• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

  • buku terbit

    klik untuk menelusur

  • klik untuk menelusur

ELEPENT

Saya Tawarkan Elepent Dan Apakah Tanggapan Anda?
Sebuah Undangan Diskusi Untuk Saling Memberi Dan Menghargai.


Elepent: Lembaga Pendidikan Tertawa

PROLOG
ELEPENT adalah akronim dari Lembaga Pendidikan Tertawa, sebuah lembaga pendidikan yang bertujuan untuk membuat para penuntut ilmu merasakan bahwa belajar adalah suatu aktifitas yang membahagiakan serta untuk menggugah kesadaran betapa berharganya hidup yang kita jalankan. Jika baru mencapai baris ini Anda sudah tertawa, terimakasih, Anda telah membuat kami merasa tidak sia-sia. Jika Anda ingin mengetahui lebih banyak tentang lembaga ini tapi merasa tidak tertarik atau sedang sibuk atau tidak butuh untuk mengetahui kronologis munculnya Elepent di dunia ini, silakan Anda skip point 1 dan 2, langsung membaca point ke tiga—dan seterusnya—dari artikel ini karena point-point itulah yang mengandung jati diri si ‘gajah’ pintar.

1. Dua yang mengawali segala
KUNJUNGANKU ke desa Slawe—desanya Amar—hari itu sama sekali tidak diawali dengan suatu tujuan besar tertentu. Tidak. Aku tidak merencanakan untuk membuat acara bedah buku, atau seminar, atau sekedar training motivasi pun tidak. Tujuanku hanya untuk keluar sementara dari rutinitas dan melampiaskan beberapa persen kegilaan yang memang sudah waktunya untuk di beri jalan keluar. Dan aku melakukannya.

Kami, aku dan Amar, bermotor menuju Slawe dari Tuban dengan melewati rute yang tak biasa. Kami melewati jalan raya di tengah hutan. Melintasi perkampungan yang jumlah pohonnya jauh lebih banyak dari pada jumlah manusianya. Menelusuri jalan yang kiri –kanannya rapat berjejer pohon-pohon besar sehingga cabang-cabangnya bertemu di atas jalan dan membentuk terowongan hidup yang sejuk dan remang. Kemudian, kami mencapai jalan yang membujur di tengah-tengah persawahan. Di beberapa petak kami temukan kumpulan para petani yang bergotong royong memotong padinya. Sebagian memasukkan padi-padi tersebut ke dalam mesin yang merontokkan bulir-bulirnya. Aku merasakan ketakjuban. Merasakan kesegaran. Merasakan kepuasan. Dan akhirnya, hantu fotografi pun bangkit dari dalam jiwaku. Aku mulai menjepret di sepanjang perjalanan itu.

Tapi pada malam ke dua, sesuatu yang tak terduga pun datang. Di rumahnya, Amar menggelar kursus untuk murid-muridnya di Madarasah Ibtidaiyah. Dan malam itu, setelah melewati diskusi tak lebih dari dua menit 14 detik, aku pun dijadwalkan mengganti jam kursusnya untuk memberi materi apa saja yang mau kusampaikan kepada mereka, siswa-siswinya itu. Dan kami pun menyepakati satu hal yang menurut kami sangat penting untuk mereka dapatkan: motivasi belajar.

Aku pun melakukannya—sebagaimana aku sering kali melakukannya di tempat berbeda sebelumnya. Acara malam itu berlangsung semarak. Kami semua senang dan merasakan manfaat yang menakjubkan. Anak-anak senang mendaptkan tamu yang demikian lucu tapi membuka pikiran-pikiran baru untuk mereka resapi. Sepertinya aku telah mengejutkan mereka dalam beberapa hal juga mengocok perut mereka dalam beberapa guyonan gila. Dan aku pun bahagia—kupikir justeru akulah sebenarnya yang paling berbahagia—karena mereka telah demikian antusias mengikuti presentasiku. Aku merasakan betapa hidupku benar-benar bisa menjadi setumpuk manfaat yang selalu dinantikan. Kami puas.

Esok siangnya, Amar yang juga mengajar di sebuah Madrasah Tsanawiayah swasta di di luar desanya, sebagaimana semua SMP / MTs di seluruh Indonesia, diselenggarakan pula kursus tambahan untuk siswa kelas tiga guna persiapan menghadapi ujian. Kebetulan hari itu jadwal Amar memberi kursus. Dan—seperti yang mungkin sudah Anda duga—tanpa meminta persetujuanku, Amar menentapkan jika hari itu aku harus mengisi kelasnya untuk memberi motivasi buat anak didiknya serupa dengan yang kulakukan semalam. Aku hanya tertawa. Aku sangat senang dengan cara kami berkomunikasi yang demikian cepat, terbuka dan bebas biaya. Aku cinta kejutan-kejutan mematikan yang kami rayakan pada hari itu.

Dan aku pun mulai berbicara di kelas tersebut. Kukatakan pada Amar agar jangan berbahasa Indonesia denganku begitu kami mencapai lingkungan seklah, apalagi bahasa Jawa. Bahkan jangan bilang kalau aku orang Indonesia, “remember, don’t tell ‘em I’m an Indonesian. I’m a Pakistan, coming here to play game with them.” Permintaan tak logis yang seketika itu juga dia kabulkan. Dan kelasku pun diawali dengan keterkejutan yang tak terantisipasi. Para siswa, putra-putri, terhenyak mendapati seseorang berjenggot yang seketika setelah salam langsung menggunakan Bahasa Inggris dalam komunikasinya. Tapi luar biasanya, mereka bisa menangkap semua instruksiku dan kami pun bermain game! Pastilah semalam mereka mendapat mimpi paling gila dalam hidup mereka karena hari ini tiba-tiba saja mereka diajak bermain game—game matematika—dengan menggunakan Bahasa Inggris sebagai sarana komunikasi. Mereka pun dengan percaya diri menggunakan Bahasa Inggris untuk mengimbangiku yang ‘tidak paham’ bahasa Indonesia.

Di tengah acara, ketika mereka sedang gembira menemukan jawaban teka-teki matematika yang kusajikan, aku pun berteriak lantang: aku iki yo wong jowo! Podo karo awakmu! Wakakakaka, kemudian, tawa paling gila lah yang aku dapat sebagai jawabannya.

2. Letupan ide dan komitmen
DALAM kunjungan itu pula aku untuk pertama kalinya merasakan pengalaman menjaga sawah di malam hari sambil menyetrum tikus. Tapi aku dan Amar tidak berbuat apa-apa. Kami datang ke sawah dengan membawa botol air, toples makanan dan laptop. Sementara ayah Amar menghisap rokok sembari memantau sawah, kami mulai menonton beberapa video pendek aksi Messi mengolah bola dan dilanjut dengan aksi atraktif Rey Misterio men-smackdown lawannya. Sawah yang sunyi itu pun gaduh tanpa malu-malu.

Tapi yang membuat kami berpikir dalam, adalah, buku yang kami beli di kota Tuban pada siang harinya. Patch Adams, judulnya. Buku yang memaparkan kisah seorang dokter eksentrik dari Amerika dan usahanya mendirikan sebuah rumah sakit gratis—benar-benar gratis! Tanpa repot-repot mengurusi administrasi berbelit—dan merombak system perawatan yang kaku menjadi perawatan yang kocak dan penuh kekeluargaan. Dalam praktiknya sebagi doketer, Patch dan juga rekan-rekannya, bukannya mengenakan seragam putih-putih lazimnya yang dikenakan para dokter, tapi mereka mengenakan baju badut lengkap dengan hidung merahnya. Aku dan Amar terpesona. Lelaki itu benar-benar melakukan sesuatu yang jauh dari jerat lingkungannya. Kami ternganga menyadari bahwa selalu ada peluang di dunia ini untuk mengubah sesuatu yang paling sulit sekalipun. Anything is possible.

Lihat patch, Amar memulai, dia mengubah prosedur dan system pelayanan kesehatan yang demikian kokoh dan tak tergoyah menjadi sesuatu yang sesuai dengan kata hatinya dan lebih manusiawi. Bahkan dia benar-benar membuat rumah sakit gratis! Aku berpikir…kita mestinya bisa melakukan sesuatu. Amar pun merencanakan untuk mengadakan acara seperti kemarin lebih sering di sekolahnya. Aku membayangkan bagaimana jika kami bisa membawa ‘acara serupa’ ke sekolah-sekolah yang lain, ke lingkungan yang lebih luas.

Ide tentang ‘aku pikir kita mestinya bisa melakukan sesuatu’ mulai menghantui kami. Kami memikirkan tentang dua presentasi yang berhasil dengan manis. Kami memikirkan wajah-wajah mereka yang bahagia dan tersenyum saat belajar. Tentang keceriaan di sekolah-sekolah dan ruang-ruang kelas. Kami memikirkan tentang, hey, bagaimana jika ada lebih banyak lagi murid-murid dengan wajah tersenyum? Pikiran itu benar-benar menghantui kami sampai saat aku pulang.

Pada hari yang sama di hari kepulanganku tersebut, setelah aku sampai di pondok, saat aku membuka lemari dan menaruh barang-barangku di dalamnya, di saat pikiranku juga sendang mengembara, sms Amar datang dan dia menjerit: kita harus melakukan sesuatu! Dan diskusi kami pun berlanjut hingga akhirnya kami sepakat untuk membentuk sebuah tim yang membawa misi: menyebarkan kebahagiaan dalam belajar kepada siswa-siswi di sekolah-sekolah di sekitar kami. Dan esok harinya, kukatakan pada Amar bahwa tim itu haruslah bernama: ELEPENT, Lembaga Pendidikan Tertawa—huruf E di awal nama Elepent adalah tantangan bagi Anda untuk sekali waktu berani meniadakan logika yang, sialnya, seringkali menghambat untuk bermimpi tinggi.

Maka dengan itu, pada tanggal 21 April 2012, bertepatan dengan peringatan Hari Kartini, kami telah menyepakati terbentuknya Elepent. Pada tanggal itulah Elepent terlahir, pada pukul sepuluh pagi kurang beberapa menit. Elepent telah lahir dengan selamat, penuh semangat dan ramai oleh gelak tawa bahagia.

3. Berkenalan dengan si ‘gajah’ pintar
KAMI pun mulai mendiskusikan banyak hal, merumuskan banyak pikiran dan merancang banyak model untuk lembaga ini. Keputusan-keputusan yang kami ambil adalah wujud dari identitas lembaga yang kami bentuk.

Elepent bukanlah sebuah lembaga kursus atau lembaga training penguasaan mata pelajaran tertentu. Tidak. Elepent bukanlah lembaga bimbingan belajar yang didatangi tiap hari oleh murid-muridnya dengan kegelisahan dan ketergesa-gesaan di kepala. Elepent adalah sebuah lembaga yang bertujuan untuk membangun kesadaran siswa bahwa belajar itu menyenangkan. Bahwa belajar adalah kegembiraan. Bahwa belajar adalah pesta yang luar biasa. Bahwa setiap momen yang baru saja kita lewati dengan belajar adalah momen yang menakjubkan karena seketika sesudahnya kita pun berubah menjadi manusia yang lebih berkualitas dari sebelumnya. Elepent adalah lembaga untuk membuat orang tertawa dan pintar secara bersamaan.

Dalam rangka mewujudkan cita-cita tersebut, Elepent akan melakukan roadshow atau kunjungan ke sekolah-sekolah dan mengadakan training ‘Kebahagiaan Belajar’ di sana. Kami akan mengadakan kegiatan bersama para siswa di mana mereka tidak berposisi sebagai sasaran pasif yang cuma mendengar dan dipaksa untuk meyakini apa yang kami jejalkan, tapi mereka akan dilibatkan dan diajak untuk merasakan pengalaman indahnya belajar, asyiknya mendapatkan informasi, asyiknya menyelesaikan tantangan, dan akhirnya, berbahagia dengan seluruh proses belajar secara kesleuruhan. Kami akan mengupayakan bagaimana mereka menyadari bahwa setiap detik yang mereka lewati di bangku sekolah adalah derai waktu yang demikian berharga dan menakjubkan.

Kami tidak membatasi diri kami dalam tampil di acara-acara tersebut. Kami akan bersenang-senang dengan kostum badut, dengan topeng superhero, dengan riasan wajah, dengan menari bersama, mengajak mereka belajar sambil mendengarkan music, belajar sambil mengalami dan menemukan dengan praktek langsung. Semua kegembiraan ingin kami bawa kepada mereka yang siap untuk merayakannya.

4. Apa prinsip kerja kami?
KEIKHLASAN, Kebahagiaan dan Pencerahan adalah pedoman yang kami pegang dalam kegiatan-kegiatan Elepent.

Baik aku maupun Amar, dalam hal ini Amar sebagai orang yang lebih kaya dariku dengan bukti dia punya sepeda ontel sekaligus sepeda motor di rumahnya, tidak berani untuk memikirkan bahwa kegiatan ini harus mendapatkan imbalan uang. Kami datang untuk memberi dan tidak memutuskan bahwa harus kembali dengan membawa sesuatu. Yang kami pikirkan adalah, kapan lagi kami akan melakukan sesuatu yang berarti? Kapan lagi kami akan mebuat tindakan yang tidak hanya untuk diri kami sndiri? Kapan lagi kami akan membuat perubahan jika tidak sekarang? Kami berdua adalah pemuda yang telah mengalami masa sekolah yang tidak bisa menikmati belajarnya dengan benar-benar berbahagia—khususunya aku yang mempunyai kenangan amat jelas tentang hal ini—dan sekarang kami menemukan cara untuk berbahagia dalam belajar. Kami ingin pengalaman kami tidak terwariskan. Kami ingin semua pelajar berbahagia. Dan untuk itu kami memutuskan untuk melakukan sesuatu yang berguna. Mumpung kami masih muda, mumpung kami—khususnya aku—belum menikah. Karena aku punya firasat, tidak mungkin ada dua di antara 456 wanita yang akan dengan ikhlas mendukung ‘kegilaan’ suaminya, hahahahaha—semoga ada yang membantah asumsi buta ini. Maka keikhlasan adalah hal pertama yang kami tetapkan dalam melaksanakan Elepent. Selain itu, kami sadar bahwa hanya kesia-siaan dan kelelahan yang akan didapatkan bagi tiap kegiatan yang dilaksanakan tanpa keikhlasan.

Kebahagiaan adalah kunci ke dua dari kegiatan Elepent. Tidak bisa kubayangkan betapa hancur sebuah kelas yang diajar oleh guru yang bosan dengan kelasnya. Kami ingin berbahagia, dan kami ingin dengan serius agar orang lain turut berbahagia. Kami sangat termotivasi agar para pelajar bahagia sementara mereka belajar. Kebahagiaan adalah apa yang ingin kami wujudkan dari setiap acara Elepent. Jika ada satu acara Elepent yang ternyata para pesertanya tidak berbahagia selama acara diselenggarakan, hahaha, sudah tak usah banyak omong, kami tahu kami telah kalah pada hari itu.

Dan pencerahan merupakan pemungkas dari semuanya. Tidak utuh apa yang kami lakukan dengan ikhlas dan para peserta kegiatan berbahagia akan tetapi kenyataannya mereka tidak tercerahkan. Mereka tidak berubah. Pikiran masih gelap dan belajar masih saja nomor satu dari daftar kegiatan membosankan yang mereka punyai. Semua yang kami lakukan adalah untuk membawa pencerahan kepada siapapun yang kami datangi.

Pencerahan adalah hasil yang ingin kami lihat. Pencerahan, bahwa belajar itu menyenangkan dan hidup sangat berharga, adalah apa yang ingin kami sebarkan.

5. Dari mana Elepent mendapatkan ‘bahan bakar’?
Memang keikhlasan adalah tonggak awal dari setiap aktifitas Elepent, hanya saja, kami tetap tidak bisa menyingkirkan konsekwensi logis yang harus kami tanggung untuk tiap kali pengadaan kegiatan. Kami akan memubutuhkan bensin untuk berkendara, kami akan butuh makan agar bisa bicara, kami akan butuh perlengkapan untuk tampil maksimal. Itu mendorong kami untuk memikirkan sumber dana.

Untuk itu, aku merencanakan untuk membuat buku pendamping belajar. Hasil dari penjualannya akan digunakan untuk biaya operasional Elepent. Saat ini, kami sedang berusaha menemukan di mana percetakan yang murah dan bagus kualitasnya. Buku-buku tersebut akan kami pasarkan di sekolah-sekolah tempat kami mengadakan acara atau kami titipkan di koperasi-koperasi sekolah yang bisa kami ajak bekerjasama.

Apakah kami menerima sumbangan? Ahahaha, inilah pertanyaan yang sudah kutunggu-tungguijinkan saya bercerita sedikit, pada masa-masa awal Patch Adams mengelola Gesundheit Institute—nama rumah sakit gratis yang dia buat—dia hanya memiliki sedikit dana sampai akhirnya dia dan rekan-rekannya harus memasuki era menolak pasien karena keterbatasan dana. Patch pun memutuskan untuk ‘turun jalan’ dan melakukan kampanye guna mendapatkan sumbangan. Semua itu agar dia dan rekan-rekannya bisa tetap menjalankan pengobatan gratisnya. Kami, Elepent, juga menyadari bahwa hal itu tak terelakkan. Bahwa sumbangan memang akan sangat membantu dalam melancarkan kegiatan ini. Karena itulah, kami pun menerima setiap sumbangan yang diulurkan masyarakat maupun individu untuk proyek Elepent ini.

Awalnya aku ingin lembaga ini menjadi lembaga yang mandiri, membiayai keperluan-keperluannya dengan usaha kreatif sendiri dan membebaskan diri dari jeratan hutang budi—atau merasa terbebani. Aku membayangkan tentang sebuah yang demikian merdeka bertanggung jawab penuh atas setiap keputusannya tanpa harus merasa ada tekanan atau pesanan. Apalagi, kami adalah tipe-tipe orang yang benci dengan segala keruwetan administrasi yang biasanya menyertai sumbangan-sumbangan. Sebagai contoh, Amar sangat tahu betapa menjengkelkan dan melelahkannya segala kerumitan dalam proses penerimaan BOS—belum lagi ditambah fakta bahwa selalu saja ada rupiah yang tercecer di tangga-tangga penyaluran sumbangan tersebut. Hanya saja, melihat betapa kami saat ini justeru termasuk golongan yang layak menerima zakat, kami pun dengan tersenyum menyepakati bahwa Elepent adalah ‘gajah’ yang menerima rumput dari siapa saja dermawan yang ingin berpartisipasi dengan syarat sumbangan tersebut tidak mengikat dan tidak dengan tendensi tertentu yang menurut kami bisa mengkontaminasi Elepent.

Sumbangan yang diberikan bisa berupa apa saja, tidak melulu uang. Kami menerima buku bekas, di samping untuk kami baca guna menambah pengetahuan, juga untuk kami jual untuk kas Elepent. Kami juga menerima sumbangan alat tulis, baju, lemari besi, sepeda motor, mobil, kapal pesiar, hak kelola jalan tol, sebuah lapangan udara, lahan seluas 345 akre atau juga rumah atau apa saja asalkan tidak menyulitkan dan bisa diambil manfaatnya guna menunjang operasional lembaga tertawa ini. Bahkan, Anda juga bisa menyumbangkan materi untuk kami masukkan dalam buku pendamping belajar tersebut. Tentu saja nama Anda akan kami cantumkan sebagai salah seorang penyusun.

6. Mengapa dua pria konyol ini menyebut dirinya lembaga?
Jika Anda merasa penasaran dan memang benar-benar menanyakan hal ini, sungguh, Amar pun melakukan hal serupa. Dia merasa heran, mengapa aku menyebutnya lembaga, mengapa tidak, sebagai contoh, tim saja? Dengan personil yang cuma dua gelintir serta model keorganisasian yang sangat ‘primitive’, kami akan lebih cocock untuk disebut sebagai tim daripada lembaga. Baiklah, jangan merasa malu, itu sebuah pertanyaan yang bagus, tapi aku juga punya jawaban yang bagus untuk Anda.

Ketika aku memutuskan untuk serius dengan rencana kami mengkampanyekan belajar yang bahagia, aku tidak lagi membayangkan bahwa kami harus seumur hidup keliling dari satu sekolah ke sekolah lainya menggotong visi dan misi kami. Tidak. Suatu saat nanti kami harus mempunyai sebuah lahan—mungkin di pinggir Bengawan Solo, atau di dekat persawahan—dan membangun gedung kami di sana. Sebuah gedung yang hanya berisi kebahagiaan, tawa, humor, dan keikhlasan dari setiap staffnya serta pencerahan yang akan didapat oleh setiap pengunjungnya. Ini tak ubahnya dengan Patch Adams yang sudah membayangkan rumah sakit gratis miliknya begitu dia menyadari bahwa system pelayanan kesehatan di negaranya hanyalah menumpuk masalah. Aku ingin memetakannya dalam mimpi dulu karena itu penting untuk mewujudkannya di dunia nyata.

Di gedung itu nantinya akan ada banyak saranan bermain untuk anak-anak dan mading yang menawan bagi pengunjung yang lebih tua. Perpustakaan dan ruang diskusi yang menyatu dengan alam tersedia untuk semua kalangan. Di sana aku akan mempunyai kelas menulisku sendiri yang setiap pesertanya bebas menuliskan keusilannya. Amar juga bisa mendapatkan kelas menari India-nya—oh Tuhan, amar ini sungguh penggemar berat Hrithik Roshan dan joget lincahnya! Kami akan memiliki kebun dan setiap orang bebas merasakan pengalaman menanam, menyiram, merawat, dan memetik hasilnya. Mereka bisa menyumbang Elepent dengan membeli hasil panen kebun tersebut dengan harga yang mereka tentukan sendiri. Gedung tersebut akan memberikan kebahagiaan sekaligus pencerahan dan kenikmatan mendapatkan pengetahuan bagi siapa saja yang mengunjunginya. Wawasan dari buku sekaligus petualangan dari pengalaman semuanya tersaji di satu lahan, dan itu benar-benar akan menjadikan Elepent sebagai lembaga belajar yang berbahagia.

Amar terperanjat mendengar rencana itu, tapi dia tertawa karena menyadari bahwa awal dari setiap yang besar di dunia ini adalah mimpi yang besar. Kami bermimpi untuk mencapai langit, sehingga kalaupun tidak berhasil, kami masih akan jatuh ke puncak gunung. Andai kami bermimpi hanya untuk mencapai puncak gunung, jika gagal, kami akan langsung jatuh ke tanah. Atau mungkin ke dalam sumur.

Penyebutan lembaga untuk tim yang kami bentuk adalah cita-cita sekaligus lecut motivasi yang akan selalu kami bawa kemana saja kami pergi. Ini akan menjadi rencana besar bersama yang menyenangkan dan membuat kami termimpi-mimpi guna menyaksikan perwujudannya.

7. Pendidikan kepribadian
Dalam diskusi selanjutnya, Amar mengajukan gagasan tentang: pendidikan kepribadian. Ya, ini sesuatu yang sangat penting. Kami membahasnya dan menemukan bahwa salah satu yang membuat siswa tidak bahagia dalam belajar—bersekolah—adalah karena adanya sesuatu yang tak lurus dengan kepribadiannya. Ada yang perlu ditata dalam caranya memandang dunia dan kehidupan yang sedang digelutinya. Maka aku pun mengajukan hal ini sebagai materi utama kedua yang akan kami usung dalam kegiatan-kegiatan Elepent: pendidkan syukur. Bagaimana mungkin seseorang akan merayakan kehidupan dan kesempatan yang dia punya jika dia tidak mensyukuri kehidupan dan kesempatan tersebut? (jika sebelum bab ini Anda sudah mendapati penyebutan konsep tersebut dalam penjelasan gerakan Elepent, sebenarnya itu penyebutan yang belum saatnya. Aku memutuskan untuk menuliskannya karena ingin menampilkan keutuhan dari pada patuh pada kronologis.)

Setiap jam di belahan dunia yang lain selalu ada orang mati karena kelaparan, perang dan penyakit. Bencana itu tak terelakkan dan membuat kehidupan terasa menyesakkan. Bagaimana bisa seseorang dengan sembrono menyia-nyiakan kesempatan hidup, waktu untuk belajar, kesehatan, keamanan dan nasi untuk dimakan sementara orang yang lainnya mati karena tidak mempunyai ke limanya? Maka pendidkan kepribadian dalam gerakan Elepent memiliki tujuan untuk memupuk jiwa bersyukur dalam diri para pelajar. Agar mereka tahu betapa beruntung mereka. Betapa luar biasa yang mereka miliki saat ini. Betapa rugi jika semua yang meraka punya dibiarkan begitu saja tanpa berjuang untuk memaksimalkannya. Belajarlah dengan riang gembira karena kesempatan yang kau punya demikian berharga. Setiap bentuk penyia-nyiaan dalam hal ini adalah wujud dari kebodohan yang paling parah dan kecerobohan tidak hanya pada dirinya tapi juga kepada Tuhan.

Elepent hadir tidak hanya untuk membawa kebahagiaan dalam belajar, tapi untuk membentuk jiwa yang empati, bertanggung jawab dan peka terhadap diri sendiri dan lingkungannya. Ketika kita berhasil membentuk generasi muda yang bergairah dan perduli, kami percaya bahwa sebenarnya yang kita lakukan adalah menyiapkan generasi baru yang memiliki harapan lebih baik, semangat hidup yang menggelora dan kestabilan masyarakat yang menenteramkan. Generasi yang bisa membuat kita tenang saat meninggalkannya.

8. Langkah-langkah menuju puncak
Membawa sebuah ide dalam wadah sebuah organisasi menuntut para pengusungnya untuk merancang langkah apa saja yang akan ditempuh agar sampai pada puncak dari cita-cita idealnya. Dalam hal ini, kami menetapkan tiga langkah untuk mencapai apa yang kami cita-citakan.

Tahap pertama yang akan kami tempuh adalah tahap sosialisasi. Dalam phase ini, kami akan membawa ide Elepent ke masyarakat luas dengan mengadakan roadshow ke sekolah-sekolah atau lembaga pendidikan apa saja yang bisa kami ajak bekerjasama. Jika memungkinkan, kami juga kan menggelar acara kami sendiri dan mengundang sekolah-sekolah atau perkumpulan-perkumpulan pemuda atau pelajar untuk menghadirinya. Kami mengalokasikan waktu lima tahun sampai ide ini memasyarakat dan tertanam dalam benak semua komponen masyarakat sehingga semua hal yang berkaitan dengan pendidikan akan dipandang harus mengandung unsur kebahgiaan untuk bisa disebut sebagai pendidikan yang berhasil—tentu saja target ini untuk daerah di sekitar kami, karena di sanalah kami melakukan aktifitas sosialisasi Elepent.

Pada tahap kedua, kami akan mulai menggalang dukungan yang kami dapatkan dalam wadah komunitas atau dengan kegiatan-kegiatan rutin yang bersifat temu akrab atau silaturahim. Masa ini akan kami lewati selama tiga tahun. Dalam phase ini, kami akan membangun kepercayaan dan keyakinan bahwa dengan bergabung dan mendukung Elepent maka kita akan berperan nyata dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.

Setelah ide ini memasyarakat dan kami mendapat banyak dukungan, kami akan mulai bergerak pada tahap gerakan massa. Dalam phase ini, kami akan mengajak orang-orang yang simpati untuk terlibat dan turun serta dalam kegiatan-kegiatan Elepent. Bersama kami, semua yang terlibat dalam kegiatan ini akan saling bahu membahu guna mewujudkan realisasi Elepent sebagai seuah lembaga yang berdiri mapan dan memiliki pusat pengelolaan.

9. Tantangan dan tantangan
Kami sangat bersemangat, kami sangat termotivasi, kami juga sanat optimis, tentu saja. Bukan hanya itu, kami juga sudah punya model inspirator—terimakasih buat Patch dan Gesundheit-nya, juga buat Amir Khan dengan Taare Zamen dan Three Idiots-nya, kami pun sudah tahu apa yang harus dilakukan, bahkan kami juga telah menentapkan dengan jalan apa lembaga ini akan dipertahankan kelangsungan hidupnya. Namun demikian, tetap saja, kami puya masalah.

Terpisah jarak ratusan mil telah membuat komunikasi agak tertunda. Benar kami bisa ber-sms, bertelepon dan ber-facebook, tapi pertemuan di dunia nyata sungguh tidak bisa dibandingkan kualitasnya dari pada pertemuan manipulative dengan teknologi-teknologi tersebut. Kami membutuhan duduk bersama, berdebat tanpa gangguan sinyal, bertukar pikiran tanpa menunggu mengetik, atau bergembira tanpa harus terganggu masalah loading lambat.

Seakan belum cukup, jarak yang jauh itu ditambah lagi dengan kesibukan gila yang menimpa kami. Aku tak tahu apakah kesibukan kami memang sudah layak disebut sebagai kesibukan yang gila, tapi yang pasti, ikatan yang ‘telah menjerat’ kami membuat tindakan di luar menjaid sulit dan butuh waktu yang benar-benar longgar. Itu semua membuat kami lambat.

Mengingat lagi apa yang biasanya terjadi padaku, ketika memiliki semangat untuk menyelesaikan sebuah novel lalu terhambat dan memakan pause yang lama, hal itu malah berlanjut pada kemandegan yang hampir permanen. Kekhawatiran itu kini menghantui Elepent. Aku khawatir, jika situasi ini tidak segera didobrak, maka Elepent akan berakhir sebagai ide belaka. Ia akan, paling jauh, bergerak sampai di wilayah internet, facebook, blog, email, tanpa pernah turun ke dunia nyata. Dan itu adalah kengerian yang luar biasa. Kami selalu membutuhkan dukungan dan motivasi dari siappaun yang perduli dan sepakat dengan ide kami. Kami ingin membangun sebuah keluarga. Di mana orang-orang dengan kesamaan yang luar biasa berdiri saling mendukung dari memberi solusi untuk masalah yang dihadapi. Kami ingin menjadi titik api. Andai kami mandeg—untuk beberapa jenak saja—maka kami berharap dengan sangat ada dari Anda pembaca catatan ini yang tergerak untuk membuat yang seperti Elepent di lingkungan Anda. Kami tidak mengejar ketenaran, sehingga anda harus minta izin jika mau mengadopsi metode kami, tidak, bajaklah kami, tirulah kami, makan sampai habis semua yang Anda dapatkan dari sini. Setidaknya, inilah yang lebih dulu bisa kami berikan pada dunia dan manusia sebelum kami bisa memberikannya dengan sebenarnya. Dan, jika pun semua ini jatuh menjadi kebekuan yang tak jadi apa-apa, setidaknya, ijinkan kami mengkampanyekan ini kemana-mana, dan bergabunglah dengan kami mengobarkan impian ini—impian yang bukan hanya akan menghidupkan jiwa para pemimpinya, tapi juga demikian banyak manusia lainnya.

Kenyataan lain yang seakan segan kami akui, adalah bahwa, bagaimanapun, kami hanyalah sekedar manusia biasa yang sangat tidak luar biasa. Kami penuh dengan kekurangan. Kami penuh dengan kebodohan. Kami tidak tahu begitu banyak. Kami selalu membutuhkan orang lain untuk mengajarkan hal-hal baru yang akan mencerahkan pemikiran kami, jiwa kami, sudut pandang kami. Dan dengan segala yang sedikit-sedikit itulah kami akan berusaha bergerak membuat warna.

Aku sudah menyerahkan segala pikiran tentang menjadi seorang menteri, aku juga tidak berminat menjadi bupati. Dan Amar pun tampaknya tidak akan menjadi seorang bisnisman dengan lima kapal besar di tiap pelabuhan nasional di negara ini. Dia juga tampaknya tak punya peluang menjadi presiden bahkan sampai lima puluh tahun ke depan. Kami penuh dengan kekurangan dan kelemahan. Namun demikian, kami memliki ‘kegilaan’, kami memiliki sesuatu yang menurut keyakinan kami akan membuat banyak manusia bahagia, puas dengna hidupnya dan lebih bermakna keberadaannya. Kami punya pikiran bahwa ada yang hilang di dunia pendidikan kita sementara kami punya sesuatu untuk ditawarkan guna mengisi kehampaan itu. Di sanalah kami hadir, datang dengan tangan terbuka, dan senantiasa akan bahagia dengan simpati Anda.

10. Lompatan-lompatan awal
Kami telah melakukan peyemaian benih Elepent di tempat kami. Kami telah menggila hanya agar para murid tidak menguap di kelasnya. Bahwa aku dan Amar tidak segan untuk tampil ‘tak normal’ untuk siswa-siswi kami. Amar telah mengecat ulang papan tulis hitamnya menjadi hijau hanya untuk membuat siwa-siswinya punya alasan luar biasa buat tersenyum dan betah di kelas. Dia kesampingkan gumaman sinis dari pengajar yang lain yang menganggapnya sekedar anak muda banyak tingkah yang tak berpikir panjang. Aku mengadakan lomba-lomba dengan hadiah dari uang pribadi, memperagakan tarian-tarian konyol agar pantat mereka tak terbakar kelamaan duduk di kursi plastic kerasnya. Dan semua itu belum seberapa, kami akan lebih gila jika itu memang diperlukan. Kami percaya, kebahagiaan yang mereka dapatkan di kelas kami adalah kenangan terindah yang bisa kami banggakan ketika sudah tua nanti, dan insya Allah akan kami petik mutiaranya kelak di dunia sana.

Kuceritakan ini pada Anda bukan untuk pamer, atau mencoba memesona. Tidak. Tapi untuk menunjukkan bahawa kami benar-benar serius dengan proyek ini. Segala rintangan datang. Dari diri sendiri maupun dari keterjebakan kelembagaan yang mengikat kami, atau dari apapun yang belum menampakkan diri, tapi kami bersungguh-sungguh dan berharap ini segera terjadi. Kebahagiaan dalam belajar bukanlah sesuatu yang kurang ajar, juga bukan sesuatu yang mahal. Kebahagiaan itu harus disadari. Harus dimiliki. Harus didatangkan dan diusahakan. Kemudian ia harus digunakan setap hari. Dan jika para siswa belum mengetahuinya, maka kami berniat untuk datang memberitahu mereka.

Dalam tulisan ini, aku telah menyampaikan kepada Anda semua pemikiran kami. Aku telah menunjukkan apa yang menurut kami berguna. Dan kami yakin, sebagian besar dari Anda menyepakati hal ini. Tapi kami masih merasa ada banyak hal yang bisa dibuat lebih baik. Tulisan ini mengundang Anda untuk menunjukkan di mana kekurangan kami, juga mengundang Anda untuk turut bergembira bersama kami, juga mengundang Anda untuk tak segan-segan menyemangati kami. Kami akan sangat senang dan bersemangat demi mendapatkan masukan apa saja dari Anda. Dukungan Anda akan menjadi bagian yang tak terpisah dari lembaga ini.

Kami juga ingin memberitahukan, bahwa jika ada di antara Anda yang ingin memncopy tulisan ini dan menampilkannya di blog pribadi, di note fb, mengirimnya ke Koran, atau melakukan apa saja yang bisa membuat ide ini lebih memasyarakat, sungguh kami akan sangat bahagia. Kami sebenarnya ingin secara langsung untuk meminta Anda melakukannya, tapi kami menahan diri dari godaan tersebut. Sungguh semua pasrtisipasi Anda dalam turut mengkampenyekan Elepent adalah suatu bentuk partisipasi yang sangat berarti dan menyentuh semangat kami dengan luar biasa. Dan jika ada di antara Anda yang melakukannya, mohon kabari kami, Arul Cahdrana dan Amar, agar kami bisa turut merayakan usaha mulya Anda tersebut.

Terakhir, mari kita bersama-sama beharap Elepent segera mewujud dan tak lama lagi bisa berjoget di sekolah-sekolah sekitar kami. Jika kesempatan memang ada, sungguh menyenangkan jika nati kami juga bisa bertertawa di sekolah Anda, atau sekolah putra-putri Anda. Sungguh kebahagiaan yang besar bisa berbagi ini dengan Anda semua. Terimakasih.

Arul Chandrana, 09 Mei 2012

NB: terimakasih untuk sahabat kami Bio Ahmed yang telah membuatkan logo Elepent sehingga benar-benar sesuai dengan yang kuinginkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 26 other followers

%d bloggers like this: