• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

  • buku terbit

    klik untuk menelusur

  • klik untuk menelusur

Jauh Sebelum Senja Hari

Aku melihatmu berdiri
Di tepi tebing tinggi
Dan terkejut karena apa yang kau genggami
Sekuntum melati bertutup duri
Lalu aku pun mengerti
Itu adalah seluruh perih
Kau temui dan memenuhi entah sudah berapa lama kini

Bagaimana kau bisa lupa?
Dulu kita berlari bersama di lapangnya lembah
Mengejar awan yang kita bentuk sambil tertawa
Diterangi cahaya yang awalnya hanya cercah

Bagaimana kau bisa lupa?
Dulu kita berani mempercayai semua
Bahwa duri pasti kelupas dari tiap bunga nan indah
Dan kita tanpa sadar penuh dengan cahaya
Yang kemilau bermula hanya dari pendar tak terasa

Kau berdiri di tepi tebing tinggi
Tak bisa mendengarku yang melambai tak henti
Ada luka memenuhi tiap jari dan air mata yang mengalir
Duhai andai saja kau tak lupa dulu kita pernah di lembah
Terbang bersama cahaya yang mulanya sekelebat saja

Surat Embun

Dulu aku pernah berkirim surat padamu
Dalam kertas penuh embun
Kulayangkan seiring angin menderu
Kupikir dia sampai ke alamatmu
Walau saat itu matahari belum pun bercahaya
Dan bulan pun sangkut di daun kamboja
Kupikir dia sampai padamu
Atau setidaknya aku belajar percaya ia sampai padamu

Surat itu, basah oleh embun yang terkumpul di tepi sungai
Tintanya mungkin agak memudar
Tapi sudah lama kita tahu kau bisa membaca walau tanpa sinar
Sehingga harusnya kini kau paham setiap kabar
Bahwa di balik tirai jendelaku
Aku masih melukis apa yang dulu kau percayakan padaku

Aku telah mengirimkanmu surat itu
Tanpa namaku, tanpa alamatku
Bukankah kau selalu mengenaliku bukan dari apa yang dikenal orang tentangku?
Surat itu harusnya sampai padamu
Sebelum embun mengering di tiap rumput dan daun
Harusnya sudah kau baca surat itu
Bahkan sebelum semua orang bisa melihat dari cahaya lukamu

Raborotta #1

Cubok tidak percaya kata orang bahwa kakaknya tewas diterkam macan, dia melihat sendiri kakaknya tertusuk tombak yang biasa dipakai berburu landak atau menjangan.

Kakaknya itu menggelepar di bawah pohon kueni. Kedua tangannya memegang perut yang tak berhenti menyemburkan darah merah pekat. Batang tombak menancap di situ, ujungnya menembus lambung dan mencuat keluar sepanjang beberapa puluh centi. Separuh lagi tersisa di depan perut, bergerak mengikuti perut yang kembang kempis mengejar napas yang semakin tipis.

Cubok tak sanggup bergerak. Dia jongkok di bawah kayu jati 8 meter jauhnya dari tempat kakaknya terkulai berlumur darah. Lelaki itu tak lagi sanggup bicara, hanya kepalanya menggeleng berkali-kali menahan sakit. Sementara tatapan matanya memohon agar Cubok datang mendekat dan menolong. Tapi Cubok bergeming. Dia ngeri melihat darah sebanyak itu. Dia takut melihat kematian yang semakin merapat. Dia jeri melihat tombak melubangi tubuh kakaknya yang perkasa. Pada saat itulah, seekor macan jantan melompat dari balik semak langsung menerkam leher kakaknya.

Cubok terlompat kaget tapi terlalu takut untuk bisa bersuara. Leher kakaknya terpilin tepat menghadap ke arahnya. Matanya berkedip-kedip memohon pertolongan. Mulutnya membuka menutup tapi penuh oleh darah yang menyeruak keluar dari leher yang luka oleh terkaman macan. Cubok terkencing-kencing. Lalu dua ekor macan melompat menyusul. Satu menggigit pundak kiri, satu lagi mengunyah paha kaki kanan. Dan bersama dengusan macan yang menerkam leher, tiga macan itu menyeret kakaknya hilang ke dalam semak belukar. Tanpa suara, tanpa jeritan, tanpa lenguhan. Hanya kemerasak daun kering yang semakin lama semakin tak terdengar. Meninggalkan Cubok seorang diri. Diam membisu. Menangis tanpa suara, dengan air mata bercucuran tiada keringnya. Dia hanya melihat tumpahan darah di sana, darah kakaknya yang tertusuk tombak dan digondol macan ke tengah hutan.

Menyikapi Perbedaan di Media Sosial

Dilihat dari sisi manapun, nama Aptuyu Whateverlah tidak pantas untuk ditambahi gelar profesor di depannya. Namun demikian, dilihat dari sisi manapun, kita tidak bisa menolak bahwa tak jarang pemilik nama Aptuyu itu mengeluarkan pendapat cerdas yang tak bisa ditolak kebenarannya. Seperti, suatu ketika dia berpendapat bahwa sebelum muncul penjual pentol di atas sepeda motor, pentol telah tercipta ratusan tahun lebih awal.

Kali ini, ada satu pendapatnya yang lain yang sangat penting untuk kita simak. Yaitu, jangan berdebat di media sosial. Tidak akan berakhir, tidak akan ada ujungnya. Media sosial paling pas untuk membaca dan belajar, lalu olah apa yang kau dapat dengan yang sudah kau pahami sebelumnya. Saring setiap info. Ambil jika benar, tinggalkan jika salah tanpa perlu menghina. Melakukan perdebatan di media sosial hanya akan membuat kelelahan dan membodohkan tanpa sadar. Sakit hati pula.

Dan, sebagai pegangan bagimu dalam menyikapi perbedaan yang kau temukan di media sosial, simak contoh sederhana ini:
4 + 5 = 9, itu sangat benar. Akan tetapi, sama juga dengan yang berikut ini:
6 + 3 = 9. Hanya karena orang lain melakukan sesuatu dengan berbeda bukan berarti mereka salah #arulight in reflection of #whateverlah

Let’s Establish a Relationship, Not an Ownership

Hubungan yang sehat tidak akan menuntutmu untuk membuang cita-citamu, tidak akan menuntutmu untuk mengorbankan harga dirimu dan tidak akan menuntutmu untuk menyingkirkan sahabatmu. Remember, you’re making a relationship, not an ownership. Ingat, kau sedang membina sebuah hubungan, bukannya membangun sebuah kepemilikan #arulight #special thanks to all Korean movies

Rengginang Bawean: Sebuah Sejarah Singkat

Ketika masih SD, aku menanyakan apa makanan favorit sahabat baikku, Jalil, dia menjawab, ‘rengginang.’ Aku tertawa mendengar jawabannya itu, juga merasa hampir tak percaya. Pada saat itu, ada sebuah snack yang sangat populer di kalangan anak-anak, namanya Tic Tic, dan kukatakan pada Jalil bahwa makanan kesukaanku adalah Tic Tic. ‘masih lebih enak rengginang,’ Jalil berusaha meyakinkanku. Tapi justru aku yang semakin heran padanya, bagaimana bisa ada anak SD yang tidak memfavoritkan Tic Tic? Dan sekarang, 18 tahun kemudian, aku sama sekali tidak merindukan Tic Tic tapi aku meranggas merindukan lezatnya rengginang Bawean.

Rengginang Bawean punya bentuk persegi panjang yang khas. Kalau kubilang sekarang, bentuknya persis seperti Android layar 5′. Ada dua macam rasa dan warna, Continue reading

Tips dan Panduan Bagaimana Mengelola Kegiatan Sebuah Klub Buku

10959649_1546360225619608_1730193605500282557_nBerikut adalah macam kegiatan yang bisa kau lakukan dengan klub bukumu. Untuk diketahui, walaupun tak satu pun tips di sini mendapatkan sertifikat dari Lembaga Kesejahteraan Alien Sagitarius, tapi semua tips di sini jelas bebas dari nikotin dan zat-zat adiktif berbahaya lainnya. Selamat mempelajari dan bersenang-senang dengan klub bukumu.
1. Sharing quote dengan mengutip dari buku yang sedang atau sudah dibaca. Setiap anggota secara bergiliran membacakan quote pilihannya (sesuaikan dengan jumlah peserta, jika banyak, maksimal dua quote perorang, jika sedikit boleh empat quote. Dan jika anggota klubnya hanya kamu seorang, boleh kamu baca seluruh isi buku dari halamn pertama sampai terakhir).

Quote itu harus benar-benar kau temukan sendiri, bukan hasil dari googling di internet atau mengutip dari bungkus paku yang kau beli di toko peralatan peti mati. Untuk itu, sesama peserta boleh bertanya apa saja yang berkenaan dengan quote yang dibacakan. Misal, Si A membaca sebuah quote yang bagus, lalu yang lain penasaran keadaan apa yang membuat tokoh dalam buku mengucapkan kalimat tersebut, maka itu boleh ditanyakan.

2. Sharing best moment of a book. Dalam buku yang kau baca, pasti ada bagian-bagian tertentu yang paling berkesan buatmu. Adegan atau suasana, atau deskripsi yang begitu mengena ke dalam hatimu. Nah, hal itu juga diberi waktu untuk disharing. Dan karena bagian ini bisa panjang, maka moment yang boleh disharing hanya satu moment saja. Bahkan, jika anggota klub banyak (di atas lima belas orang), untuk sharing best moment bisa ditunjuk bergilir tiap pertemuan tiga orang berkesempatan sharing moment terbaiknya. Untuk kegiatan ini, peserta boleh membaca isi buku atau menceritakan secara lisan—menggunakan bahasanya sendiri atau dari hafalan.

3. Berikutnya, sharing bacaan dan diskusi. Kegiatan ini bergilir dan hanya untuk Continue reading

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 30 other followers