• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

  • buku terbit

    klik untuk menelusur

  • klik untuk menelusur

Saatnya Memperolok-olok, Dan Beri Aku Banyak Jempol

image

X: Aku tidak berencana untuk menjadi terkenal, atau mendapat banyak like, atau mendapat banyak komentar dengan menertawakan agamaku sendiri.

Sulit bagiku untuk menjelaskan mengapa ada banyak orang menjadikan agama sebagai olok-olokkan, atau sebagai media untuk menjadi bahan tertawaan. Bagiku, menjadikan keyakinanmu sebagai guyonan dan merasakan kepuasan dari itu tidak ada bedanya dengan menjadikan ibumu sebagai bahan guyonan. Lalu kau merasa bangga setiap kali ada orang ikut menertawakan ibumu itu. Padahal Islam sudah menjelaskan dengan gamblang larangan menjadikan urusan agama sebagai bahan guyonan. Tapi sepertinya sebagian orang merasa belum hebat dirinya jika belum menertawakan agamanya.

Y: hey, tapi bukankah memang ada orang Islam yang suka bikin pernyataan konyol dengan menggunakan dalih agama? Apa salahnya menertawakan mereka, atau menyebarkan kekonyolan mereka?

X: Continue reading

Kalau Agama Sekadar Kebetulan, Beban, dan Kebiasaan

image

Ada orang yang dengan bangga mengakui kekagumannya pada buku karya manusia, tapi risih untuk mengatakan bangga pada Al-Qur’an.
Ada orang yang dengan ringan mengakui ketergantungannya terhadap suatu benda, tergantung pada rokok, pada gadget, pada kendaraan, tapi enggan untuk mengatakan tergantung pada agama.
Ada orang yang dengan bangga merujuk pada pemikiran tokoh-tokoh di luar Islam, seperti Kant, Einstein, Aristotle, Plato, Marx, Freud, tapi pada saat yang sama menolak dengan keras untuk mengutip para pemikir dari agamanya sendiri, seperti Imam Syafi’i, Imam Maliki, Imam Hambali, Imam Hanafi, Luqman AL-Hakim, Ibnu Sina, dll.
Ada orang yang demikian tulus memedulikan persoalan dunia, seperti perfilman, musik, olahraga, sastra, tapi demikian acuh untuk memedulikan urusan agamanya.
Ada orang yang marah tak terkira ketika pendapatnya, atau teori yang dia percaya, atau orang yang dikaguminya, mendapatkan kritik pedas dari orang lain. Tapi pada saat yang sama demikian gemar mengeluarkan pendapat yang membuat kacau kemurnian agama.
Dan tidakkah semua itu membuat kita heran?

Mungkin orang-orang tersebut berbuat demikian karena merasa tidak mendapatkan manfaat apapun dari agama. Mungkin mereka merasa agama hanyalah Continue reading

Seberapa Asyik Menertawakan Agama?

image
X: Kau sudah baca tulisanku yang baru?

Y: belum, tapi tulisanmu paling ya gitu-gitu doang. Sesekali bikin yang unik dong, yang bikin panas kuping orang Islam.

X: Bwahaha. Kau tahu, kemarin aku melihat polisi membubarkan gerombolan anak muda yang sedang balapan liar. Mereka kalang kabut melarikan diri dari polisi. Yang menjadi pikiranku adalah, mereka belum memberi manfaat apapun bagi masyarakat dengan sepeda motornya tapi sudah berani membuat kekacauan.

Belum pernah aku melihat di antara mereka ada yang berhenti naik motor untuk memboncengkan nenek-nenek yang sedang letih berjalan kaki. Belum pernah mereka suka rela mengantarkan orang yang kesulitan berjalan. Atau apa sajalah pertolongan yang bisa mereka berikan dengan sepeda motornya.

Y: heh, itu bahaya, tahu! Kalau kamu asal bonceng, bisa-bisa kamu dicekik di tengah jalan.

X: nah, sejak kapan balapan liar tidak bahaya? Sejak kapan balapan liar aman dari kecelakaan? Kalau menolong orang kau anggap berbahaya, bagaimana lagi dengan balapan liar?

Y: hmm…

X: maksudku begini, aku ini lho belum memberi Continue reading

Memeriksa Ukuran Kepuasan

image

Sudah tabiat manusia untuk melanggar dan menyepelekan aturan. Sepertinya hal itu sangat menggiurkan sehingga daya yang semestinya bisa dipakai untuk hal baik, malah dipakai untuk melakukan penyelewengan.

Orang membegal, bukannya bekerja. Orang korupsi bukannya berbakti. Orang balapan liar bukannya menolong. Orang mencaci bukannya menasihati. Orang merusak hutan bukannya menanam pepohonan. Dan banyak lagi yang tak cukup satu buku untuk mendatanya.

Demikian pula soal urusan agama. Walaupun sudah jelas tertulis di Al-Qur’an, di hadits shohih, godaan untuk melanggar terus berkobar. Ironisnya, sekarang ramai pemikiran meremehkan agama dan itu dianggap keren, terpelajar, modern, jagoan.

Segala hal yang menyangkut Continue reading

Memperolok-olok Agama Membuatmu Jadi Terpelajar dan Berpikiran Maju?

X: Aku tidak berencana untuk menjadi terkenal, atau mendapat banyak like, atau mendapat banyak komentar dengan menertawakan agamaku sendiri.

Sulit bagiku untuk menjelaskan mengapa ada banyak orang menjadikan agama sebagai olok-olokkan, atau sebagai media untuk menjadi bahan tertawaan. Bagiku, menjadikan keyakinanmu sebagai guyonan dan merasakan kepuasan dari itu tidak ada bedanya dengan menjadikan ibumu sebagai bahan guyonan. Lalu kau merasa bangga setiap kali ada orang ikut menertawakan ibumu itu. Padahal Islam sudah menjelaskan dengan gamblang larangan menjadikan urusan agama sebagai bahan guyonan. Tapi sepertinya sebagian orang merasa belum hebat dirinya jika belum menertawakan agamanya.

Y: hey, tapi bukankah memang ada orang Islam yang suka bikin pernyataan konyol dengan menggunakan dalih agama? Apa salahnya menertawakan mereka, atau menyebarkan kekonyolan mereka?
Continue reading

Alamat Pengajuan Proposal Sponsor Acara

image

Punya acara, butuh sponsor?
Ada link sponsor nih, dicoba yaaa semoga bisa bantu buat acara ke depan.

Garuda Indonesia: Kirim email proposal sosialmedia@garuda-indonesia.com

Teh Pucuk Harum: Kirim proposal ke Mayora Jl. Daan Mogot KM. 18 Kalideres, Jakarta Barat

BRI: Kirim proposal event ke Gedung Kantor BRI 1 Divisi Kesekretariatan Lt. 20 Jl. Jend. Sudirman Kav. 44-46 Jakarta 10210. Konfirmasi pengiriman proposal dapat menghubungi hotline 021-5751966

Bloop Endorse atau Urbie Store: Kirim proposal ke marketingbeu@yahoo.com

Hydro Coco: Kirim proposal ke promosi@myhydrococo.com dan ke message di FB Hydro Coco dalam bentuk PDF.

Silver Queen: Kirim email proposal ke Continue reading

Hukum Pertama Penulis Majapahit

image

1. Jika kau menulis dengan tujuan untuk membuat semua orang menyukai tulisanmu, kau sudah gagal bahkan sebelum memulai. Jadi batalkan saja rencanamu dan bantulah ayahmu membajak sawah milik Adipati Guntoro Nyokot Lowo di Kadipaten Sulewo. Ingat, mustahil semua orang sekerajaan Majapahit akan menyukai tulisanmu!

2. Jika kamu orang yang mudah marah ketika ada orang mengkritik tulisanmu, kau sebenarnya lebih cocok jadi prajurit Raden Jaran Dumang daripada jadi penulis kerajaan. Ingat, di tanah Jawa ini ada dua macam penulis: penulis yang mengarang bukunya sendiri dan penulis yang menyerang buku orang lain karena dia tidak sanggup menulis di atas lontarnya sendiri. Lupakan celaan orang, sesungguhnya celaan itu seperti celana yang rusak karena Continue reading

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 33 other followers