<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Arul Chandrana</title>
	<atom:link href="http://arulchandrana.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://arulchandrana.wordpress.com</link>
	<description>menemukan yang kau impikan</description>
	<lastBuildDate>Fri, 27 Jan 2012 16:25:36 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='arulchandrana.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/b50b2ca8957f10041bd95751be30c84f?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Arul Chandrana</title>
		<link>http://arulchandrana.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://arulchandrana.wordpress.com/osd.xml" title="Arul Chandrana" />
	<atom:link rel='hub' href='http://arulchandrana.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Pamandian Gojoh</title>
		<link>http://arulchandrana.wordpress.com/2012/01/17/pamandian-gojoh/</link>
		<comments>http://arulchandrana.wordpress.com/2012/01/17/pamandian-gojoh/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Jan 2012 10:34:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arulchandrana</dc:creator>
				<category><![CDATA[baweanologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arulchandrana.wordpress.com/?p=2048</guid>
		<description><![CDATA[Kicau burung adalah musik yang tak pernah hilang dari tiap menitnya. Dan bayangan hitam sekeping-sekeping bergoyang konstan di permukaan tanah kerikil. Seperti kode rahasia yang berusia ribuan tahun. Monyet yang melompat dengan ekor panjangnya membuat kagum dan bertanya-tanya, bagaimana bisa ranting sekecil dan selentur itu mampu menyangga tubuh puluhan primata hitam dan tak patah? Dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arulchandrana.wordpress.com&amp;blog=6098567&amp;post=2048&amp;subd=arulchandrana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><div id="attachment_2049" class="wp-caption aligncenter" style="width: 235px"><a href="http://arulchandrana.files.wordpress.com/2012/01/hutan-bawean.jpg"><img src="http://arulchandrana.files.wordpress.com/2012/01/hutan-bawean.jpg?w=225&#038;h=300" alt="" title="hutan bawean" width="225" height="300" class="size-medium wp-image-2049" /></a><p class="wp-caption-text">di pamandian gojoh</p></div>Kicau burung adalah musik yang tak pernah hilang dari tiap menitnya. Dan bayangan hitam sekeping-sekeping bergoyang konstan di permukaan tanah kerikil. Seperti kode rahasia yang berusia ribuan tahun. Monyet yang melompat dengan ekor panjangnya membuat kagum dan bertanya-tanya, bagaimana bisa ranting sekecil dan selentur itu mampu menyangga tubuh puluhan primata hitam dan tak patah? Dan desiran angin, adalah kesejukan yang bisa kau dapatkan di mana saja di seluruh dunia di tempat seperti ini, di setiap benua, di, hutan yang menyimpan segala kenangan perubahan.<span id="more-2048"></span></p>
<p>Pamandian Gojoh adalah hutan yang berdiri pada dua bukit besar berkelok. Tak ada orang yang tahu di mana batasannya. Orang hanya tiba-tiba saja menyadari jika dirinya sudah memasuki Pamandian Gojoh. Orang-orang suku Bawean dari kampong Komalasa, Padong dan Sabo Rojing mengambil kayu bakar dari hutan itu. Mereka tidak menebang pohon, tapi memungut ranting-ranting kering yang jatuh atau pohon tua yang roboh. Atau, bekas tebangan dari orang-orang bergergaji mesin yang datang tanpa rencana penghijauan. Pada musim kemarau, hampir tiap minggu, bisa ditemukan iring-iringan orang memanggul kayu bakar keluar dari Pamandian Gojoh. Para lelaki menggotong ikatan kayunya, atau sebuah balok besar, di pundaknya. Sedangkan para wanita menaruh ikatan kayu bakarnya di atas kepala. Ini memang tidak menghasilkan leher jerapah sebagaimana sebagian leher perempuan Myanmar, tapi, jika ada yang mencoba mempelajari, mungkin akan ditemukan jika leher kaum wanita suku Bawean jauh lebih kuat dari pada leher kaum prianya.</p>
<p>Nama Pamandian Gojoh sebagai nama hutan tentunya bukan hal yang lazim. Belum ditemukan ada hutan yang lain di belahan bumi ini dinamai setakcocok dengan nama hutan Bawean itu. Mungkin sudah bisa kau tebak jika Pamandian Gojoh artinya adalah pemandian (untuk para) gajah. Nama itu lebih cocok untuk nama danau atau sungai besar dari pada nama hutan liar, bukan? Tapi memang itulah yang bisa kau temukan di sana, bukan hanya bukit dengan lerengnya yang curam dipenuhi pepohonan, melainkan juga sebuah sungai purba. Sungai yang telah mengering.</p>
<p>Pada pertemuan ke dua kaki bukit panjang itu, terbentuk jalur yang dulunya, mungkin puluhan dekade yang lalu, air pernah mengalir deras di sana. Sebuah sungai yang bergemiricik dan menyeret apa saja yang jatuh ke dalamnya. Kau bisa menemukan jejak sungai tersebut dari bongkah-bongkah besar khas batu kali yang berbaris seperti punggung naga berduri. Batu-batu itu memancing bayangan tentang gajah-gajah kecil yang berpijak dan terpeleset jatuh. Sementara induk dan gajah dewasa lainnya asyik berdiri di tepian dan menyedot air melalui belalainya yang sanggup menumbangkan sebuah pangopa besar.</p>
<p>Tapi benarkah ada gajah di pulau Bawean? Jika kebenaran masa lalu hanya bisa disandarkan dengan meyakinkan pada temuan barang peninggalan, maka kebenaran asumsi itu belum bisa dibuktikan. Tapi nama Pamandian Gojoh adalah nama tua yang membawa pesan. Dari nama itu kita bisa menarik tiga kemungkinan mengagumkan. Pertama, dulu—kata dulu di sini merujuk pada angka ratusan bahkan ribuan tahun lalu—memang ada gajah yang berkeliaran di pulau Bawean dan sungai itu adalah tempat pemandiannya. Kedua, mungkin saja ada orang dari entah kerajaan mana, bisa jadi Majapahit atau Campa di Vietnam (?), yang kapalnya berhenti di pulau Bawean dan mereka membawa satu atau dua ekor gajah serta. Pada jaman itu gajah adalah hewan kebanggan yang melambangkan kejayaan, bukan? Gajah-gajah kerajaan itu dimandikan di sungai tersebut. Pesan terakhir, bisa jadi nama itu hanyalah kiasan khas orang tua jaman dulu, cara untuk melebih-lebihkan. Karena sungai tersebut yang terbesar dan menjadi pusat pengairan dari tiga kampung di sekitarnya (atau mungkin saat itu ada lebih dari tiga), orang-orang pun memberinya nama megah yang mengisyaratkan kehebatannya, sungai yang luar biasa, tangguh, deras, memiliki volume air tak berbatas, pemandian raksasa, maka sungai dan daerah sekitanya pun diberi nama Pamandian Gojoh. Apapun kemungkinan asal-usul nama dari hutan itu, dan walaupun fakta bahwa kini sungai tersebut hanya menyisakan bongkah batunya saja, satu hal yang tak terbantah, hutan itu memang menyangga kehidupan banyak manusia di sekitarnya.</p>
<p>Memasuki territorial Pamandian Gojoh, orang asing mestinya mengajak satu atau dua penduduk asli. Bukan untuk menghindari macan, karena di sana benar-benar tak ada macan atau kucing besar lainnya, tapi untuk mengenal nama-nama tanaman dalam bahasa penduduk lokal. Di hutan berlereng terjal itu, kau bisa menemukan ghighirong, blorok, tengghojungan yang buah hijau bundar kecilnya bisa digunakan sebagai peluru cecettolan dan ketika sudah tua dan matang berubah hitam dengan rasa asam manis menyegarkan. Kayu Pangopa, tampel keddong, alebbon, kasia, bodung yang buahnya jauh lebih asam dari buah asam. Orang Bawean mengiris tipis buahnya yang bulat itu dan menjemurnya untuk memakainya nanti sebagai asam untuk masakannya. Bodung menghasilkan rasa yang jauh lebih segar dan masam dari asam yang dijual di pasar-pasar. Di hutan itu juga ada Lampenne, kaju manes, burne, duwok, anjhujhu, juga kaju bulu. Yang terakhir itu adalah pohon raksasa hutan dengan daun pipih kecil-kecil seperti daun beringin. Kulit pohonnya berwarna merah tawar dan mudah mengelupas. Tapi bagian yang mengelupas itu bukan kulit sesungguhnya, ia semacam kulit ari dari kulit sebenarnya yang berwarna putih berair dan tebalnya bisa mencapai beberapa centi. Kaju bulu memiliki buah kecil-kecil seukuran kelereng agak besar yang bentuknya bundar pipih dengan kulit luar sangat keras. Bahkan kulitnya itu bisa dibuat kayu bakar. Susahnya mengupas kulit buah kaju bulu terlunasi dengan isinya yang nikmat. Seperti kacang tapi lebih kental rasanya. Dan ibu-ibu Bawean suka membuat getteh dengan buah itu—menggodok buahnya dengan gula merah yang dicairkan. </p>
<p>Selain itu, jika beruntung kau juga bisa menemukan maone (mahoni, pohon berbuah pahit untuk obat malaria), kosambi, tengghulun, kalonyotan, sentul, tangkel yang rasa buahnya seperti melinjo, manenjhu, tonjhong gunong dan camplong. Camplong adalah pohon yang unik. Dia memliki buah bundar besar dengan kulit luar licin lagi keras dan dalamnya berongga. Dalam bahasa Indonesia disebut dengan: gundu. Masih ingat gundu? Bentuknya seperi bola ping-pong tapi orang-orang memakainya sebagai kelereng. Beberapa yang lain melobangi kedua sisinya dan menjalinnya menjadi tasbih yang lebih mirip dengan tasbih para biksu Buddha. Isi buah camplong jika dilumat dan diambil minyaknya bisa digunakan sebagai bahan bakar. Orang jaman dulu menggunakan minyak camplong untuk menyalakan lampu teplok.</p>
<p>Seringnya berkunjung ke Pamandian Gojoh untuk mencari kayu bakar membantuku mengenali banyak bagian dari lanskap hutan tersebut. Walau aku tak benar-benar menghapalnya, tapi setidaknya itu membantuku untuk tidak tersesat di sana. Tapi aku akan selalu tersesat jika kau tanyakan nama-nama binatang apa saja yang mungkin untuk ditemukan di hutan tersebut. Ada berbagai macam serangga. Capung warna-warni—ada yang hitam, merah, kuning. Kumbang berbagai tanduk, belalang berbagai rupa, burung entah apa saja, dan yang paling banyak, binatang kecil merayap yang jelas sekali ia bukan semut atau rayap. Aku ingin menamai binatang-binatang itu setibanya di rumah tapi akan segera terlupa seiring kelelahan yang semakin parah kuderita karena beban seikat kayu di pundakku. Padahal aku tak pernah lebih kuat dari teman-teman pencari kayu lainnya. Selain itu, aku juga menduga ilmuwan-ilmuwan biologi atau entah apa istilahnya di universitas-universitas itu pastilah sudah menamai mereka. Aku tidak sempat memerdulikannya dengan cukup perhatian. Binatang yang paling mungkin kau temui di sana, dengan jumlah yang tak sedikit, adalah monyet. Bawean memang pulau yang kaya akan monyet. Dan bagaimana monyet bisa berada di pulau kecil di tengah lautan itu sama misteriusnya dengan bagaimana Pamandian Gojoh mendapatkan namanya. Rasanya seperti menonton tarzan saban kali menyaksikan primata pemangsa segala itu bergelayut dan memekik dari dahan ke dahan peohonan hutan yang tinggi-tinggi. Walaupun rusa Bawean adalah hewan endemic pulau tersebut, tapi sangat susah untuk bisa menemukannya di alam liar. Rasanya hampir mustahil untuk melihat binatang pemalu itu di sini, di pamandoan gojoh. Kau perlu menembus hutan yang lebih lebat lagi dan segudang keberuntungan untuk menemukan dan memotret rusa berbulu keemasan itu.</p>
<p>Pada musim kemarau, Pamandian Gojoh berganti rupa. Pohon-pohon berubah menjadi seperti nenek tua bijaksana yang rontok rambutnya. Ranting-ranting tak berdaun itu mengacung ke angkasa seperti jari-jari masa lalu yang kelelahan menengadah mengharapkan bantuan dari atas sana. Dan angin yang menyeret ranting-ranting kering memberi kesan jika pohon-pohon meranggas itu masih hidup dan bernafas di balik kekosongan hidup yang mereka jalani. Udara menjadi panas, kering dan membuat berkeringat tapi terasa sangat bersih. Kau akan gerah di sana, tapi kau tidak terpapar polusi. Di angkasa, jika beruntung kau bisa melihat elang membentangkan sayapnya terbang berputar-putar melengking nyaring dari ketinggian yang masih cukup untuk melihat bentuk kepalanya yang tegas dan mengesankan. Sebagian dari mereka ada yang berwarna keemasan. Burung menakjubkan itu sedang mengawasi wilayah kekuasaannya. </p>
<p>Enam bulan kemudian, mengunjungi Pamandian Gojoh seperti mengunjungi suatu tempat yang tak pernah kau temui sebelumnya. Daun-daun bersemi dan mengembang sempurna. Memenuhi seluruh ranting. Jarak yang dekat antara pohon satu dengan lainnya menjadikan ranting-ranting itu sebagai payung raksasa penangkal cahaya matahari yang tak tertembus. Pada musim hujan, ketika semua tanaman menghijau dan subur oleh kelimpahan air, di Pamandian Gojoh tengah hari datang sangat lambat sementara senja seakan datang hanya beberapa detik setelah tengah hari tiba. Dan lebih seringnya, sepanjang hari tampak seperti senja yang tiada akhirnya.</p>
<p>Hanya saja, setelah menyaksikan banyak musim hujan datang, aku tak pernah menemukan sungai itu hidup lagi walau di hari hujan yang paling deras sekalipun. Sungai purba itu benar-benar mati. Tidak seperti beberapa sungai lainnya yang hidup lagi tiap musim penghujan datang. Pada banyak hal, kita bisa menjadikan suatu peristiwa sebagai pertanda akan datangnya peristiwa lain di masa depan. Kedatangan musim gugur merupakan pertanda akan datangnya musim semi nanti. Tentang Pamandian Gojoh, aku memiliki kekhawatiran yang mengerikan. Apakah mengeringnya sungai itu, yang merupakan sumber dari nama tempat tersebut, adalah pertanda jika cucuku besok tak akan pernah menemukan hutan di sana?</p>
<p>15 januari 2012</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arulchandrana.wordpress.com/2048/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arulchandrana.wordpress.com/2048/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arulchandrana.wordpress.com/2048/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arulchandrana.wordpress.com/2048/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/arulchandrana.wordpress.com/2048/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/arulchandrana.wordpress.com/2048/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/arulchandrana.wordpress.com/2048/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/arulchandrana.wordpress.com/2048/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arulchandrana.wordpress.com/2048/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arulchandrana.wordpress.com/2048/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arulchandrana.wordpress.com/2048/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arulchandrana.wordpress.com/2048/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arulchandrana.wordpress.com/2048/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arulchandrana.wordpress.com/2048/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arulchandrana.wordpress.com&amp;blog=6098567&amp;post=2048&amp;subd=arulchandrana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arulchandrana.wordpress.com/2012/01/17/pamandian-gojoh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4e174eade05cf5b9d00ca157216469af?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">arulchandrana</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://arulchandrana.files.wordpress.com/2012/01/hutan-bawean.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">hutan bawean</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>RANTING</title>
		<link>http://arulchandrana.wordpress.com/2012/01/10/ranting/</link>
		<comments>http://arulchandrana.wordpress.com/2012/01/10/ranting/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Jan 2012 14:34:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arulchandrana</dc:creator>
				<category><![CDATA[sastra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arulchandrana.wordpress.com/2012/01/10/ranting/</guid>
		<description><![CDATA[HANYA sementara tetes air merambat di kesat kulitnya. Lalu berhenti di lekukan tak rata, dan jatuh, memercik di cekung tanah sejak lama. Ranting selalu tenang, dan tabah jika angin membantingnya sampai terpilin. Hanya mengangguk, menerima pungguk yg meninggalkan kantuk. Ranting mungkin kedinginan, atau melengkung karena beban yg mengungkung, tp ia tak berniat mengamuk, karena bulan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arulchandrana.wordpress.com&amp;blog=6098567&amp;post=2045&amp;subd=arulchandrana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>HANYA sementara tetes air merambat di kesat kulitnya. Lalu berhenti di lekukan tak rata, dan jatuh, memercik di cekung tanah sejak lama. Ranting selalu tenang, dan tabah jika angin membantingnya sampai terpilin. Hanya mengangguk, menerima pungguk yg meninggalkan kantuk. Ranting mungkin kedinginan, atau melengkung karena beban yg mengungkung, tp ia tak berniat mengamuk, karena bulan dn embun selalu ada untk membuatnya merasa anggun.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arulchandrana.wordpress.com/2045/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arulchandrana.wordpress.com/2045/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arulchandrana.wordpress.com/2045/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arulchandrana.wordpress.com/2045/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/arulchandrana.wordpress.com/2045/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/arulchandrana.wordpress.com/2045/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/arulchandrana.wordpress.com/2045/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/arulchandrana.wordpress.com/2045/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arulchandrana.wordpress.com/2045/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arulchandrana.wordpress.com/2045/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arulchandrana.wordpress.com/2045/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arulchandrana.wordpress.com/2045/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arulchandrana.wordpress.com/2045/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arulchandrana.wordpress.com/2045/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arulchandrana.wordpress.com&amp;blog=6098567&amp;post=2045&amp;subd=arulchandrana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arulchandrana.wordpress.com/2012/01/10/ranting/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4e174eade05cf5b9d00ca157216469af?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">arulchandrana</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>DANCE IN ENGLISH</title>
		<link>http://arulchandrana.wordpress.com/2012/01/05/dance-in-english/</link>
		<comments>http://arulchandrana.wordpress.com/2012/01/05/dance-in-english/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Jan 2012 06:22:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arulchandrana</dc:creator>
				<category><![CDATA[ehon]]></category>
		<category><![CDATA[nebula]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arulchandrana.wordpress.com/?p=2040</guid>
		<description><![CDATA[Secara resmi, aku boleh menaruh sebuah gelar di ujung namaku. Menunjukkan bahwa aku telah lulus pendidikan tinggi tertentu, dan jika kau mau bertanya lebih lanjut, kau juga akan tahu jika aku mempelajari Bahasa Inggris untuk gelar itu. Tapi aku hampir tidak pernah melakukannya, menempelkan tiga huruf tak beraturan itu di ujung namaku. Aku merasa aneh. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arulchandrana.wordpress.com&amp;blog=6098567&amp;post=2040&amp;subd=arulchandrana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><div id="attachment_2041" class="wp-caption aligncenter" style="width: 235px"><a href="http://arulchandrana.files.wordpress.com/2012/01/lets-dance-boy.jpg"><img src="http://arulchandrana.files.wordpress.com/2012/01/lets-dance-boy.jpg?w=225&#038;h=300" alt="" title="lets dance, boy!" width="225" height="300" class="size-medium wp-image-2041" /></a><p class="wp-caption-text">lets dance, boy!</p></div>Secara resmi, aku boleh menaruh sebuah gelar di ujung namaku. Menunjukkan bahwa aku telah lulus pendidikan tinggi tertentu, dan jika kau mau bertanya lebih lanjut, kau juga akan tahu jika aku mempelajari Bahasa Inggris untuk gelar itu. Tapi aku hampir tidak pernah melakukannya, menempelkan tiga huruf tak beraturan itu di ujung namaku. Aku merasa aneh. Aku merasa tiba-tiba saja menjadi orang asing tiap kali melihat namaku menjadi lebih panjang satu kata dengan gabungan tiga huruf akronim tersebut. Kadang aku juga seperti melihat kalau embel-embel itu akan jatuh ke jurang di bagian akhir namaku. Lebih lucunya lagi, aku merasa seperti sedang berlebihan tiap kali harus dengan terpaksa membubuhkan tiga huruf itu di ujung namaku di bawah pengawasan kepala sekolahku. Apa sebenarnya yang sedang terjadi denganku? Aku tak bisa menjelaskannya dengan baik padamu. Yang bisa kukatakan hanyalah, aku belajar Bahasa Inggris sama sekali bukan untuk mecomot gelar panjang yang dipersingkat itu, tapi karena aku mencitai bahasa ini. Bahasa yang berdesis ini.<span id="more-2040"></span></p>
<p>Aku penggemar film barat sedari dulu, khususnya film action yang menghabiskan milyaran rupiah untuk pembuatannya. Dan ketika film selesai, aku akan dengan sendirinya—aku merasa itu benar-benar ototmatis—mencoba meniru adegan-adegan yang ada di film tersebut. Adegan dialognya. Aku akan mulai mendesis sendiri. Aku akan membunyikan ‘ch’ yang sangat tebal sendiri. Aku akan membunyikan ‘t’ di ujung kata dengan sangat keras sehingga seakan aku bicara hanya untuk membunyikan huruf t tersebut. Saat itu, seperti sebuah gurauan, aku sedang menggila.</p>
<p>Tapi kesukaanku pada Bahasa Inggris tidak lantas membuatku ahli dalam bahasa paling banyak digunakan di planet ini. Kelas satu dan dua MTs (sekarang sebutannya kelas VII dan VIII) hubunganku dengan Bahasa Inggris bagai pendaki gunung yang lebih pintar terperosok dari pada menanjak. Tapi semua orang tahu aku pendaki yang keras kepala, terus mencintai gunung dan berusaha mencapai puncaknya walau selalu dibingung-pusingkan dengan ‘bagaimana ceritanya kok kata kerja untuk I, you, they dan we tidak ditambah es/s sedangkan untuk she, he dan it ditambah es/s?’ dan banyak lagi hal lain yang membuat korelasi nilai Bahasa Inggrisku dengan kecintaanku seperti nasib pecinta yang bertepuk sebelah tangan. Untungnya, tadaaa, semua berubah di kelas IX. Seorang guru yang hebat membuat semuanya mencapai titik kemenangan dan kelegaan yang nikmat. Rasa suka itu pun berbuah menjadi keluarbiasaan. Orang tidak lagi hanya berkata aku Si Anak Ingusan Pecinta Bahasa Inggris, tapi Si Calon Remaja Tampan Mengesankan Yang Mahir Dan Layak Diandalkan Untuk Perlombaan Bahasa Inggris di Kecamatan; dan sampai aku lulus MTs, aku tidak pernah ikut perlombaan. Lomba apapun di manapun.</p>
<p>Tahapan ini membawaku pada perkenalan yang lebih mendalam dengan Bahasa Inggris dan itu sangat menyenangkan. Aku mulai mengenal kegiatan yang disebut dengan ‘translation’. Menerjemahkan teks Bahasa Inggris ke dalam bahasa penerjemah, Bahasa Indonesia. Yang menakjubkan dari kegiatan tak ringan ini, adalah bagaimana kau harus membawa rasa bahasa sebuah negara sejauh 45.000 km sesuai dengan rasa bahasa negaramu sendiri. Aku kalang kabut sewaktu pertama kali menemukan kata: beat about the bush. Ini mau ngapain? Menghajar semak belukar? Terjemahan-terjemahan awalku kacau dan menggelikan. Tapi tak urung, itu adalah nilai terbaik yang bisa kau harapkan dari seluruh penghuni kelasku yang kurang mencintai Bahasa Inggris—sebagaian malah membencinya. Oh ya, apa masih perlu kutunjukkan bahwa artinya beat about the bush adalah bertele-tele?</p>
<p>Memasuki aliyah, aku dikejutkan dengan pencarian besar-besaran yang dilakukan teman-teman dan kakak kelasku. Hari itu kegiatan belajar belum aktif, banyak guru yang belum masuk sekolah, tapi, guru baru itu yang usianya tak lagi muda datang dengan sekarung rasa percaya diri dan sekeranjang harapan besar. Guru Bahasa Inggris yang keren itu. Jika kuingat-ingat sekarang, wajahnya, aku yakin aku tak salah ingat, benar-benar mengingatkanku pada wajah Popeye Si Pelaut. Hanya saja waktu itu aku belum mengenal Popeye. Aku dicari-cari karena di hari pertama mengajarnya itu sang guru baru ingin mendengar setidaknya satu dari murid-murid ‘asingnya’ untuk tampil di depan kelas dan berbicara dalam Bahasa Inggris selama lima menit saja. Teman-temanku putus asa mendapat tugas  macam itu. Guru-guruku juga tak mau menanggung malu karena kegagalan itu. Mereka mengharapkanku. Dan aku harus segera ditemukan untuk membuat kesan yang diharapkan. Lantas, apa yang terjadi setelah aku ditemukan dan diarak masuk kelas? Aku berhasil. Dengan banyak kesalahan dan kekacauan. Tapi aku berhasil. Membuat guru baru itu terkesan. Membuat teman-temanku merasa aman. Membuat kepala sekolahku tak terlalu sungkan telah mendatangkan Sang Popeye. Hari itu, aku tahu aku tak ingin membagi cintaku selain untuk Bahasa Inggris.</p>
<p>Dan keajaiban membawaku pada penemuan yang lebih mengagumkan lagi. Menjadi mahasiswa Bahasa Inggris. Di bangku kuliah, aku bukan hanya menemukan guru-guru yang luar biasa—sebagian karena cara mengajarnya yang mudah kucerna sebagian lagi karena saking hebatnya sampai aku tak paham apa maksudnya—tapi juga mendapatkan teman belajar yang mencerahkan. Ya, anak itu, si David. Dia memiliki antusiasme belajar yang luar biasa. Sesuatu yang kadang membuatku merasa agak ngeri, maksudku, aku hidup tidak hanya untuk kuhabiskan melahap buku, aku butuh melakukan yang lain, bukan? Seperti makan dan makan dan makan dan makan lagi. Tapi kemudian aku tahu dia tak seburuk itu. Dia juga gila, bercanda dengan cara-cara yang tidak dipahami orang lain, berteriak dengan ungkapan-ungkapan yang tak bermakna bagi orang lain, melompat untuk momen-momen yang tak berkesan bagi orang lain, tapi kami bisa saling mengerti dan menikmati tingkah polah irregular tersebut. dan yang paling utama, kami bisa bercanda dengan menggunakan Bahasa Inggris! Ya, bercanda dengan Bahasa Inggris! Bayangkan, ketika tak semua orang bisa bercanda memakai Bahasa Indonesia dengan menyegarkan, di masa kuliahku, bersama David aku telah mencapai tahap bercanda dengan Bahasa Inggris!</p>
<p>Penemuan-penemuan baru pun kunikmati di sini. Aku yang suka permainan kata mendapati jika bahwa Bahasa Inggris sangat kaya kosa kata untuk dibuat teka-teki atau lompatan-lompatan indah yang mengagumkan. Seperti ini, the different between danger and anger is only a word. Perbedaan antara marabahaya (danger) dan kemarahan (anger) hanyalah satu huruf saja (d). Wow, sungguh ungkapan yang cerdas untuk menunjukkan eratnya kaitan antara kemarahan dengan bencana, bukan? Demikian pula ungkapan ini, no pain no gain, tak ada kesuksesan tanpa kesusahan. Aku terpesona dengan rima-nya yang indah dan enak di dengar. Atau lelucon ini, if you’re hungry, don’t be angry, kalau kau lapar, jangalah marah. Ungkapan itu bukan sekedar ingin menunjukkan betapa kelaparan bisa membuat orang berubah liar, tapi juga pada kedekatan bunyi antara hungry dan angry. Dan, semakin lama aku belajar, semakin aku menikmati kejutan-kejutannya yang mencengangkan. Aku benar-benar menyukai bahasa yang tidak sesuai antara tulisan dan bunyinya ini.</p>
<p>Bagian tersusah dari Bahasa Inggris, menurutku, selain grammarnya yang kupikir terlalu banyak aturan, adalah pelafalannya yang melelahkan. Butuh lidah yang sanggup keseleo enam puluh kali sehari untuk bisa bicara Bahasa Inggris dengan fasih. Selama latihan pronunciation (pelafalan) aku merasakan betapa lidah yang katanya lincah bagai ular berubah menjadi kaku bagai robot kehabisan oli. Lidahku kurang melengkung, harus nyentuh langit-langit, jangan terlalu menyentuh gigi, nafas harus berhembus, harus menahan udara, harus menahan kentut! Hoaaaah, benar-benar kerja keras. Tapi aku menemukan satu fakta unik di awal-awal kuliah tentang pelafalan bahasa ini, yaitu, semakin kau fasih membaca Al-Qur’an, semakin mudah kau belajar bicara Bahasa Inggris. Ya, itu adalah fakta yang mencengangkan.</p>
<p>Ketika sudah lulus dan beberapa waktu telah lewat, aku menemukan satu fakta menyenangkan yang lain lagi. Pernahkah kamu benar-benar memperhatikan kata ganti Bahasa Inggris untuk orang ketiga tunggal lelaki dan perempuan? Dia laki-laki kata gantinya ‘he’ dan dia perempuan kata gantinya ‘she’, kau lihat betapa dekat hubungan keduanya? Lelaki dan perempuan adalah sepasang yang saling melengkapi, hanya satu huruf saja yang membedakannya, s. Dan setelah kupikirkan, sepertinya s untuk perempuan adalah perwujudan dari secretive (bersifat rahasia) yang dimiliki perempuan. Bukankah perempuan adalah sosok yang tak bisa kau tebak semudah menebak kover buku? S itu juga berarti sensitive (perasa), karena mereka mudah tersentuh untuk hal-hal yang mendalam. Bahkan hal ringan pun bisa membuat mereka terharu biru, atau tersinggung setengah mati. S juga untuk menunjukkan mereka soft (lembut), karena takkan ada bayi yang bertahan hidup tanpa adanya kelembutan seorang ibu, seorang perempuan. Bahkan sebuah keluarga tak akan bertahan lama tanpa kelembutan itu. Namun demikian, s pada kata she juga ingin mewakili kenyataan bahwa perempuan adalah pribadi yang strong (kuat). Kekuatan mereka bukan dari jenis pemecah batu atau pembelah kayu, tapi dalam ketahanan mendapatkan dera tanggung jawab menahan penderitaan dalam menjalankan tugas-tugasnya. Mencintai, merawat, mengandung, melahirkan, memelihara, membesarkan, menyayangi, mengayomi, menjadi tempat mengeluh dan menangis. Wanita kuat untuk menerima semua itu dengan tetap menjadi seorang pribadi yang lembut dan utuh. Terakhir, dan ini bagian favoritku, huruf s dalam kata she adalah suatu penjelasan pamungkas terhadap keberadaan perempuan bagi kehidupan, bagi kelengkapan. S tersebut adalah perwakilan langsung dari seluruh keberadaannya yang sangat penting bagi semua pria, s tersebut adalah penjelas mengapa manusia selalu ada dan berkelanjutan. S dalam kata she adalah pendamping kata he, karena s itu bermakna: SOUL MATE.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arulchandrana.wordpress.com/2040/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arulchandrana.wordpress.com/2040/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arulchandrana.wordpress.com/2040/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arulchandrana.wordpress.com/2040/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/arulchandrana.wordpress.com/2040/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/arulchandrana.wordpress.com/2040/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/arulchandrana.wordpress.com/2040/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/arulchandrana.wordpress.com/2040/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arulchandrana.wordpress.com/2040/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arulchandrana.wordpress.com/2040/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arulchandrana.wordpress.com/2040/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arulchandrana.wordpress.com/2040/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arulchandrana.wordpress.com/2040/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arulchandrana.wordpress.com/2040/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arulchandrana.wordpress.com&amp;blog=6098567&amp;post=2040&amp;subd=arulchandrana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arulchandrana.wordpress.com/2012/01/05/dance-in-english/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4e174eade05cf5b9d00ca157216469af?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">arulchandrana</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://arulchandrana.files.wordpress.com/2012/01/lets-dance-boy.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">lets dance, boy!</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>lukisan pemburu rembulan</title>
		<link>http://arulchandrana.wordpress.com/2012/01/02/lukisan-pemburu-rembulan/</link>
		<comments>http://arulchandrana.wordpress.com/2012/01/02/lukisan-pemburu-rembulan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Jan 2012 10:36:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arulchandrana</dc:creator>
				<category><![CDATA[novel terbaru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arulchandrana.wordpress.com/?p=2037</guid>
		<description><![CDATA[ini adalah lukisan pemburu rembulan karya Putri Olga, seorang pembaca dari Balikpapan. thanks, friend.<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arulchandrana.wordpress.com&amp;blog=6098567&amp;post=2037&amp;subd=arulchandrana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://arulchandrana.files.wordpress.com/2012/01/lukisan-pemburu-rembulan.jpg"><img src="http://arulchandrana.files.wordpress.com/2012/01/lukisan-pemburu-rembulan.jpg?w=468" alt="" title="lukisan pemburu rembulan"   class="aligncenter size-full wp-image-2038" /></a></p>
<p>ini adalah lukisan pemburu rembulan karya Putri Olga, seorang pembaca dari Balikpapan. thanks, friend.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arulchandrana.wordpress.com/2037/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arulchandrana.wordpress.com/2037/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arulchandrana.wordpress.com/2037/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arulchandrana.wordpress.com/2037/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/arulchandrana.wordpress.com/2037/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/arulchandrana.wordpress.com/2037/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/arulchandrana.wordpress.com/2037/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/arulchandrana.wordpress.com/2037/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arulchandrana.wordpress.com/2037/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arulchandrana.wordpress.com/2037/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arulchandrana.wordpress.com/2037/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arulchandrana.wordpress.com/2037/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arulchandrana.wordpress.com/2037/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arulchandrana.wordpress.com/2037/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arulchandrana.wordpress.com&amp;blog=6098567&amp;post=2037&amp;subd=arulchandrana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arulchandrana.wordpress.com/2012/01/02/lukisan-pemburu-rembulan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4e174eade05cf5b9d00ca157216469af?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">arulchandrana</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://arulchandrana.files.wordpress.com/2012/01/lukisan-pemburu-rembulan.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">lukisan pemburu rembulan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>TIME IS A WOK</title>
		<link>http://arulchandrana.wordpress.com/2012/01/01/time-is-a-wok/</link>
		<comments>http://arulchandrana.wordpress.com/2012/01/01/time-is-a-wok/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Jan 2012 13:18:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arulchandrana</dc:creator>
				<category><![CDATA[ehon]]></category>
		<category><![CDATA[nebula]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arulchandrana.wordpress.com/?p=2033</guid>
		<description><![CDATA[Di antara yang ingin selalu kukenang dari tahun 2011, selain tentu terbitnya novel perdanaku setelah belasan tahu menulis, adalah apa yang terjadi malam ini. Aku membuat nasi goreng dengan kakak pertamaku. Nasi goreng dengan bumbu ala kadarnya, garam, cabe, sedikit vetsin, daun bawang, bawang merah, terasi mentah dan serbuk kuning semacam kunyit. Meskipun arma bumbunya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arulchandrana.wordpress.com&amp;blog=6098567&amp;post=2033&amp;subd=arulchandrana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di antara yang ingin selalu kukenang dari tahun 2011, selain tentu terbitnya novel perdanaku setelah belasan tahu menulis,  adalah apa yang terjadi malam ini. Aku membuat nasi goreng dengan kakak pertamaku. Nasi goreng dengan bumbu ala kadarnya, garam, cabe, sedikit vetsin, daun bawang, bawang merah, terasi mentah dan serbuk kuning semacam kunyit. Meskipun arma bumbunya saja sudah membuat rasa laparku meningkat beberapa derajad, tapi sesuatu yang lain dengan halus menyelisipi diriku. Dan ketika kakak sudah selesai mengaduk nasi dengan bumbunya, aku menyalakan kompor, minyak di penggorengan mulai panas, dan nasi satu cowek dilongsorkan ke dalam penggorengan yang mendesis, aku pun langsung mengingatnya. Kakak perempuanku. Orang yang paling suka kuajak masak bersama. Jika dia ada di sini, dan kami masak bersama di malam sepe seperti ini, kami akan dengan senang hati memberi nama nasi goreng kami: Nasi Goreng Persaudaraan Dimasak Tengah Malam Untuk Menghentikan Kelaparan Dan Membahagiakan Kesepian. Kami suka memberi nama yang panjang untuk masakan kami.</p>
<p>Beberapa tahun ini kakak perempuan itu tinggal di Malaysia bersama suaminya. Dia mengajar Al-Qur’an dan suaminya bekerja sebagai kuli bangunan. Sewaktu kukirimkan novelku padanya, dia menangis membaca halaman sambutan. Seperti yang sudah<span id="more-2033"></span> kuduga. Tapi bukan itu bagian yang paling menarik, bagian terhebat dari keberadaan novel itu di sana adalah ketika dia berkata ingin segera pulang dan mencoba beberapa masakan India Mamak (Bangladesh (?)) yang dia pelajari sewaktu masih bekerja di kantin. Aku senang mendengarnya. Tapi aku tak berharap itu suatu janji. Waktu kadang bisa sangat lama menipu harapan kita.</p>
<p>Kakak pertamaku terus mengaduk nasi yang semakin menguning tua warnanya. Sementara aromanya semakin menebar ke mana-mana. Sejak kecil aku sering diceritani oleh ibu tentang keahliannya membuat masakan, khususnya nasi goreng. Pernah suatu ketika dulu dia membuatkan nasi goreng buat teman baniknya yang kaya, dan dengan gaya bercerita ibu yang luar biasa, aku tahu aku bisa merasakan kelezatannya di ujung lidahku yang masih awam soal makanan. Jika memang keahliannya itu tidak berkurang sejak hari itu sampai sekarang, mungkin 18 tahun, maka aku tak heran jika temannya yang tak pernah merasakan sensasi memasak sendiri akan ketagihan dengan nasi gorengnya.</p>
<p>Kami menyantap nasi goreng yang lezat malam itu. Aku menggigit beberapa cabai untuk menambah kekuatan rasanya. Dan aku semakin teringat pada kakak perempuanku. Setiap suapan yang kutelan, pun turut mengingatkanku pada ibu yang sering meminta bantuanku untuk melembutkan rempah-rempah. Aku lumayan lihai menggunakan ulek-ulek dan cowek. Seingatku hanya sekali aku melubangi cowek karena terlalu keras menekannya—aku mengulek ketumbar waktu itu. Tapi aku tak lihai sama sekali untuk menyembunyikan yang bersembunyi di balik mata.</p>
<p>Kubayangkan, waktu adalah sebuah penggorengan. Bundar dan memiliki dasar tunggal. Tak peduli betapa cepat tahu berputar, tak peduli betapa jauh tempe ingin pergi, nanti, akan dengan sendirinya jatuh ke titik pusat. Tak perduli betapa jauh aku pergi, menempuh jarak waktu, selalu saja ada jedah dari seluruh waktu yang membuatku tergelincir dan jatuh. Menyelisip turun dengan cepat ketitik pusatnya; orang-orang yang layak dirindukan. Inilah yang membuat Malaysia menjadi salah satu Negara yang ingin kukunjungi. Bukan untuk bermain-main. Atau membuat buku perjalanan antar negara. Tapi untuk berdiri di samping panci yang panas di atas kompor menyala bersama kakak perempuanku. Lalu dia kan berkata di akhir acara memasak hari itu, bagaimana kalau ini kita beri nama masakan ini “Tomyam Segar untuk Siang Hari yang Panas dan Saudara yang Datang dari Jauh”. Aku akan menyetujui nama itu. Atau kami akan mencoba membuat roti canai yang bertabur kuah kental gurih. Orang-orang bercerita tentang India Mamak yang ahli membuat roti canai dengan memutar-mutar segumpal tepung sehingga terbentuk satu lempeng besar yagn memenuhi penggorengan datar. Mungkin kakak perempuanku tidak bisa melakukan atraksi seperti itu, tapi kami bisa mengatasinya dengan membuat adonan itu tipis dan menggorengnya di atas tutup panci datar. Hasilnya tidak akan jauh beda. Lalu kami akan merayakan proses pemberian nama yang menyenangkan: Canai Sederhana Dari Dua Orang Sederhana Untuk Sajian Yang Luar Biasa Di Suatu Hari Berbahagia. Nama yang tak terlalu buruk bukan?</p>
<p>Awalnya kami beencana membuat nasi goreng yang pedas, karena kakakku tahu aku suka pedas—tapi bukan pedas yang sangat pedas. Dan setelah matang, ternyata cabai yang kami pakai kurang tiga atau empat. Tapi itu tidak masalah, aku bisa mengatasinya dengan menggigit cabai untuk tiap suap nasi. Minyaknya juga pas. Tidak terlalu banyak sehingga nasi terasa basah, juga tidak terlalu sedikit hingga nasi tetap menggumpal. Semuanya terukur. Gurihnya pas, tidak berlebihan dan tidak menggumpal di satu bagian. Setiap bulir nasi terasa gurih. Nasi goreng malam itu memang nasi goreng yang lezat. Setelah semua selesai, kakak pun pulang, dan pintu menutup dengan cepat seiring dengan menghilangnya punggung kakakku itu di persimpangan jalan. Kembali ke rumahnya. Aku memutar kunci. Berjalan ke dapur untuk menyaksikan wajan yang kosong. Aku kembali ingat kelezatan nasi goreng beberapa menit barusan. Dan detak jarum jam berkejaran seakan kereta api yang tak bisa berhenti. Aku duduk dan terdiam. Merencanakan besok pagi untuk membereskan semuanya. Dan perlahan-lahan aku teringat sebuah lelucon dari sebuah film superhero yang mengesankan. Lelucon itu demikian bunyinya: seorang pria datang menemui seorang dokter di sebuah kota. Dia mengaku sedang depresi, merasa sedih dan kesepian. Dia merasa terasing dan butuh hiburan. Lalu dokter itu menjawab, “pengobatannya mudah kawan, kau datanglah ke pusat kota, di sana ada badut yang sangat lucu. Pagliacci namanya. Kau pasti akan tertawa melihatnya.” Lalu pria itu menjawab, “tapi dokter, akulah Pagliacci.”</p>
<p>Lelucon yang bagus.</p>
<p>31/12/2011</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arulchandrana.wordpress.com/2033/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arulchandrana.wordpress.com/2033/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arulchandrana.wordpress.com/2033/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arulchandrana.wordpress.com/2033/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/arulchandrana.wordpress.com/2033/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/arulchandrana.wordpress.com/2033/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/arulchandrana.wordpress.com/2033/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/arulchandrana.wordpress.com/2033/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arulchandrana.wordpress.com/2033/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arulchandrana.wordpress.com/2033/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arulchandrana.wordpress.com/2033/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arulchandrana.wordpress.com/2033/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arulchandrana.wordpress.com/2033/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arulchandrana.wordpress.com/2033/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arulchandrana.wordpress.com&amp;blog=6098567&amp;post=2033&amp;subd=arulchandrana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arulchandrana.wordpress.com/2012/01/01/time-is-a-wok/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4e174eade05cf5b9d00ca157216469af?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">arulchandrana</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SEORANG PEMUDA TAK LULUS SD, BAHKAN TAK PERNAH SEKOLAH, MENULIS SEBUAH NOVEL PENDIDIKAN YANG MENGINSPIRASI BANYAK ORANG</title>
		<link>http://arulchandrana.wordpress.com/2012/01/01/seorang-pemuda-tak-lulus-sd-bahkan-tak-pernah-sekolah-menulis-sebuah-novel-pendidikan-yang-menginspirasi-banyak-orang/</link>
		<comments>http://arulchandrana.wordpress.com/2012/01/01/seorang-pemuda-tak-lulus-sd-bahkan-tak-pernah-sekolah-menulis-sebuah-novel-pendidikan-yang-menginspirasi-banyak-orang/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Jan 2012 13:13:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arulchandrana</dc:creator>
				<category><![CDATA[nebula]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arulchandrana.wordpress.com/?p=2030</guid>
		<description><![CDATA[Seorang pemuda dari sebuah pulau kecil yang tak nampak di peta berhasil menulis sebuah novel bertema pendidikan dan mengispirasi banyak pembacanya. Pemuda itu tak pernah kuliah, atau sekolah TK maupun SD. Singkat kata, dia tak pernah mengenyam bangku pendidikan. Tapi yang menakjubkan, dia berhasil menulis sebuah novel yang menginspirasi pembacanya dari berbagai kalangan. Mulai dari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arulchandrana.wordpress.com&amp;blog=6098567&amp;post=2030&amp;subd=arulchandrana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seorang pemuda dari sebuah pulau kecil yang tak nampak di peta berhasil menulis sebuah novel bertema pendidikan dan mengispirasi banyak pembacanya. Pemuda itu tak pernah kuliah, atau sekolah TK maupun SD. Singkat kata, dia tak pernah mengenyam bangku pendidikan. Tapi yang menakjubkan, dia berhasil menulis sebuah novel yang menginspirasi pembacanya dari berbagai kalangan. Mulai dari murid samai guru. Pegawai sampai wiraswasta. Mahasiswa maupun pekerja. Sesuatu yang mirip dengan keajaiban pastilah sedang bekerja di sini.</p>
<p>Siapakah pemuda berusia 24 tahun yang menakjubkan itu? Dia adalah Arul Chandrana. Ya, Arul Chandrana. Jika kau tak percaya, saya berani menantangmu untuk mengecek sekolah manapun di seluruh Indonesia guna menemukan namanya di daftar murid mereka. Dia tidak tercatat di PAUD manapun, di TK manapun, di SD manapun, di SMP manapun, di SMA manapun, di kampus manapun. Dia tidak ada di catatan pendidikan manapun. Namun begitu, dia berhasil menyusun sebuah novel setebal 400 halaman lebih dengan materi yang tak ringan. Mengalahkan sahabatnya David Khoirul yang memproklamirkan diri sebagai ketua rukun kematian tak resmi di desanya yang terpencil.<br />
₵<br />
Ya, cukup. Cukup sampai di sini leluconnya. Aku bayangkan,<span id="more-2030"></span> David akan tertawa terpingkal-pingkal membaca ini sebagaimana biasanya dia lakukan untuk setiap kebodohan sengaja yang kubuat. Atau yang kami buat. Untuk saat ini, aku memang sangat merindukan momen itu, lagi. Aku ingin melihat rambut panjangnya yang tak pernah berubah itu bergejolak oleh gelengan kepalanya. Aku ingin melihat matanya yang menyipit karena tertawa geli. Aku ingin mendengar gelegar tawanya dari mulutnya yang terbuka lebar. Sesuatu yang kini tak pernah lagi kutemukan di manapun aku duduk membuka buku.</p>
<p>Untuk diriku yang saat ini, jujur saja, aku berhutang padanya. Karena dia, ya, dia, yang pertama kali mau mengakui dengan sungguh-sungguh ada apa dengan tulisanku. Dia yang membuatku besar kepala dan meyakini aku berbakat dan bisa membuat sesuatu yang hebat. Cerdas dan mengagumkan. Tidakkah kau merasa sangat berhutang budi pada orang yang membangkitkanmu seperti itu?</p>
<p>Di novel Pemburu Rembulan, kau akan beberapa kali menemukan namanya tertulis di sana, sebagai sosok tak terlihat yang memberi pencerahan dan kekuatan. Inspirator. Bahkan kau juga bisa menemukan namanya di halaman depan. Hanya saja, di novel itu juga kutulis jika dia sudah mati. Dalam sebuah kecelekaan sepeda motor—aku sebenarnya ingin menambahkan detail bahwa kepalanya tertinggal dalam helm saat polisi mengevakuasi, tapi kupikir itu akan terlalu brutal kedengarannya. Sesuatu membuatnya mati lebih dulu. Sebelum ada yang menyadari.</p>
<p>Tapi jika definisi mati seperti itu yang kugunakan, bahwa keterputusan hubungan dan komunikasi adalah sesuat yang mematikan, maka aku sepertinya telah mengalami lebih banyak kematian jauh sebelum ini. Orang-orang yang semestinya demikian hidup bagiku tapi dengan teratur mati satu persatu. Menghilang. Dan aku hanya tak tahu bagaimana semuanya bisa masih berjalan dengan baik-baik saja. Beberapa kematian sama sekali tak kurindukan dan aku tak bertanyata-tanya tentnag itu. Beberapa yang lain, aku menangisinya.<br />
₵<br />
Sampai di mana aku? Mestinya tadi aku mau menulis sebuah tulisan akhir tahun tapi karena kemudian aku tak pernah berpikir untuk mengucapkan ‘selamat tinggal 2011’ atau’ selamat datang 2012’, aku juga tak merasa perlu membuat catatan-catatan prediksional tentang masa depan, aku pun tak merasa perlu melakukannya. Aku hanya ingin menulis apa yang menurutku bisa membantuku. Atau orang lain yang merasakan hal yang sama. Hanya saja kemudian aku merasa tulisan ini demikian menyedihkan. Aku dari tadi sedang meratapi kehilangan, bukan?</p>
<p>Habibi sedang mendaki gunung Rinjani, dan temanku yang lain entah sedang apa. David di dalam novel telah mati. Amar tak pernah terdengar lagi. Semuanya seperti asap yang dikibaskan dari ujung rokok dan tak butuh waktu lama untuk menghilang. Raib. Ada banyak hal yang tak ingin kita percaya, pada saat yang sama, semua itu memaksa kita agar tahu tak ada pilihan selain untuk menerima.</p>
<p>Serangga cahaya bisa terbang dalam kegelapan. Kunang-kunang. Binatang bawah laut juga punya lampu di ujung sungutnya. Mereka tak perlu takut kegelapan. Tapi manusia butuh manusia lainnya untuk mengalahkan kegelapan. Khususnya ketika kegelapan itu menetes menjadi kesepian yang tak henti berdenting dalam kelengangan.</p>
<p>Aku dulu pernah berharap untuk bisa masuk ke dalam film kartun yang kutonton. Aku tak bercerita pada siapapun tentang ini. Tapi aku tahu david akan dengan senang hati mendengarkannya. Aku pernah begitu bangga bisa bercanda dalam bahasa inggris dan david akan turut bangga tiap kali kukatakan padanya, ‘hey dengar, kita bercanda dengan Bahasa Inggris!’ Aku juga akan mengingat makan yang lahap di warung yang murah itu. Walau tidak lagi dengan tawa, tapi dengan sedikit mata berkaca-kaca.</p>
<p>Kematian demi kematian terjadi begitu cepat. Hampir-hampir kita tak sempat memikirkannya. Tak seperti orang Kasim yang mempersiapkan kematiannya dengan membuat peti mati terbaik. Kita sering terhenyak karena keterkejutan yang mengerikan. Tiba-tiba saja tersadar sesuatu telah begitu lama hilang. Mati diam-diam.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arulchandrana.wordpress.com/2030/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arulchandrana.wordpress.com/2030/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arulchandrana.wordpress.com/2030/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arulchandrana.wordpress.com/2030/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/arulchandrana.wordpress.com/2030/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/arulchandrana.wordpress.com/2030/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/arulchandrana.wordpress.com/2030/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/arulchandrana.wordpress.com/2030/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arulchandrana.wordpress.com/2030/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arulchandrana.wordpress.com/2030/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arulchandrana.wordpress.com/2030/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arulchandrana.wordpress.com/2030/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arulchandrana.wordpress.com/2030/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arulchandrana.wordpress.com/2030/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arulchandrana.wordpress.com&amp;blog=6098567&amp;post=2030&amp;subd=arulchandrana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arulchandrana.wordpress.com/2012/01/01/seorang-pemuda-tak-lulus-sd-bahkan-tak-pernah-sekolah-menulis-sebuah-novel-pendidikan-yang-menginspirasi-banyak-orang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4e174eade05cf5b9d00ca157216469af?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">arulchandrana</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PERJALANAN LENGANG</title>
		<link>http://arulchandrana.wordpress.com/2011/12/29/perjalanan-lengang/</link>
		<comments>http://arulchandrana.wordpress.com/2011/12/29/perjalanan-lengang/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Dec 2011 09:41:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arulchandrana</dc:creator>
				<category><![CDATA[nebula]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arulchandrana.wordpress.com/?p=2025</guid>
		<description><![CDATA[Yang kini kubutuhkan, adalah sebuah perjalanan wisata naik bus bersama sebuah rombongan yang tak banyak bicara. Beri aku tempat duduk di pinggir jendela. Dan menikmati semuanya yang terpapar di sana. Aku akan mengamati tepi jalan menanjaknya, dan berpikir jika hamparan pucuk bambu di bawah sana adalah beledru hijau lembut yang tak pernah henti mengantarkan udara [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arulchandrana.wordpress.com&amp;blog=6098567&amp;post=2025&amp;subd=arulchandrana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Yang kini kubutuhkan, adalah sebuah perjalanan wisata naik bus bersama sebuah rombongan yang tak banyak bicara. Beri aku tempat duduk di pinggir jendela. Dan menikmati semuanya yang terpapar di sana. Aku akan mengamati tepi jalan menanjaknya, dan berpikir jika hamparan pucuk bambu di bawah sana adalah beledru hijau lembut yang tak pernah henti mengantarkan udara sejuk menyembuhkan. Sepertinya perjalanan ke Ruili bisa menolongku.</p>
<p>Aku tak akan berbicara. Aku tak akan membuat catatan. Aku juga tak akan memotret. Aku hanya ingin diam. Menyimak. Membiarkan pikiranku terlompat bersama roda bus yang terhentak tiap kali melindas bongkahan batu lepas dari aspalan. Beri aku waktu untuk bermenung dengan mesin yang terus menggerung. Karena aku terlalu bersebih untuk mengekalkan kenangan. Karena aku telalu luruh walau hanya untuk menghitung waktu. Aku tak perduli, aku hanya perlu <span id="more-2025"></span>tahu jika aku terus bergerak bersama sopir yang kami larang merokok sepanjang perjalanan. Dan biarkan aku mengalir bersama tatapan yang tak bisa bergulir.</p>
<p>Yang kini kubutuhkan, adalah pemandangan wanita-wanita Naxi bergerombol menuruni lereng gunung membopong daun-daun pinus serupa jarum dalam kelelahan purba. Di musim dingin, ternak mereka akan tidur di tumpukan daun tersebut untuk menghangatkan badan, dan nanti saat musim semi tiba, kaum wanita yang sama akan mengambil daun-daun yang telah bercampur kotoran itu sebagai pupuk untuk tanaman mereka yang baru. Bahkan daun jarum pohon pinus pun tak kesepian dalam hidupnya. Debu akan sedikit membuat para wanita itu batuk. Dan aku akan bertanya-tanya tentang para lelaki yang ada di rumah mereka. Aku ingin menghela nafas dengan sangat dalam dan panjang tanpa ada orang yang merasa perlu untuk menanyakan beban apa yang sedang kutanggungkan. Aku ingin keheningan itu. Dan aku akan teringat pada kamarku yang kecil. Dengan satu lemari sempit yang hampir memuntahkan isinya. Buku-buku menumpuk sementara lipatan baju tak pernah baru. Kau tentu masih ingat aku punya keberatan tertentu tentang semua ini.</p>
<p>Dalam perjalanan keheningan, aku akan mulai terhanyut. Aku tahu aku bisa menangis kapan saja. Burung putih terbang bergerombol meninggalkan petak sawah yang dibajak. Tupai melompt menjauh dari dahan yang di sana ular merah kehitaman merambat. Rusa lari sembunyi dari pinggir jalan tempat bus menyimpang. Aku akan mulai terngiang lagu-lagu menyedihkan yang selalu membuatku merana. Aku akan terdengar lagu tentang kepatahan oleh masa lalu. Aku akan mulai menutup mataku beberapa detik hanya untuk merasakan sesuatu yang hangat membasahi kelopaknya. Aku ingin berteriak bahwa aku bersalah dan aku ingin menyelesaikan semua kekacauan. Tapi aku tak ingin rombongan perjalanan ini mendengarnya. Aku tak ingin pimpinan rombongan yang membawa mikrofon menanyakanku apa yang jadi masalah. Aku tak ingin sopir berhenti beberapa detik dan menjadikan itu alasan untuk meyulut sebatang rokok. Aku hanya ingin keheningan, dan biarkan kelengangan ini hingar bingar dalam kepalaku yang tak bisa kau sentuh.</p>
<p>Keheningan ini tak pernah berubah sedari dulu.</p>
<p>Aku akan menyandarkan kepalaku pada kaca yang tebal dan tak bergeser. Aku akan merasakan goncangan di bawah kakiku tapi aku tak akan pernah terganggu. Aku akan meresapinya. Batang-batang eucalyptus berbaris di pinggri jalan berselingan dengan paulownia. Menyaksikan garis air di kaca yang dingin. Aku akan menghela nafas. Aku akan mendiamkan diriku. Aku akan mendengarkan nafasku. Aku akan melihat pantulan wajahku. Aku akan merasakan kegelisahanku. Aku akan membiarkan semuanya berlalu. Aku akan diam dalam jeritan parau itu. Aku akan memejamkan mata dalam gejolak ketakutan. Aku akan berpegangan dalam hantam yang mendentam. Aku akan tersenyum menyambut keakhiranku dalam ledakan. Bus wisata kami jatuh ke dalam jurang yang tak pernah dituruni orang sejak dua puluh empat tahun silam.</p>
<p>29 Desember 2011<br />
<em><br />
Dari balik jendela<br />
Kulihat seseorang menghapus namaku susah payah<br />
Dan dia hanya semakin terluka</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arulchandrana.wordpress.com/2025/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arulchandrana.wordpress.com/2025/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arulchandrana.wordpress.com/2025/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arulchandrana.wordpress.com/2025/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/arulchandrana.wordpress.com/2025/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/arulchandrana.wordpress.com/2025/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/arulchandrana.wordpress.com/2025/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/arulchandrana.wordpress.com/2025/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arulchandrana.wordpress.com/2025/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arulchandrana.wordpress.com/2025/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arulchandrana.wordpress.com/2025/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arulchandrana.wordpress.com/2025/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arulchandrana.wordpress.com/2025/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arulchandrana.wordpress.com/2025/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arulchandrana.wordpress.com&amp;blog=6098567&amp;post=2025&amp;subd=arulchandrana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arulchandrana.wordpress.com/2011/12/29/perjalanan-lengang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4e174eade05cf5b9d00ca157216469af?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">arulchandrana</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>penutur</title>
		<link>http://arulchandrana.wordpress.com/2011/12/18/penutur/</link>
		<comments>http://arulchandrana.wordpress.com/2011/12/18/penutur/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Dec 2011 07:37:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arulchandrana</dc:creator>
				<category><![CDATA[nebula]]></category>
		<category><![CDATA[sastra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arulchandrana.wordpress.com/?p=2018</guid>
		<description><![CDATA[Seperti halnya semua anak-anak lainnya, aku pun menyukai kisah-kisah lucu Abu Nawas. Aku yakin kau pun demikian. Aku suka sekali mendengarkan kisah-kisah konyol lelaki Baghdad itu bersama teman-teman selepas ngaji maghrib di masjid. Kami akan tertawa terpingkal-pingkal setiap kali sampai pada bagian ‘gila’ dari tiap kisahnya. Ya, kali ini aku ingin bertutur tentang sebuah kisah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arulchandrana.wordpress.com&amp;blog=6098567&amp;post=2018&amp;subd=arulchandrana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><div id="attachment_2019" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://arulchandrana.files.wordpress.com/2011/12/old-man.jpg"><img src="http://arulchandrana.files.wordpress.com/2011/12/old-man.jpg?w=300&#038;h=231" alt="" title="old man" width="300" height="231" class="size-medium wp-image-2019" /></a><p class="wp-caption-text">he&#039;s waitin for nothin&#039;</p></div>Seperti halnya semua anak-anak lainnya, aku pun menyukai kisah-kisah lucu Abu Nawas. Aku yakin kau pun demikian. Aku suka sekali mendengarkan kisah-kisah konyol lelaki Baghdad itu bersama teman-teman selepas ngaji maghrib di masjid. Kami akan tertawa terpingkal-pingkal setiap kali sampai pada bagian ‘gila’ dari tiap kisahnya. Ya, kali ini aku ingin bertutur tentang sebuah kisah berkenaan dengan penutur Abu Nawas. Kisah yang tejadi pada masa kecilku.<br />
***<br />
Pria itu kami panggil Obok Yomsi. Obok dalam bahasa Bawean adalah panggilan untuk orang yang lebih tua dari orang tua kita. Dan, tanpa suatu alasan yang jelas, kami semua sepakat bahwa Obok Yomsi pastilah lebih tua dari orang tua kami.</p>
<p>Dia kurus, tinggi, hidup sendiri, dan lama ditinggal isteri, mungkin hiburannya hanya<span id="more-2018"></span> kami, anak-anak tetangga kanan kiri. Yang membuat spesial pria ini adalah kemampuannya dalam bercerita Abu Nawas. Dia membuat kisah itu sangat amat lucu, bahkan yang baru berusia lima tahun pun bisa merasakan kelucuannya. Setiap hari, jika kami minta dia akan menceritakan kisah yang berbeda. Seakan ada jutaan kisah Abu Nawas di dalam lemarinya. Dan kalaupun dia mengulang kisah yang sama, kelucuannya tidak berkurang walau secuil saja. Bahkan bertambah-tambah. Pernah suatu ketika, karena penasaran, kami meminta Obok Yomsi menceritakan kisah Abu Nawas yang menungging di depan raja berulang-ulang seminggu penuh. Dan, tetap saja kami dibikinnya tertawa. Cerita itu selalu terdengar baru tiap kali kami mendengarnya. Dan pada hari ketujuh, cerita itu berhenti bukan karena kami bosan, tapi karena obok yang, katanya, mau muntah karena keseringan menceritakan kisah Abu Nawas yang sama.<br />
***<br />
Tapi jika kau pikir Obok Yomsi adalah jenis dari pria yang terlunta dan kurang berguna, kau salah besar. Obok Yomsilah pria yang ‘memegang’ kunci sholat kami. Beliau juru adzan. Sedikit yang kudengar mengenai dia, dulunya, jauh sebelum kakak pertamaku lahir, ia pernah mondok sampai beberapa tahun di Jawa. Dan saat kembali, bapak mengambilnya sebagai mu’adzin tak tergantikan untuk bertahun-tahun kemudian. Kupikir, Obok memang bukan hanya seorang penutur Abu Nawas yang berkarisma, tapi juga juru adzan yang sangat dicinta. Bahkan kemudian, orang-orang tidak hanya menggunakan istilah adzan untuk masuknya waktu sholat, mereka juga bilang, ‘la akasak Yomsi?’ sudah berbunyikah Yomsi? Subuh terasa sangat berbeda jika suara pertama yang kudengar bukan suara Obok. Dan lebih dari apapun itu, Obok juga telah mengambil peran sebagai orang dewasa keren pertama dalam hidupku.</p>
<p>Semua itu terjadi ketika suatu hari di tahun ke empat sekolahku aku mendapat tugas puisi dari guru bahasa Indonesia. Aku sangat bersemangat mendapat tugas tersebut. Bukan hanya karena berharap nilai, tapi karena membayangkan puisi tugasku itu akan menjadi puisi yang dibaca anak-anak sekolah berpuluh tahun kemudian seperti Berdiri Aku-nya Amir Hamzah yang diwajib-bacakan oleh guruku. Mungkin, itulah pertama kalinya aku terpesona oleh sebuah ketenaran. Aku pun menulis puisiku, dengan usaha memiripi Berdiri Aku yang sangat kelihatan: <em>tepi Labbhuan / jejak kaki dan hilang / ujung ombak yang tak memaafkan / menyeret teriak angin dan harapan / awan tak sobek oleh sayap / meninggalkan lembayung jingga di perbatasan / tapi nelayan sudah kemalaman / bahkan burung sudah pulang / melupakan / jejak kaki dan hilang</em>. Aku bermaksud untuk menggambarkan suatu senja di tepi pantai Labbhuan di desaku, dan aku dengan tololnya menganggap sudah berhasil membuat puisi sebagus Berdiri Aku. Kemudian, aku melakukan kesalahan pertamaku, aku mencari bapak, mendapatinya sedang memberi jenggot kitab kuning, menyodorkan puisiku dan kemudian aku menyesal. Berharap bisa membatalkan semua yang barusan kulakukan.</p>
<p>Bagi bapak, puisi adalah omong kosong. Kegilaan. Kemalasan. Kelemahan. Ketakberdayaan. Mungkin juga kebancian. Bapak lebih suka aku berani tidak mendapat nilai dari pada harus membuat puisi. Kalau sampai kau bikin puisi lagi, apalagi puisi cinta, ancam bapak tanpa mengangkat wajahnya dari ketas kuning itu, kubakar bukumu. Yang tidak bapak tahu setelah bapak kutinggal masuk kamar, puisi itu kurobek dari bukunya, kukantongi dan aku pergi. Aku ingin tertawa. Aku ingin Abu Nawas. Abu Nawas yang diceritakan Obok Yomsi, bukan orang lain.</p>
<p>Dan begitulah yang terjadi, aku tertawa terpingkal-pingkal seperti yang kuharapkan, lebih keras dari yang lainnya, bahkan. Obok Yomsi menceritakan bagaimana Abu Nawas mengakali telur ayam dari raja yang harus dia erami dan tetaskan. Setelah selesai, kami semua pulang dengan lebih bahagia. Tapi aku tidak. Aku berbalik. Kembali ke rumah obok dan mengetuk pintunya dengan sangat pelan. Siapa? Obok bertanya dari dalam. Dan tanpa menunggu jawaban, dia membuka pintu lagi untuk mendapatiku berdiri dalam kegelisahan. Aku menceritakan pada obok tentang bapak dan puisiku. Dia tersenyum dan meminta puisiku tersebut. Entah penglihatanku yang terkaburkan oleh keremangan atau memang kenyataannya demikian, aku, mungkin untuk pertama kalinya, melihat kemuraman yang dalam di wajah Obok Yomsi. Bersama dengan detik yang tak henti menitik, penyesalan pun menjalari pikiranku dengan cepat dan menyakitkan. Ternyata sebegitu buruknya sebuah puisi. Dengan itu aku telah membuat bapak marah, dengan itu pula aku telah membuat Obok merana. Dalam hati, kuumpat Amir Hamzah dan puisinya. Tapi kemudian, kata-kata Obok menyentakku, Rul, bagus sekali puisimu. Bagus sekali. Kau bukan hanya berhasil menyusun kata-kata yang indah kedengarannya (aku ingat guruku menyebut ini dengan istilah rima), tapi juga kuat maknanya. Seakan kau menghadirkan kesedihan yang tak bisa dielakkan (aku ingat guruku menyebut puisi begini dengan istilah bernyawa). Obok Yomsi memuji puisiku. Memuji rima dan kekuatannya. Bahkan, dia juga membuat sebuah pengakuan: aku juga suka puisi.</p>
<p>Obok Yomsi adalah orang dewasa paling keren pada masa itu. Masa di mana aku hanya mengenal ornag dewasa yang kulihat, bukan yang kubaca.<br />
***<br />
Tak jelas bagaimana benarnya kabar ini, ada yang bilang istrinya pergi ke Malaysia dan menikah lagi di sana, ada yang bilang istrinya kawin lari karena tak sabar dengan kemelaratannya, ada yang bilang karena istrinya percaya dia tak bisa memberinya anak. Banyak sekali rumor tentangnya yang di kemudian hari aku tahu itu rumor yang tak sedap, tapi bagi kami, para anak-anak fans berat Abu Nawas, Obok Yomsi adalah pria tanpa cela. Tak ada yang perlu dikeluhkan tentang dia. Baik adzan atau cerita-ceritanya. Atau kesendiriannya. Satu-satunya yang kami keluhkan adalah, bahwa di ujung aku kelas enam MI, Obok Yomsi mulai melemah dan sakit-sakitan. Memang dia masih adzan, tapi nafasnya tak lagi sepanjang biasanya. Memang dia masih bercerita, tapi batuknya mengganggu tiap kejutan yang biasa dia berikan dari intonasinya. Hingga suatu hari, selepas mengaji kami serombongan anak-anak datang ke Obok Yomsi dengan satu timba penuh buah-buahan. Ada jambu, srikaya, papaya, delima bahkan beberapa butir apel. Guru IPA kami adalah orang tertingi gelarnya di sekolah kami, kami percaya kata-katanya, dan tadi siang dia bilang jika buah-buahan bisa membantu untuk menjaga kesehatan. Malam harinya, kami pun datang untuk membantu pria dewasa terkeren dalam kehidupan kami, Obok Yomsi. Agar dia cepat sembuh. Agar adzannya panjang lagi. Agar dia bisa bercerita lagi. Agar tertawa kami bisa sempurna lagi. Agar masa-masa menghadapi EBTANAS (sekarang UAN) tidak semenakutkan ini. Kami bernyanyi di sepanjang jalan menuju rumah Obok Yomsi.</p>
<p>Temanku yang paling bersemangat yang sampai duluan di halaman. Dia yang pertama kali masuk beranda. Dia yang pertama kali mengucapkan salam. Dia yang pertama kali mengetuk pintu. Dia yang pertama kali memanggil Obok berulang-ulang. Tapi, akulah yang pertama kali merasakan kegelisahan. Akulah yang pertama kali tahu ada yang tak menenangkan. Akulah yang pertama kali mendobrak pintunya yang tak terkunci. Akulah yang pertama kali lari ke kamarnya. Dan, akulah yang pertama kali melihatnya di sana berbaring diam. Obok Yomsi sudah mati. Sendiri.<br />
***<br />
Masih perlukah kugambarkan bagaimana kekalutan itu membakar kami semua? Bagaimana jeritan panik, takut, sedih, frustasi dan tak percaya meracuni pikiran kami semua? Tidak ada malam yang sekejam itu bagiku kemudian. Kami menangis di pinggir dipan Obok. Sebagian dari kami, yang sudah SMP, lari keluar memanggil tetangga. Rumah itu pun segera penuh sesak dan tak muat. Kami para anak kecil dipaksa keluar dan duduk di halaman. Sambil menatap pintu masuk, aku berpikir, seharusnya kami yang duduk di dalam rumah itu, di dekat tubuhnya yang kaku, karena kamilah yang benar-benar tahu tentang pria yang mati di situ, bukan para orang dewasa yang tak pernah mau mendengarkan cerita-cerita Abu Nawas yang lucu. Namun demikian, sampai tiga menit kemudian, atau lebih, barulah aku menyadari jika air mataku mengalir terus tak berhenti.</p>
<p>Kematian Obok Yomsi membuat kami murung dan kehilangan antusiasme. Seperti orang kematian pacar. Suatu petang, empat hari setelah kematiannya, aku mendapati bapak membakar banyak kertas di belakang rumah. Dia tak menjawab waktu kutanya kertas apa itu yang dia bakar. Diam-diam aku mengambil satu. Kertas itu penuh dengan tulisan pegon (bahasa jawa atau Indonesia yang ditulis dengan huruf hijaiyah). Dan aku segera tahu siapa penulisnya, Obok Yomsi! Kefasihanku membaca Qur’an membuatku mudah saja membaca aksara pegon itu dan seketika itu pula aku tahu jika yang sedang dibakar oleh bapak adalah ratusan lembar puisi karya Obok Yomsi. Gigiku gemeretak, aku berdiri dan memberanikan diri untuk bicara tegas, walau yang kudengar hanya suara mencicit menggelikan, bapak, sesungguhnya Obok Yomsi sangat menyukai puisi! Kemudian aku diam. Dan bapak pun hanya diam. Hanya deru api dan cahaya kuningnya bermain di muka kami. Ah, aku tak tahu harus berbuat apa lagi. Aku pun berbalik hendak pergi tapi suara bapak menghentikanku, kembalikan kertas yang kau pegang itu. Memang selembar puisi itu kukembalikan, dan aku juga menyaksikan sendiri bagaimana bapak melemparnya ke dalam api tanpa ekspresi. Tapi yang tidak bapak tahu, aku menyimpan sepuluh yang lain dalam sakuku. Atau, dia tahu tapi membiarkanku? Entah.</p>
<p>Di kamar, aku membaca satu persatu puisi-puisi itu dan aku mendapatkan dua hal yang membingungkan sekaligus membuatku penasaran, pertama, kebetulan sekali, ternyata salah satu kertas itu berisi tulis ulang puisi pantai Labbhuanku. Ke dua, selain pada puisiku, Sembilan puisi lainnya mengandung satu nama yang sama: Masiyah. Nama yang kabarnya adalah nama wanita yang dulunya sempat menjadi istri Obok Yomsi.<br />
***<br />
Kematian Obok Yomsi telah menjadi satu peristiwa tersendiri untuk masa kecilku. Setelah itu aku masih pergi mengaji di masjid. Juga masih berkumpul dengan teman-teman. Bercanda dan saling mengolok-olok. Hanya saja, setiap kali seseorang menceritakan kisah Abu Nawas yang dulunya pernah diceritakan Obok, aku sama sekali tak merasakan itu lucu. Sepertinya, kisah Abu Nawas telah mati kelucuannya bersamaan dengan kematian penuturnya yang terbaik. Dan, oh ya, setelah aku dewasa barulah aku tahu jika, mungkin, 80 persen cerita Abu Nawas yang Obok ceritakan sebenarnya adalah cerita karangannya sendiri. Itu menjelaskan mengapa dia punya demikian banyak koleksi Abu Nawas untuk diceritakan tiap malam.</p>
<p>Arul Chandrana</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arulchandrana.wordpress.com/2018/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arulchandrana.wordpress.com/2018/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arulchandrana.wordpress.com/2018/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arulchandrana.wordpress.com/2018/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/arulchandrana.wordpress.com/2018/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/arulchandrana.wordpress.com/2018/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/arulchandrana.wordpress.com/2018/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/arulchandrana.wordpress.com/2018/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arulchandrana.wordpress.com/2018/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arulchandrana.wordpress.com/2018/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arulchandrana.wordpress.com/2018/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arulchandrana.wordpress.com/2018/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arulchandrana.wordpress.com/2018/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arulchandrana.wordpress.com/2018/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arulchandrana.wordpress.com&amp;blog=6098567&amp;post=2018&amp;subd=arulchandrana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arulchandrana.wordpress.com/2011/12/18/penutur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4e174eade05cf5b9d00ca157216469af?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">arulchandrana</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://arulchandrana.files.wordpress.com/2011/12/old-man.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">old man</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>DOSA</title>
		<link>http://arulchandrana.wordpress.com/2011/12/17/dosa/</link>
		<comments>http://arulchandrana.wordpress.com/2011/12/17/dosa/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Dec 2011 22:47:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arulchandrana</dc:creator>
				<category><![CDATA[nebula]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arulchandrana.wordpress.com/2011/12/17/dosa/</guid>
		<description><![CDATA[DI ujung tidurku, sayang, ibu memanggi dan menitip pesan. Tapi aku sudah menghilang.<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arulchandrana.wordpress.com&amp;blog=6098567&amp;post=2017&amp;subd=arulchandrana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>DI ujung tidurku, sayang, ibu memanggi dan menitip pesan. Tapi aku sudah menghilang.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arulchandrana.wordpress.com/2017/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arulchandrana.wordpress.com/2017/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arulchandrana.wordpress.com/2017/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arulchandrana.wordpress.com/2017/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/arulchandrana.wordpress.com/2017/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/arulchandrana.wordpress.com/2017/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/arulchandrana.wordpress.com/2017/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/arulchandrana.wordpress.com/2017/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arulchandrana.wordpress.com/2017/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arulchandrana.wordpress.com/2017/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arulchandrana.wordpress.com/2017/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arulchandrana.wordpress.com/2017/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arulchandrana.wordpress.com/2017/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arulchandrana.wordpress.com/2017/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arulchandrana.wordpress.com&amp;blog=6098567&amp;post=2017&amp;subd=arulchandrana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arulchandrana.wordpress.com/2011/12/17/dosa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4e174eade05cf5b9d00ca157216469af?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">arulchandrana</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>BERLEPAS</title>
		<link>http://arulchandrana.wordpress.com/2011/12/17/berlepas/</link>
		<comments>http://arulchandrana.wordpress.com/2011/12/17/berlepas/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Dec 2011 22:38:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arulchandrana</dc:creator>
				<category><![CDATA[nebula]]></category>
		<category><![CDATA[sastra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arulchandrana.wordpress.com/2011/12/17/berlepas/</guid>
		<description><![CDATA[MENGHADAPI pelepasanmu, kata Che Zen, mungkin bukanlah yang terburuk. Tapi seperti yang kita semua tahu, adalah yang terberat.<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arulchandrana.wordpress.com&amp;blog=6098567&amp;post=2016&amp;subd=arulchandrana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>MENGHADAPI pelepasanmu, kata Che Zen, mungkin bukanlah yang terburuk. Tapi seperti yang kita semua tahu, adalah yang terberat.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arulchandrana.wordpress.com/2016/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arulchandrana.wordpress.com/2016/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arulchandrana.wordpress.com/2016/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arulchandrana.wordpress.com/2016/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/arulchandrana.wordpress.com/2016/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/arulchandrana.wordpress.com/2016/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/arulchandrana.wordpress.com/2016/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/arulchandrana.wordpress.com/2016/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arulchandrana.wordpress.com/2016/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arulchandrana.wordpress.com/2016/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arulchandrana.wordpress.com/2016/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arulchandrana.wordpress.com/2016/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arulchandrana.wordpress.com/2016/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arulchandrana.wordpress.com/2016/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arulchandrana.wordpress.com&amp;blog=6098567&amp;post=2016&amp;subd=arulchandrana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arulchandrana.wordpress.com/2011/12/17/berlepas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4e174eade05cf5b9d00ca157216469af?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">arulchandrana</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
