• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

mencermati peringatan maulid di Bawean

ada masa-masa dalam masyarakat kita , di mana kita perlu bertindak : “ya, ini harus dan perlu untuk dipertahankan!” juga untuk bertindak: “ya, ini harus segera dihilangkan, ganti dengan yang baru!” masa-masa untuk melakukan itu pasti ada dan akan datang dengan sendirinya dengan rapi ke muka kita. masalahnya, maukah kita untuk membuka mata melihat kehadirannya? dan cukup legowokah kita untuk menerimanya? pertanyaan ini, kadang, cukup menjengkelkan untuk kita sadari keberadaannya.

kenyataannya, ketika kita berbcara tentang budaya dan tradisi harus kita pahami dan terima bahwa jika tradisi-tradisi tertentu masih dengan membabi buta kita kokoh pertahankan, justru itu akan membuat kita tampak tak ubahnya dengan sekumpulan orang konyol. menjengkelkan memang, tapi begitulah.

di kumalasa, maulid nabi senantiasa meriah dirayakan. meriah karena perayaan tersebut mampou menyedot dana dan atensi yang luar biasa hebohnya. bahkan, sebenarnya kata kumalasa kurang tepat untuk kasus ini, tentu saja, itu terlalu sempit, karena pada faktanya, peringatan maulid ini rterjadio di seluruh bawean, tanpa kecuali. bahkan prakterk serupa bisa pula kita temui di luar pulau. orang-orang membawa bak besar yang telah dihias dengan kertas warna-warni ke masjid pada hari perayaan. di dalam bak itu, luar biasa sekali, sebagaimana lampu ajaib aladin, kau akan menemui segala macam barang keperluan rumah tangga di dalam situ. mulai dari beras, minyak goreng, gula paasir dan gula merah, kain, sarung, wajan, panci, periuk, roti, susu, biskuit, ayam panggang, telur rebus, segala macam! bahkan aku curiga mereka akan memasukkan televisi ke dalam baknya jika seandainya itu tidak akan menyulut perang di rumah. sebuah bak, bisa berbobot mati sampai 25 kg, bahkan tidak mengherankan jika ada yang lebih berat lagi. dari seluruh penjuru kampung, akan kita saksikan iring-iringan yang luar biasa meriah. ini akan mengingaatkan kita pada perayan-perayaan umat hindu di bali. setelah berkumpul di masjid, bak-bak itu akan diatur oleh panitia dan kemudian secara acak akan dibagikan pada peserta perayaan maulid. masalahnya, tidak semua keluarga mengisi baknya dengan jumlah yang begitu spektakuler, ada pula yang isinya agak sedikit, dan ketika si pengisi bak yang banyak mendapat bagian yang kecil, kemelut pun tersulut. sebagaimana yang tak jarang kita saksikan pada tahun 2000an ke bawah. sekarang intensitasnya mulai berkurang.

sekarang, mari kita bergeser sedikit. mari kita menjadi ses.eorang yang mengamati dan memikirkan. dari survey yang kami adakan terhadap sebagian pemuda/remaja kumalasa, mereka memahami perayaan maulid ini adalah untuik memperingati kalahiran nabi besar muhammad saw dan meneladani beliau. nah, di sinilah kemudian perayaan maulid di bawean ini terpeleset. esensinya terlupa dan hanya melihatnya darios isi ketradisiannya saja. saya berbicara tentang penghamburan dana yang luar biasa besar, di sini. bayangkan, setidaknya, untuk mengisi bak maulid sebuah keluarga mengeluarkan dana sekitar 700 ribu, atau kurang sedikit dari jumlah itu, dan yang lebih banyak dari itupun tak sedikit. ada yang smapai mendekati angka satu juta!sekarang mari kita bikin perhitungan, kita rata-ratakan pengeluaran tiap keluarga 700ribu, sedangkan jumalah keluarga (kk) di kumalasa (anggap) ada 250 kk, maka dalam perayan maulid tahun ini, telah keluar dana sebesar 175.000.000! bayangkan, SERATUS TUJUH PULUH LIMA JUTA RUPIAH! dana sebesar itu habis hanya untuk membeli makanan untuk memperingatiu nabi dengan hasil yang tidak biosa dirasakan. bukankah ini keterlaluan dan pemborosan? setiap peringatan maulid yang diselenggarakan usai, dan orang-orang pada berhamburan dari masjid, begitu mereka saling bertemu di jalan pulang, berkumpul di ruimah masing-masing, tahukah anda apa yang diperbincangkan umat muhammad itu? bukan tentang isi ceramah apa lagi visi dan misi yang di bawa baginda rasul, tapi: seberapa berat berkatmu? itu milik siapa? punyamu jatuh ke tangan siapa? ada ayamnya gak? sialan, berkatku sangat ringan! itulah yang jadi tema pembahasan. lantas, untuk apa semua ini? penghamburan dana ini? jika tidak ada apa-apa yang didapat oleh umat selain kakanan. dan, tentu saja, sebagaimana dalam lingkungan sosiololgi manapun, yang paling payah pulangnya ke rumah adalah para tokoh masyarakat, kenapa? karena beliau-beliau itulah yang mendapat bak paling besar dan paling berat! bukankah seharusnya orang-orang miskin melarat yang selalu kekurangan makan yang mendapat bagian spektakuler itu?

SOLUSI

aku membayangkan, model peringatan maulid mubazir seperti itu suatu ketika di masa deopan nanti akan hilang. sebagai gantinya, dana yang besar itu dikumpulkan untuk kegiatan yang lebih bermanfaat. bisa berupa pembangunan perpus desa, atau olimpiade keilmuan untuk para pelajar, pembangunan sarana desa yang penting, jalan, pengairan, penerangan, dll. bahkan, hayalan paling radikalku membayangkan akan ada yang namanya: BEASISWA MAWLID NABI. semua dana dialokasikan untuk membantu mereka yang kesusahan dalam pendidikan, putra-putra kumalasa yang cemerlang disekolahkan ke jawa atau bila perlu ke sorbone university!. atau, dana itu sisantunkan uintuk orang-orang melarat. subhanallah, alangkah indahnya kampung kumalasa jika itu terjadi nanti.

suatu ketika beberapa tahun lalu, aku membicarakan ini dengan seorang temanku, kubeberkan ide ini dengan terlebih dahulu menjelaskan kekonyolan perayaan mawlid sekarang ini. hebat, dia sangat setuju, tapi apa jawabnya kemudian, setelah beberapa jenak merenung? katanya, “apa yang kau harapkan dari kampung yang terpecah belah begini?
aku pun hanya diam. dan berpikir. malam harinya, sebelum tidur, aku berdoa agar berkat yang paling besar jatuh ke tanganku besok.

    10-Maret-2009

2 Responses

  1. bagus idenya…
    saya termasuk orang yang tak setuju pada perayaan-perayaan model bawean itu..

    but….
    biarlah itu menjadi sebuah ”surga”. Orang-orang di kampung kita itu sudah lelah lahir batin… sulit mendapatkan pencerahan karena tak pernah ingin mencari cahaya…
    jadi biarlah, maulud yang setahun sekali itu menjadi tempat mereka melepas lelah…

    kita tak pernah tahu… walau saya membayangkan, suatu saat di masjid baiturrahman kumalasa itu, saya menjadi ketua panitia maulud nabi, dengan acara pembacaan salawat, dizikir dan ceramah… tak lebih…
    tak ada yang mengangkat ”berkat” dengan biaya ratusan hingga jutaan rupiah itu..
    ==
    atau mari, kamu saja yang membayangkan itu….

  2. Duhai Kumalasa yg memberi kenangan indah… Luar biasa dermawan orang2nya! Salamku utk Rendy Abdul Jalil. Katakan padanya aku masih hidup!! Aku meminta maaf padanya… Terimakasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: