• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

Isyarat Mar

Ombak lembut bulan Mei merambat-rambat tenang. Membasahi pasir pantai berwarna kelabu. Pasir pantai ini begitu lembut. Dingin. Rapuh dipijak, nyaman bagi siapapun yang berjalan di atasnya. Dan desah angin mengisik daun-daun kelapa meremangkan bulu ketakjuban di sekujur badan. Aduhai, alangkah indah nan damai. Betapa Tuhan mencipta ini semua. Pantai Labbhuan.

“Can you smell it? Can you smell it, Alice? Virgin sea,” Bill berbicara sembari memejamkan mata. Merentang kedua tangannya lebar-lebar, menghadap ke laut, menerima deru angin dari tengah samudera sana, menghirup nafas dalam-dalam. “Take a deep breathes, Alice.”
Di sebelahnya, bule perempuan bernama Alice pun melakukan hal yang sama. Kaosnya berkibar dipermainkan angin, membentuk lekuk tubuhnya. Celana gombrongnya berkibar. Membentuk kakinya yang langsing. Aku nyengir melihat mereka.
“She’s an old virgin sea, Bill.” Jawab Alice, “I even can taste the hope of the fishermen fishing out there.”
Tak masuk akal, desisku. Alice ini tadinya mati-matian hendak memakai celana pendeknya yang hanya menutupi beberapa centi dari pangkal paha. Dan hanya mengenakan singlet biru tuanya. Tapi, tak kalah sengit pula, aku menolaknya. Mengijinkannya mengenakan pakaian seperti itu sama saja dengan bunuh diri bagi ku.
“I’m sorry miss, I’m afraid you can’t put them on. I have told you, right? It’s forbidden.” Namun begitu, sangat sulit membujuk Yankee keras kepala satu ini. Meski berulang kali ku jelaskan para ulama’ dan tokoh masyarakat melarang turis berkeliaran dengan pakaian mini seperti itu, dan resiko pelanggaran dari larangan itu sangatlah besar¬–industri pariwisata yang baru terbentuk embrionya ini akan dihentikan tanpa kompromi lagi, dia tetap tak mau tahu. Mungkin 10 atau 20 tahun lagi ini tidak akan jadi soal, tapi sekarang, saat ini, segala hal yang bisa menimbulkan masalah harus benar-benar dihindari. Sejauh-jauhnya.. Dan kami, para guide, bertanbggung jawab besar untuk itu.
“Yeah, but they won’t see us right? Those old odd people won’t hang around the beaches, right?” Alice terus membantah. Dan aku merasa panas mendengar dia menyebut tokoh masyarakat dan para ulama’ dengan sebutan old odd people, orang kolot aneh, memangnya kau pikir dirimu siapa? Geramku dalam hati. Jika bukan karena posisiku sebagai guide, yang dituntut untuk senantiasa professional, ramah, dan sabar, pasti sudah kulabrak Yankee ini.
“Off course they won’t. But they have men around. And we can’t recognize them. They could be fisherman, woodlander, food seller, or…anybody!” Aku bicara agak keras. They have spies around, huh?! Alice mendengus pelan. Belum hendak melepas pakaian mininya itu. Aku menoleh pada Bill, menatapnya minta bantuan. Syukurlah, pria 40an tahun, yang katanya dari Wales ini mau mengerti. Dia membantuku menjinakkan Alice. Dan akhirnya diapun menyerah. Berganti pakaian. Kami menunggunya di luar. Dia muncul dengan kaos bergambar patung liberty di depan dan celana gombrong warna coklat. Di tangannya ada sesuatu. Apa itu?
“Would you put it in your bag?” Dia meminta. Dahiku berkernyit, tak lepas mengamati sesuatu yang digenggamnya itu. Oh, gila! Dia akan memakainya nanti? Di pantai? Aku mengelengkan kepala tegas. Sorry, desahku, it’s not kuta yet, miss. We’re here. Dia masih mau mebantah lagi, tapi Bill bersuara, c’mon Alice. Dan Alice pun berbalik dengan muka cemberut, mengembalikan bikininya.

Udara di Labbhuan amatlah segarnya. Sejuk. Di bibir pantai, berjejer rapi pohon-pohon kelapa berusia puluhan tahun tinggi menjulang ke angkasa. Sebagian condong ke laut, tak kuasa menahan terpaan angin. Di bawah pohon-pohon itu, bejejer sampa-sampan milik nelayan kampungku.
Kami melanjutkan perjalanan ke barat. Perlahan pasir kelabu yang lembut, berganti pasir putih seputih susu yang kasar. Terasa agak keras di kaki kami yang telanjang. Kami melintasi kali kecil berair tawar. Ini bhoru-bhoru. Aku ingat, waktu kecil diulu ibu sangat melarangku bermain dekat-dekat sini. Rumah iblis. Buaya putih. Setan pemakan anak kecil, borongotan. Baru setelah dewasa aku tahu bahwa semua itu hanya bualan belaka. Bagaimana mungkin aku akan tenggelam di kali yang dalamnya hanya setengah betis ku? Tempat ini suram dan seram pun karena kerimbunan rumput menjangan yang tumbuh di sekitrnya, dan sebatang pohon tengghojungan tua yang melintang di atas kali kecil ini. Sedangkan buaya putih, jangankan buaya yang berwarna putih, yang hijau kehitaman saja tidak pernah kelihatan. Alice dan Bill berceloteh terus mengagumi keindahan pantai ini. Di depan sana, tinggi menjulang dengan kokoh menyunduk langit, berdiri gunung Martalajor.
Jika bukan karena gigihnya kami, perjalanan seperti ini tidak akan pernah ada. Walaupun pemerintah kabupaten sangat menggebu hendak menjadikan pulau bawean sebagai pulau wisata–tak dipungkiri betapa cantik menawan alamnya, tapi para tokoh masyarakat dan ulama’ menentangnya dengan sengit.
“Mau kalian jadikan apa generasi muda pulau ini?” Gemeretak kegusaran itu mengelegar selama musyawarah antara tokoh masyarakat dan ulama’ dengan orang-orang kabupaten di pendopo kecamata sangkapura. Gemuruh.
“Pak kyai,” menjawab seorang perwakilan pemerintah, ”kami tidak bermaksud menjadikan Bawean layaknya Bali, tidak. Tidak akan ada café, pub, diskotik, klub malam atau papun itu yang sejenisnya, kami justru ingin membuka peluang kesejahteraan yang lebih besar bagi masyarakat Bawean. Para turis akan menginap di rumah-rumah penduduk, orang bisa berjualan di tempat-tempat wisata, bahkan nelayan tak perlu ka tasek lagi kalau mereka mau, tinggal menyewakan sampannya pada para turis, dapat uang.”
“Ya, hari ini tidak ada pa-apa, tapi, 10 tahun kemudian… 15 tahun kemudian… kau ingin memurtadkan pulau ini, hah?!”
Sungguh sengit satu minggu itu,. Kedua pihak sama-sama ngotot. Tapi satu hal terlewatkan oleh para sesepuh pulau Bawean, mereka tidak berhasil mendapatkan dukungan ummatnya. Sedangkan orang-orang pemerintah itu, sangat lihai geraknya. Mereka sebarkan selebaran pada para penduduk menerangakan peluang ekonomi yang akan muncul bersamaan dengan berubahnya pulau Bawean menjadi pulau wisata. Dan yang lebih telak lagi, mereka berhasil mendapat dukungan para pemuda terpelajar. Di tiap kampung ada perwakilan pemerintah mengordinir pemuda untuk menyukseskan rencana ini.
Aku yang baru lulus kuliah, di kontak temanku untuk segera pulang kampong. Dan karena aku tinggal jauh di temapt yang hanya aku orang Baweannya–sejauh pengetahuanku, aku tidak tahu apa yang sedang bergolak di pulauku itu. Dan betapa kagetnya aku setelah tiba di kumalasa, kampungku, hampir semua putra Kumalasa yang telah lulus kuliah berkumpul di sana.
“Kita sebagai generasi muda dengan visi jauh ke depan, bertanggung jawab demi menyukseskan program Pulau Bawean Pulau Pariwisata ini.”
Dan begitulah semuanya tejadi, seperti di belahan bumi manapun, perubahan tak bisa dihindari, yang bisa dilakukan hanyalah menunda kedatangannya. Dan kini, di pulau Baweanku, itu telah tiba harinya. Bawean pun jadi pulau wisata dengan serangkaian persyaratan dari para ulama’ dan tokoh masyarakat yang harus dipatuhi para penggerak bisnis ini. Dan aku, seorang mahasiswa lulusan jurusan bahasa Inggris, memilih menjadi guide, mengisi peluang tersebut. Memandu para turis yang banyak berdatangan, domestic maupun asing. Mengantarkan meraka ke tempat-tempat mengagumkan dan menyuguhi mereka dengan cerita-cerita rakyat daerah setempat. Dan kalau tak ada, akupun mengarangnya. Dan tak jarang, karena bosan dengan cerita lama, cerita-cerita itu aku ganti dengan cerita hasil imajinasiku sendiri, yang jauh lebih fantastis. Siapa yang perduli?

Malamnya aku tergelatak letih. Penat. Kencang di sekujur badan. Perjalanan Kumalasa-Labbhuan menempuh 5km yang menyakitkan. Karena Kumalasa terlatak di atas gunung, kami harus menuruni punggung gunung terjal dengan jalan jelek berbatu-batu, berkelok. Dan saat pulang, kembali harus merayapi punggung gunung yang sama, jalan menyakitkan yang sama. Tapi aku heran, para bule itu malah kesenangan.
Malam itu aku tak bisa tidur, begitulah kalau aku sedang kecapean. Tapi, malam ini, bukan hanya karena itu, melainkan karena apa yang kutemui siang tadi. Lebih tepatnya, karena siapa yang kupapasi siang tadi. Mar. Mar, perempuan tak waras yang ternyata masih hidup sampai hari ini. Tanpa sengaja kami berpapasan dengannya dalam jalan pulang. Dia memakai penjhung berisi buntalan pakaian yang digendongnya layaknya bayi mungil yang sedang tidur nyenyak─persis seperti 18 tahun lalu, saat aku masih kanak. Tanpa menghiraukan kami, dia terus berlalu, sambil mulutnya tak henti menyanyi sayup-sayup, bo…bo…bo…tedung anak…, menidurkan bayi buntalan pakaiannya. Rambutnya yang tinggal sedikit di gelungnya asal-asalan─bisakah disebut demikian? Karena yang melakukannya adalah seorang yang tak waras. Kotor kecoklatan, tak pernah dikeramas, berdebu,. Pakaiannya pun lusuh kumal, mengaburkan warna entah apa sebelumnya. Suaranya yang sengau dalam sepersekian detik membutakan pikiranku. Mar, gumamku tanpa sadar.
Seperti kemunculannya, Mar pun menghilang tanpa disadari oleh kami. Bahkan Alice yang selalu menanyakan ini itupun tak menghiraukannya. Mungkin baginya adalah aneh merasa heran melihat orang gila terlantar di Indonesia, di pulau Bawean. Tapi tidak bagiku, yang terlahir di sini dan tahu reputasi Mar. Kemunculan Mar menangis saat tengah malam di suatu tempat adalah suatu isyarat kesedihan bagi tempat tersebut. Bukan musibah atau bencana, tapi suatu kehilangan. Meskipun sekarang terdengar bodoh kepercayan seperti itu─dan pastilah aku idiot jika masih tetap mempercayainya seperti dulu aku pernah meyakininya, tapi ruang kenanganku tak terbendung untuk memuntahkan isinya. Memenuhi kepalaku. Dan malam ini, bayangan Mar kembali datang. Memaksaku tetap terjaga.
Kegelapan yang menggelayuti langit-langit kamarku seakan berputar lambat. Seperti slow motion. Dan dari tengahnya, setitik cahaya memijar lemah, membutir, menggumpal, membesar, menguat dan menelungkupku. Memenuhi ruangan dengan kebenderangannya. Mar lodok…Mar lodok…Mar lodok. Teriak olok-olok anak kecil menyelusup telingaku. Mar gila…Mar gila…Mar gila. Lalu, aku melihat mereka, anak-anak itu, berbaju putih dan seluar merah, memakai sepatu lusuh lagi butut. Mereka membentuk lingkaran, melompat-lompat sambil terus bernyanyi dengan lirik yang sama: Mar lodok. Dan, di antara bocah-bocah itu, aku melihat diriku, kecil, berlompatan di belakang barisan. Di tengah kerumunan bocah SD itu, seseorang berdiri gugup. Seorang perempuan. Rambut digelung ke belakang dengan penjhung berisi buntalan entah apa. Dia menangis merana sembari menatap anak-anak SD yang mengolok-oloknya itu, menyakitinya. Dan pada suatu ketika yang tidak terduga, Mar kalap. Mengamuk. Menyerang bocah-bocah yang kini berhamburan kalang kabut, lintang pukang menyelamatkan diri. Seperti gerombolan ikan rencek kacau balau oleh serangan maut seekor kaloju lapar. Dan aku kecil terselip entah di mana di antara kepanikan itu. Saat itulah, Mar tersandung, jatuh, dan memburailah isi penjhungnya itu: gumpalan-gumpalan kain kumal, pakaian. Dan kembali aku melihat diriku kecil terpana menyaksikan ini. Bersembunyi di atas pohon jambu air. Untuk pertamakalinya tahu isi penjhung Mar
Kemarahan Mar menggumpal, menjadi segumpal kabut hitam tebal yang berputar pelan, slow motion, lalu kabut hitam itu makin mengembang, melebar, membesar, memenuhi ruangan, Kini kenanganku gelap. Hitam pekat. Oh, kiranya ini malam. Malam yang kelabu di sebuah rumah berdinding anyaman bambu. Orang-orang di dalam rumah itu tampak suram. Kesedihan dan kekhawatiran menudung wajah mereka. Sorang lelaki tua duduk bersandar melamaun, diguratan wajahnya tergambar beban hidup yang mendera, begitu lekat, seakan derita itu sendirilah wajahnya. Nafas yang dihela mereka terseret berat keluar dari hidung. Dan di situ, di atas dipan, seorang pemuda terbujur kaku, tak bergerak. Wajahnya beku, diam, dingin, kehilangan ekspresinya, hampa menanti─menanti apa? Dan, di antara mereka, aku kecil meringkuk takut-takut. Dalam keheningan, kelepak sayap keluwang terdengar tajam dengan cericitnya yang menyeramkan. Lalu samar-samar, seperti muncul dari masa lalu yang menakutkan, sayup-sayup, tangis yang kelam datang melayang. Suara tangis? Siapa? Dari kejauhan rumah sana? Malam-malam begini? Rasanya seperti mimpi bagiku. Tapi, tangis itu makin jelas terdengar, makin nyata, dan bukan aku seorang yang mendengarnya─ini bukan mimpi, tangisan itu…tangisan Mar. Tangisan yang kini terdengar dari halaman rumah tetangga itu menghentak kami semua dalam lecutan yang maha dahsyat, mengagetkan setelah beberapa saat terbius. Tiba-tiba nenek menangkupkan telapak tangannya kewajahnya, pundaknya bergoncang keras, tangisnya memburai, memicu suatu emosi yang aneh. Para wanita yang lainpun segera menyusulnya menangis.
“Em…mar bupakna….! Em…mar bupakna! Aduh rato bulo….”
Tangis Mar di malam itu menjadi aba-aba bagi tangis histeris lainnya. Meratap. Dan, keesokan hari, saat hari masih bayipukul dua pagi, pemuda yang terbujur kaku itu menghembuskan nafas terakhirnya. Mati.

Hari ini aku libur. Alice dan Bill akan ke Sangkapura, menemui seseorang katanya. Karena sudah beberapa kali ke kota kecamatan itu, kali ini mereka berangkat berdua saja.
“You should take a rest, lad.” Bill menyarankan. Aku tersenyum. Yah, aku butuh istirahat, pijat juga barangakali. Dan akupun tak perlu khawatir mereka tersesat atau hilang. Mustahil itu terjadi di pulau kecil seperti ini. Dan merekapun tak bodoh.”Yeah, you’re right. Have a nice day Bill, Alice.”
Hari ini sangat nyaman. Bolak-balik Labbhuan-Kumalasa meremukkan badanku. Dan, pijatan Mak Naeva melebur semua kepayahan itu. Bill dan Alice baru kembali sore hari. Wajah Alice berseri-seri. Sangat bersemangat. Seakan baru mendapat hadiah atau entah apa yang paling membahagiakannya.
“That’s great!” Alice berseru.
“What? What is great?” Aku bertanya heran.
“That cape! That’s a very great cape, isn’t it, Bill?” Bill cuma mengangguk. Meneruskan membaca buku, duduk di kursi kayu.
”Cape? What cape Alice?” Aku bertanya keheranan dan penasaran.
“Cape, that cape! Your cape…” Alice mencoba menjelaskannya tapi sia-sia. “Bill, what’s its name? Remember?” Tapi masih seperti tadi, Bill hanya diam. Menatap Alice sebentar, geleng kepala, lalu baca buku lagi. “Ouch Bill. Emm… gone….cape? Goo..ng cape? Ouch! What do you call that? You folk believe the cape is couple of tanjung kodok, that frog cape. Gone cape, is it?” Alice memerah wajahnya karena kesal.
“Ooo my God, Alice! Do you mean Tanjung Ga’ang? Right?”
“Yeah! You’re right! That Gone Cape. My friend showed us some pictures. That’s great! We’ll be there tomorrow, won’t we, Bill?”

Angin bertiup dengan amat kencangnya. Mengibarkan pakaian dan rambutku. Seakan ingin menyeret dan membantingku sekeras-kerasnya di permukaan Tanjung Ga’ang yang berlobang dan banyak karang mencuat tajam. Aku kesulitan mencari pijakan. Di depanku, di bibir tanjung sana, Alice berteriak meraung-raung. Entah apa saja yang diteriakkannya. Seakan dengan berteriak-teriak itu segala masalahnya (dia mengaku punya banyak urusan menyebalkan di New York) akan raib seiring hilangnya suaranya dalam gemuruh angin, raung ombak membantam kaki Tajung Ga’ang, dan cericit burung laut di kejauhan. Sedangkan Bill, menikmati semua ini dalam keheningannya.
“Keterlaluan!” Gerutuku sambil berbalik. Alice mencopoti pakaiannya, berganti mengenakan bikini yan kemarin gagal dia bawa. Di rumah, dia bersitegang denganku soal bikini ini. Berulang kali kujelaskan penjelasan yang sama dengan kemarin-kemarin, dan berulang kali pula dia menolak meninggalkannya.
“Not this time! Not this time! Bullshit with those all spies you said. NO WAY!” Dengan enggan, kumasukkan barang sialan itu ke dalam ranselku. Aku menyerah. Karena Bill juga sudah menyerah membantuku. Take it easy, lad, katanya, mencoba menenangkan ku. Dan kamipun berangkat dengan pakaian terlarang dalam ransel.
“Tamatlah aku jika ada nelayan yang melihat ini!” Aku mengumpat dalam hati.

Tapi untunglah Tanjung Ga’ang sedang sepi dari manusia. Lautnya juga sedang kosong dari nelayan. Aku kembali teringat saat masih kecil dulu, kunjungan pertamaku ke sini, persis seperti hari ini. Lamunanku buyar oleh jerit histeris Alice. Dia moloncat terjun ke laut. Gila! Dia terjun ke laut yang ganas menganga di bawahnya. Dinding Tanjung Ga’ang ini tingginya setidaknya 8 atau 10 meter, dan di bawah sana, karang tajam menanti tiap kejatuhan apa saja, meremukkannya. Dengan tertatih-taih aku merayap ke tempat Alice terjun tadi. Dan detak jantungku yang hampir meledakkan dadaku berhenti mendadak: di bawah sana, Alice dan Bill mengapung, berenang dengan amat senangnya. Tertawa lepas.
“Alice…!” Aku meraung. “You scared me, alice! Never do it again!” Tapi mereka hanya tertawa melihat ekspresi ngeriku, bahkan mengajak ku untuk ikut terjun bersama. Rupanya, sebelum Alice terjun, Bill turun terlebh dahulu, mengecek kedalaman. Dan setelah diketahui aman, Alice pun melontarkan dirinya ke laut. Di sambut laut Bawean yang misterius.
Tak kuhiraukan dua bule itu. Aku menelentang, menatap langit yang tinggi, biru dan amat luas terbentang di atas sana. Beberapa cabikan putih merayap tenang. Desing angin di telingakui terdengar naik turun dalam ritme tak beraturan. Melengking. Rendah. Mengayun. Meratap. Memaki dan melabrak. Seperti tangis yang penuh amarah dan ancaman. Tangis yang janggal, yang tidak melahirkan kesedihan, tapi kengerian dan ketakutan. Tangis itu, tangis yang kudengar tadi malam, membangunkan tidur gelisahku. Kembali kudengar setelah bertahun hilang. Tangis tengah malam milik Mar.
Aku tergagap. Masih gelap di luar. Dan kegelapan yang sama menggelayuti langit-langit kamarku. Suara tangis itu…dari mana datangnya? Halaman rumah! Entah apa yang merasuki pikiranku, tertatih aku merayap ke jendela, membuka tirainya sedikit, mengintip ke kegelapan di luar sana.
Gelap. Tapi tangis itu jelas datang dari situ, tersembunyi dalam ketaknampakan. Dari samping, tampak cahaya bulan merayap pelan. Aku menunggu cemas di tempat pengintaianku. Menyimak tangis itu. Menatap halaman yang kosong hitam. Cahaya bulan sampai kehalaman rumah, terus merambat. Lalu tampaklah sosok kumal itu. Perempuan itu, yang entah bagaimana tetap bertahan hidup hingga hari ini. Aku menatapnya dari kegelapan kamar. Dia berdiri tegak tepat lurus dengan pintu pagar. Menangis sesenggukan. Dan seiring menghilangnya cahaya bulan dicuri awan, tangis itu terdengar menjauh, menyingkir, raib entah pergi kemana. Begitu cahaya bulan kembali menimpa halaman, dia telah hilang. Musnah.
Aku terpaku mengingat-ingat. Mar. tangis. Mar menangis di malam hari. Di depan rumah. Pertandakah ini? Siapa? Siapa sekarang? Dalam kegelapan yang pekat, aku merayap kembali ke tempat tidur, bergelung di dalam sarung. Angin malam yang lolos dari celah jendela, dingin menusuk menembus kulit. Angin itu makin kencang, menderu, menampar mukaku kini. Dan dalam keributannya, terdengar jeritan lemah putus asa…
“Help…. Help… anybody please, help!”
Alice! Aku tersentak bangun.
Alice! Aku menjeritkan namanya. Segera bangkit dari tempat ku terbaring. Mengucek-ucek mataku yang silau tertimpa cahaya tajam matahari. Sesaat sinar terang matahari membutakanku. Dan aku mendengarnya lagi.
“Help…! I’m here! Help…!”
Jerit itu datangnya dari jauh sana, hamper lepas pantai. Ku cari-cari Alice di keluasan lautan. Tuhan, itu dia. Mengapung seorang diri. Gerakannya menampakkan betapa paniknya dia. Bill, di mana Bill? Lautan itu kosong. Tidak ada siapa-siapa. Hanya titik Alice di situ.
“Alice…!” Aku berteriak keras-keras.
“Help…!” Dia menyahut. Seakan putus asa dan gerakannya makin kacau.
“Bill… where’s Bill…?”
“Goddamn help!… help….! Croc… white croc!”
Tiba-tiba tubuh Alice melesat hilang ke dalam birunya laut. Tidak muncul lagi. Tenang. Hanya desir angin. Dan cericit burung. Dan ombak yang tak henti berdebam di kaki Tanjung Ga’ang. White croc? buaya putih!
Semua itu, suara-suara itu. Gelombang yang tak bosan menerjang, kelebat burung laut di angkasa, mengalun dengan deru angin yang lama-kelamaan semakin terdengar janggal, melengking, seperti tangis, tangis, tangisan Mar.

Aku terpaku. Lunglai.

Tuban, 06/02/09

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: