• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

  • buku terbit

    klik untuk menelusur

  • klik untuk menelusur

Tips Bagi Penulis: Temukan Idemu, Lahirkan Bukumu

image

Berikut ini adalah beberapa tips menumbuhkan ide menulis. Faktanya, terkadang kau bahkan tidak perlu mencari ide, atau menunggunya datang sampai berhari-hari, atau menghabiskan banyak uang berkeliaran di muka bumi demi inspirasi. Sering kali ide itu sudah ada di dalam dirimu hanya saja kau belum mengoreknya keluar. Mari periksa cara-cara pemuncul ide di bawah ini:

Pertama, buatlah daftar selengkap-lengkapnya mengenai hal-hal berikut:
1.  Apa saja yang sering kau khayalkan.
2. Kegemaran khusus yang kau punya (sejarah kerajaan-kerajaan di Indonesia, perihal suku dayak, gaya kehidupan gaul remaja, mengumpulkan resep masakan, dll)
3. Sesuatu yang kau kuasai dengan baik. Bisa jadi ini berkaitan dengan sesuatu yang khas, mungkin kau ahli sejarah, menguasai teori-teori seputar alien dan UFO, cara memasak, atau mungkin berkaitan dengan sesuatu yang sama sekali tidak unik. Tidak masalah, yang penting kamu sangat Continue reading

Bagaimana Cara Menumbuhkan Semangat Menulis Buku

image

Kabar buruk bagi hampir semua penulis adalah: penerbit tidak mengetuk pintu rumahmu dan meminta naskahmu utuk diterbitkan. Bahkan mereka yang telah melahirkan beberapa buku masih harus bersusah payah menawarkan naskahnya pada penerbit agar bisa diterbitkan. Bagaimana dengan penulis pemula? Astaga, mengapa masih ditanyakan? Yang benar saja!

Namun sebelum itu, sebenarnya masalah utama para penulis (khususnya para pemula) bukan bagaimana cara mendapatkan penerbit, tapi bagaimana cara menyelesaikan naskahmu. Itulah tantangan yang paling mendasar. Apa gunanya punya koneksi dengan puluhan penerbit jika belum ada satupun naskahmu yang rampung? Memangnya apa yang mau diterbitkan? Selain itu, dengan bantuan Continue reading

Pesona Suku Surma dari Ethiopia (bag. 1)

The Eloquent Surma of Ethiopia
Oleh Carol Beckwith & Angela Fisher
Diterjemahkan (dengan susah payah) oleh Arul Chandrana

image

Pria itu bernama Muradit. Dia pria usil dengan senyum nakal mengembang. Kami menganggapnya sebagai salah satu kawan dekat kami. Jika salah satu dari kami beristirahat, Muradit akan mendekat diam-diam, menggosok lengannya, dan berkata, “aku dengan senang hati akan menikahimu.” Tak peduli bahwa dia sudah punya dua istri dan delapan anak.

Selain sebagai bentuk ekspresi, wajah Muradit serta tubuhnya yang dihias macam laba-laba bertujuan untuk mengesankan keindahan, kedigdayaan di atas rata-rata, atau dengan kata lain untuk mengungkapkan, “hey, akulah orang Surma.” Banyak orang Surma lainnya yang menghias tubuh mereka
dan mengenakan banyak tradisi mencolok lainnya, yang mana semua itu kami pelajari selama tinggal lima tahun bersama mereka di wilayah pegunungan barat-daya Ethiopia.

Sedikit diketahui bahkan oleh para antropologis, bahwa suku Surma semi pengembara di wilayah ini masih bagian dari kelompok bahasa Surma yang lebih besar. Gaya hidup mereka yang tenang dengan bercocok tanam dan beternak sering kali diusik oleh perang melawan orang-orang di sekitar mereka, khususnya oleh musuh bebuyutan mereka, orang-orang suku Bumi. Sama pentingnya dengan hiasan yang dilukiskan di tubuhnya, Muradit memiliki bekas luka abadi di tangan yang diakibatkan oleh senjata orang Bumi. Bekas luka itu senantiasa mengingatkan Muradit bahwa, sebagai balasan atas luka tersebut, dia telah menewaskan Continue reading

Penulis yang berkata, “perpocong dengan semua itu!”

image

“SEORANG penulis disebut penulis bukan karena dia bisa menulis dengan baik dan lancar, atau karena dia punya bakat yang menakjubkan, atau karena apapun yang dia tulis akan menjadi luar biasa. Seorang penulis disebut penulis karena dia tetap menulis walau tidak ada harapan samasekali untuknya, bahkan ketika setiap yang dia tulis tidak menjanjikan apapun untuknya.”
—Junot Diaz; Profesor of Writing, peraih Penghargaan Pulitzer untuk fiksi
***
Aku masih sekolah dasar waktu itu. Mengumpulkan uang jajan selama beberapa minggu dan setelah terkumpul lima ribu rupiah, aku membeli buku tebal hardcover yang pertama dalam hidupku. Lalu dengan bangga kutuntaskan rencanaku yang sudah kusimpan berbulan-bulan sebelumnya: menulis semua cerita dan puisiku di buku tersebut. Dan sebagai penghargaan untuk kerja kreatif tersebut, ibu dan kakak perempuanku memarahiku. Hahaha, tentu saja. Saat itu sebuah buku—apa lagi yang hardcover dan tebal—adalah barang mewah yang harus kau gunakan untuk sesuatu yang berguna, seperti menjadi buku pelajaran matematika, Bahasa Indonesia, IPA, dan semacamnya. Cerpen dan puisi? Jelas tidak masuk kategori tersebut. Kau tidak bisa masuk lima besar di kelas dengan menghasilkan satu buku cerpen dan puisi.

Walaupun akhirnya kakak perempuan dan ibuku menjadi orang yang sangat amat mendukungku dalam dunia tulis menulis, tapi pengalaman masa kecil itu tak pernah kulupakan. Di samping sebagai pelajaran bagiku saat nanti dengan sengaja punya anak, juga karena kenangan itu selalu terasa menyenangkan untuk diingat saat ini. Ya, semua kenangan pasti terasa manis setelah melewati masa sepuluh tahun.

Aku sudah suka dan melakukan kegiatan menulis sejak SD. Tidak ada yang menyuruhku, tidak ada yang memotivasiku, tidak ada yang mengarahkanku. Semuanya muncul begitu saja sebagaimana kita tak pernah menyuruh ayam jantan berkokok tiap pukul tiga pagi. Tapi begitulah mereka selalu berkokok. Hobi menulis ini diawali dengan hobi membaca. Sejak kelas empat aku sudah gemar membaca. Membaca apa saja termasuk pelajaran SMP kakakku. Aku bahkan bisa menghabiskan buku setebal lima ratus halaman dalam tiga hari! Tapi yang paling kusuka adalah cerita petualangan, horror dan komedi; semua jenis cerita yang hampir tidak bisa kutemukan di Continue reading

Khasiat dan Manfaat Khawatir dalam Hidup

image

SATU
X: apakah kamu punya masalah?
Y: tidak punya.
X: kalau begitu kamu tidak perlu merasa khawatir

DUA
X: apakah kamu punya masalah?
Y: ya, aku punya masalah.
X: apakah kamu bisa mengatasinya?
Y: ya, aku sanggup mengatasinya.
X: bagus, kalau begitu kamu tidak perlu khawatir.

TIGA
X: apakah kamu punya masalah?
Y: iya, aku punya masalah.
X: kamu bisa mengatasi masalah tersebut?
Y: tidak, aku tidak bisa. Tak ada yang bisa kulakukan.
X: hmm, kalau begitu, kamu tidak usah khawatir.
Y: lho, kok gitu? Continue reading

Menulis Novel Super Cepat: 139 Halaman dalam 19 Hari

X: aku kenal seorang penulis yang sakit dan tidak boleh beraktifitas selama sebulan penuh. Awalnya itu hanya sakit sepele yang menggelikan, tak dinyana, kemudian dia harus opname sepuluh hari dan dilarikan ke dua rumah sakit berbeda. Keluar dari rumah sakit tidak berarti masalah beres, dia tergeletak tidak bisa berbuat apa-apa selain makan, solat, tidur dan begitu seterusnya. Kau tahu apa yang paling buruk bagi penulis? Yaitu mendapat ide di saat iya dilarang untuk menulis. Nah setelah sebulan berlalu, tanggal 4 dia baru diperkenankan buka komputer. Maka mulailah ia menulis. Ide cerita yang sudah membisul di otaknya harus segera diledakkan. Walaupun sudah boleh pegang komputer, tapi dia masih haram duduk lama. Jadi dia hanya menulis sejenak, tidur lagi, lalu bangun sore hari, menulis sejenak, dan malam harinya dia harus tidur penuh. Sama sekali tidak boleh pegang komputer.
Y: terus, apa yang terjadi?
X: pada tanggal 22 di bulan yang sama, penulis keras kepala itu menyelesaikan novelnya. Sebuah novel inspirasi penggugah jiwa tentang, fitnah, persahabatan, pengkhianatan dan kematian. Dalam 19 hari, tepat setelah dia bangun dari sakit, dia merampungkan novel setebal 135 halaman.
Y: astaga, itu keren sekaliiiii!
X: yeah, keren sekaligus mengerikan.
Y: aku ingin bertemu dengannya, aku ingin bertemu penulis itu. Kau bisa membantuku?
X: hmm, bisa saja, tapi tak mudah. Ada syaratnya.
Y: apa itu? Coba katakan padaku.
X: untuk bertemu si penulis bekas pasien tersebut, kau harus membawa sebotol madu asli, atau minimal 80% asli.
Y: eh, masak gitu? Aneh banget. Kamu tahu dari mana persyaratan tersebut?
X: tentu saja tahu, aku kan sedang butuh madu! Gimana sih kamu ini! #aruliterature (menyambut kehadiran Ranti, berawal di tanggal 4, sempurna pada tanggal 22. Kita memang harus berdua, Ranti)

The Duck Face Interview

X:semua orang, atau hampir semua orang, mengakui kecantikan Anda, tapi mengapa Anda tidak pernah berfoto dengan wajah yang dimonyong-monyongkan? Apa tidak percaya diri?
Y: saya pernah mencobanya dan ternyata itu sangat tidak mudah! Untuk mendapatkan satu foto monyong yang pas, butuh waktu 5 menit lebih memonyongkan mulut sambil jepret tanpa henti. Bahkan kebanyakan orang butuh waktu lebih lama lagi.
X: oh, sangat tidak nyaman ya.
Y: benar sekali. Selain itu, saya sudah bersyukur dengan wajah saya, saya sudah percaya diri dengan wajah normal saya. Untuk apa saya repot-repot memonyongkan bibir, membengkokkan mulut, memelintir lidah jika hanya untuk mendapatkan foto cantik? Saya sudah sangat bersyukur dengan wajah normal saya sehingga saya tidak ada keperluan dengan menyiksa wajah sendiri hanya untuk mendapatkan foto cantik.
X: apakah ada alasan lain?
Y: menurut saya, jika kau sudah cukup bangga, puas, syukur terhadap wajah normalmu, kau tidak perlu memelintir wajahmu hanya untuk sebuah foto yang bagus. Sekali dua kali mungkin tak masalah, tapi jika hampir setiap hari, hey, bagaimana jika tiba-tiba urat sarafmu kaku di saat bibirmu bengkok ke kanan dan lidahmu sedang terjulur ke kiri? Astaga, itu sangat tidak cerdas.
X: haha, wonderful! Tidak mengherankan Anda menjadi kandidat kuat presiden Amerika mendatang. Good luck.
Y: thank you #arulaugh

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 32 other followers