seperti ini? Mengubah seluruh kepalaku malah! Tak ubahnya dengan sepiring nasi pecel yang telah dengan ortodoksi penuh selama 2 tahun ini selalu ku jadikan menu wajib, sarapan (yang mendekati makan siang) dan makan siang (mendekati makan malam). Adakah virus tanpa nama itu yang telah memicu evolusi sialan ini? Atau, aku terkutuk karena selalu menganiaya pecel selama 2 tahun belakangan ini? (maksudku, makan nasi pecel dengan kunyahan-kunyahan tanpa ampun, tanpa tatakrama makan). Bulu kudukku merinding, atau, bukan bulu kuduk lagi, tapi ekor-ekor tauge yang tak pernah dibersihkan dan tersaji di piring pecelku sehari–hari? Yang jelas, aku merasa merinding ketakutan.

Untuk pertama kali, aku mendengar suara selain suara–suaraku sendiri. Suara anak–anak tetangga yang ribut main bola. Aku merangkak ke jendela, mengintip dari balik tirai. Grrh………. pemandangan itu jelas–jelas mencekatku habis-habisan, membuat usus-usus perutku mengencang dan paru-paruku kembang kempis tak karuan. Di sana, dihalaman rumah itu, tampak anak –anak yang berkepala aneh seperti…….. sebentar, biar kuingat-ingat, seperti apa kepala–kepala mereka itu. Wujud yang bundar kasar, gemuk, coklat kehitaman…… lha kadala ! kepala itu….. adalah ote–ote! ote –ote! Ya, itulah ote-ote yang menjadi kepala mereka, dan, aku merasa sangat kenal dengan seluruh tekstur dan gaya ote-ote itu. Ote–ote itu …….. adalah ote–ote yang kadangkala tergeletak di atas piring nasi pecel sebagai peganti tempe goreng. Aku sontak tiarap. Ote–ote yang selalu ku makan dengan cara menggigit yang kejam dan brutal (karena digoreng terlalu kering) kini menjadi kepala-kepala bocah–bocah anak tetangga–tetanggaku.
Aku berguling-guling manjauh dari jendela. Berpikir keras, ya, entah bagaimana kepala pecelku ternyata masih bisa dipakai untuk berpikir. Aku harus keluar dari rumah ini, aku harus menemukan seseorang, seseorang yang bisa menyelamatkanku dari bencana ini. Tapi bagaimana? Bagaimana caranya bisa keluar dari rumah dan berkeliaran cari orang tanpa memancing perhatian dengan berkepalakan setumpuk pecel seperti ini? Sedangkan entah bagaimana, perasaanku yang halus berbisik bahwa di luar sana masih ada orang–orang berkepala kepala yang sebenarnya, mayoritas malah. Maka, akupun disiksa oleh hasrat untuk kabur yang amat dasyatnya.
Eureka! Aku temukan solusinya! Sebuah kardus bekas wadah mi tergolek sedih menunggu dimanfaatkan (begitulah kepala pecelku menafsirkan kardus itu). Segera ku ambil kotak ajaib penyelamat itu dan kutangkupkan ke kepalaku. Gelap, petang, mataku melihat tiada cahaya sebersitpun. Ku lepas kardus itu dan dengan suatu daya fikir yang menajubkan (aku sebelumnya tidak pernah berfikir secepat ini) ku tahu bahwa aku harus membuat lubang pengintai untuk bisa melihat keluar.
Pada suatu pagi hari Rabu, di sebuah perumahan yang tenang, seorang mahasiswa dengan kepala bertudung kardus mi lari pontang-panting lewat pintu belakang rumah tanpa sempat menutupnya lagi. Dia lari terus, tujuannya jelas, ke kampus! Pertama–tama dia ingin menemui si penjual nasi pecel itu, apakah dia, seluruh badannya, telah berevolusi menjadi nasi pecel seperti yang terjadi pada kepala satu–satunya itu? Maka, pemandangan mahasiswa semester lima berkepala tangkupan kardus tampak sangat eksotis di pagi itu. Meloncat–loncat gesit. Melintasi halaman demi halaman rumah–rumah mewah di kawasan itu.
Aku sampai di jalan raya. Suatu rasa lega yang menyublim dengan gelisah mengaduk–aduk isi dadaku. Jalan raya. Aku harus berlari 500 meter lagi untuk sampai ke warung depan kampus, sedangkan jalan raya ini tak pernah semenitpun sepi. Aku terpaku menatap lalu lalang kendaraan di depanku. Bayangkan, seorang mahasiswa Bhs. Inggris, semester lima, belum mandi, berdiri di pinggir jalan dengan kepala ditutup kardus berlubang dua untuk mengintai, betapa gilanya! (walaupun sebenarnya jika kardus itu di buka faktanya akan lebih gila lagi, manusia kepala pecel?!).
Dari dua lubang itu, aku melihat orang–orang di atas kendaraan masih berkepala normal. Rambutnya dari rambut, hidungnya benar-benar hidung, kuping yang masih asli, dan tentu masih bergigi asli pula. Dan, semua mereka menatapku seperti sedang menatap orang gila! Aku manarik nafas dalam, kusiapkan ancang–ancang untuk sprint 500 meter yang harus kutempuh dibawah hitungan waktu dua menit. Edan, begitu aku mulai menghitung mundur, empat, tiga, dua,……….sebuah suara keras menamparku dari samping.
“BBM harus turun! BBM harus turun! BBM harus………. “ Suara ratusan orang itu menghentak seluruh persiapanku untuk sprint. Aku limbung.
“Saudara–saudara mahasiswa, kenaikan BBM akan semakin menyengsarakan rakyat yang memang sudah sengsara! Kelaparan akan semakin meluas, nyawa tak berdosapun bisa menghilang! Anak–anak bisa putus sekolah! Ibu–ibu tersiksa mencari makan buat keluarganya!“ Suara orator ini makin mendekat. Aku berusaha untuk menghindarkan diri dari keterjebakan dalam demonstrasi mahasiswa ini (dari almamaternya, aku tahu mereka dari kampusku juga).
“BBM naik akan membuat si miskin seperti cacing terbakar, bahkan akan membuat rakyat menjadi………”
Tapi, kesialan itu datang juga akhirnya. Si orator menubrukku yang sedang muter–muter cari jalan keluar dengan kedua tangan susah payah menjaga agar kardusku tidak terpelanting. Orator inspirator itu terdiam beberapa jenak. Lalu, dari sorot matannya, seakan dia itu ilmuwan yang menemukan suatu teori yang telah puluhan tahun dia cari tentang suatu gejala alam. “….akan membuat rakyat menjadi berkepala kardus!” Teriakannya ini disambut yel-yel perjuangan para mahasiswa, lalu si orator menggamit lenganku, menyeretku!
“Lihatlah saudara-saudara! Karena BBM naik, orang tidak bisa makan, kelaparan sepanjang hari! Lalu, kepala macam apa itu yang tidak makan sepanjang hari? Benar saudara-saudara, kepala kardus! BBM yang naik akan membuat kepala-kepala rakyat jelata berubah menjadi kepala kardus! Tidak bisa makan tapi pasti kelaparan!”
Aku pontang-panting ingin melepaskan diri, tetapi para mahasiswa itu menarikku bahkan mereka kini menjadikanku sebagai spanduk sempurna demo penolakan kenaikan BBM. Kami long march, gemuruh dengan yel-yel menuntut penurunan harga BBM. Dalam kalutku, tiba-tiba aku merasakan suatu situasi berbeda, situasi kacau yang mendadak sedang berkecamuk. Aku rasakan puluhan mahasiswa lari seliweran di sekitarku. Pontang panting. Dari lobang kecil pengintai, ternampak betapa para mahasiswa terjengkang, jumpalitan. Entah sesuatu apa itu yang mengocar-ngacirkan mereka. Aku tiba-tiba ikut galau, seperti sambal kacang yang diaduk keras-keras. Lalu sekonyong-konyong sebuah tangan dengan perkasa dan garang menampar tudung kardusku, “Kabur! Selamatkan diri!” pemilik tangan Hercules itu berseru. Aku melihat bagaimana kardusku melayang lalu jatuh ke aspal hitam, belum sempat berguling puluhan pasang kaki menginjak-injaknya ludes. Kardus itu jatuh di rute penyelamatan diri para demonstran.
Seakan kejang seluruh tubuhku. Kepala pecelku terbuka untuk umum, tanpa penutup tanpa pelindung. Seorang mahasiswa di tengah kerumunan mahasiswa yang kocar-kacir, berkepala setumpuk pecel, bayangkan! Tanpa pikir panjang lagi, segera aku turut lari, meliuk-liuk di antara demonstran. Untunglah kepanikan mereka tidak membuat mereka peduli pada kepalaku ini. Aku terus meliuk-menyusup-mengendap-melompat dan akhirnya berhasil keluar dari gerombolan mahasiswa. Sangat pengen sebenarnya untuk tahu apa yang mengacau balaukan demo mahasiswa ini, tapi kekhawatiran terlalu mencekam untuk membuatku peduli pada selain lari menyelamatkan diri. Akupun kabur lagi.
Di suatu permulaan siang, dihari Rabu, seorang muda lari kalang-kabut di antara rumah-rumah renta. Meloncat-loncat. Dan, kepalanya adalah setumpuk pecel morat-marit. Bayangkan.
Aku berlari terus sekencang-kencangnya, dan, kul de sak! Jalan buntu! Aku tak pernah kesini sebelumnya, dan kini aku tersesat, salah jalan berujung di jalan buntu, lututku goyah. Aku langsung lari berbalik arah dan didepan sana…..orang-orang kelaparan.

Laki-laki dan perempuan kumal itu tergeletak di pinggir jalan. Mereka tidak saling bicara, hanya bergelimbung-limbung saja. Kedua tanganya memegangi perut, sedang wajahnya pucat kuyu. Mereka kelaparan. Entah sudah berapa hari mereka tak makan sampai-sampai anak kecil tak lagi bisa menangis. Putus asa memegangi tetek ibunya yang kempes tak berair. Dari balik gerobak sampah yang isinya terburai keluar, aku mengintai. Jelas sekali gerobak sampah ini telah dijarah beberapa waktu lalu oleh manusia-manusia lapar itu. Tuhan, bencana apa ini?
Angin semilir menelisik dari celah-celah rumah, membelaiku, lalu hilang dikejauhan. Aku yang keletihan meringkuk tanpa tenaga dibalik gerobak sampah, aman disini. Angin semilir itu pelan-pelan menyeret letihku pergi. Mataku pejam. Dan aku tak menyadari apa yang berlaku disekitarku. Orang-orang kelaparan yang bergelimpangan itu mendadak kejang, tersentak kaget dari ketakberdayaan. Matanya terbuka, menatap nyalang. Hidungnya kembang kempis. Seakan ada suatu tenaga supranatural yang dihunjamkan ke tulang-tulang dan otot mereka, mereka semua bangkit berdiri, tak satupun tersisa. Besar-kecil, tua-muda, laki-perempuan, berdiri tegak dengan muka garang. Sejenak mereka saling toleh, seakan merundingkan sesuatu yang belum pasti di benak mereka. Angin semilir itu datang lagi. Mata mereka berkilau-kilau, hidungnya kembang kempis mendeteksi suatu bau, kemudian suatu senyum puas yang ganas diseringaikan. Pecel! Aku mencium pecel! Ya, pecel!
Sebuah suara parau wanita muda melengking, dari situ! Dari gerobak sampah itu! Yang lainnya, orang-orang kelaparan yang tak makan beberapa hari belakangan, menoleh ke arah yang ditunjuk oleh wanita tadi. Gigi kuning kehitaman dimulut mereka menampakkan diri, representasi dari suatu kebuasan yang dipicu oleh insting yang paling dasar dari makhluk hidup, naluri mempertahankan hidup! Mereka tak bisa lari, jalan terseok-seok, tangan menggapai-gapai, dengan wajah yang mengerikan, ah, zombi! Pecel….pecel….pecel….pecel…..mereka menyeru berulang-ulang.
Suara berisik itu menyadarkanku dari keadaan antara jaga dan tidur. Jantungku berdegup. Aku mendengar kata pecel diulang berkali-kali. Siapa? Dari mana? Kusapu seantero jalan mencari sumber suara. Dan dari celah gerobak sampah, tak kurang dari 20 meter didepan sana……puluhan manusia kelaparan itu berjalan tertatih-tatih, terseok-seok. Mereka yang menggaungkan pecel pecel-pecel itu! Komprat! Mereka jelas menuju ke sini, ke gerobak persembunyian ini. Mereka tahu ada pecel (yang tidak mereka ketahui adalah bahwa pecel itu adalah kepalaku), dan jelas sekali mereka sangat bernafsu untuk menyantapnya. Tak ada waktu untuk berpikir, ku harus segera bangkit dan menyelamatkan diri.
Terkesiap orang-orang kelaparan itu, berdiri tertegun, kaget. Musykil. Didepan mereka, di balik gerobak sampah berdiri seorang laki-laki yang ternyata kepalanya adalah setumpuk pecel. Angin yang bertiup mengibar-ngibar helai mi rebus, membawa aroma pecel makin kuat ke perut-perut kosong mereka. Manusia pecel? Grrrh…….makaaaaaa…n! Sebuah pekik komando entah dari siapa melenting ke udara. Para zombie itupun tersadar dari keterpukauannya, sialnya, demi melihat pecel dengan mie yang mengibar-ngibar membuat mereka makin liar. Kini mereka tidak berjalan terseok-seok, tapi berlari, berlari memburuku! Sambil tentu saja, memekikkan kata pecel dengan brutal.
Lagi, kulari lintang-pukang, pontang-panting, jatuh terjengkang, bangun lagi, lari lagi. semakin kencang ku lari, semakin semangat mereka membuntuti, persis adegan kejar-kejaran para keluarga kerajaan yang sedang berburu musang. Aku lari tanpa tahu arah, lebih buruk lagi, dari tiap celah rumah, bermunculan orang kelaparan yang lain lagi, turut bergabung dalam perburuan yang sama sekali tak manusiawi ini. Ketakutan mulai pelan-pelan mendominasi diriku. Keringatku-sambal kacang encer-makin deras mengucur, dan itu malah membuatku beraroma makin lezat. Makin menggiurkan. Ke sini! Hei, ke sini! Dalam keputusasaan yang menyebalkan, terdengar penggilan yang selembut pertolongan. Aku tolah-toleh mencari asal suara. Itu dia! Seorang paruh baya bertengger di atas sepeda onta reot dibalik jejeran papan yang disandarkan ke tembok rumah. Matanya mengerjap, mengundangku naik sepedanya. Aku mengerti. Lekas-lekas aku berlari ke dewa penolongku itu, tepat bersamaan dengan ratusan orang yang makin dekat memburuku. Tiba-tiba muncul dua orang pemuda, mereka tumbangkan papan-papan sehingga menutup akses jalan untuk mengejar kami. Setelah semua papan tumbang, kami berempat kabur sekencang-kencangnya, lari sejauh-jauhnya dari ratusan orang kelaparan yang kini sibuk mengangkati papan yang melintangi jalan. Ke sungai! Ke sungai! Si tua yang memboncengku memberi instruksi kepada dua pemuda.

Aku terlentang, membuka tangan dan kakiku lebar-lebar, membiarkan matahari pukul tiga sore menghangatkan seluruh sendi dan syarafku. Gemericik aliran sungai disebelahku sayup membisikkan damai. Air mataku tanpa terasa berlinang, deras mengalir (dan baru ku sadar bahwa kedua mataku adalah ternyata dua butir telur dadar mata sapi. Air mata itu, tentu saja sambal kacang yang sangat encer). Dadaku gemetar, seluruh tubuhku juga, kuingat-ingat lagi semua peristiwa delapan jam terakhir, kepalaku yang tiba-tiba jadi pecel murahan, terjebak dalam demonstrasi mahasiswa pembela rakyat, dikejar-kejar oleh rakyat kelaparan yang berhari-hari tak makan, kemudian diselamatkan tiga orang asing yang baik hati. Oh Tuhan, apakah ini neraka? (tapi, mana apinya?) Tapi, mengapa sangat mencekam? Dunia macam apa ini? Yang membiarkan manusia menjadi hewan yang menerapkan aturan-aturan yang menghewankan kemanusiaan? Sayup kudengar denting yang akrab sekali, denting yang….terdengar jika sendok berdu dengan garpu. Apa?
Aku tersentak. Buru-buru bangkit duduk. Dan tak jauh dariku. Tiga penolongku itu dengan tersenyum manis, memasangkan serbet kepangkuannya, kedua tangannya menggapai sendok & garpu, mengadunya pelan. Ting-ting. Aku terlongo, shock! Mereka….
“Ayolah, kami sudah dua minggu tak makan, kemarilah biar kami cicipi pecel yang menutup kepalamu itu.”

Tuban, 28-05-08

Advertisements

Author:

tahu sendiri kan, di sini kau akan menemukan rahasia ku, tapi tolong, setelah kau temukan, simpanlah dengan aman bersama dirimu. terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s