• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

  • temukan di toko buku

    klik untuk menelusur

  • klik untuk mendownload

Hari Ketika Aku Memarahi Tuhan dan Dia ‘Bicara’ Padaku

HHHRRRROOOAAARRRR!!!!!

Aku menghela nafas dalam. Kecewa dan merasa dicurangi. Perjalanan yang cukup jauh telah kutempuh dan dari pembicaraan sekitar 4 jam itu aku tak mendapatkan apa-apa. Aku merasakan kebosanan dengan hidupku saat ini. Merasa lelah dan seakan Tuhan sedang tidak berbuat adil. Oh, bukankah orang berilmu hidupnya akan lebih baik dari yang tidak, tapi apa yang kudapati? Banyak orang tak berijazah di seitarku tapi mereka ke mana-mana tidak naik angkot apalagi jalan kaki, mereka mengendarai sepeda motor bahkan sering ganti.

Aku pulang di siang hari dengan kemasygulan menggelayut di atas kepala dan kekesalan di mata. Berdiri di pinggir jalan sampai angkot datang dan membawaku pergi. Bersama angkot yang terus beranjak menjauh, di belakangku, bangunan besar itu menertawakan nasibku. Kupikir, Tuhan memang suka bermain-main dengan makhluknya. Mungkin dia sedang mentang-mentang. Sambil menutup mata dan merasakan goncangan angkot yang penuh dengan penumpang, aku menjerit dalam hati menyadari betapa Tuhan tidak memberiku apa-apa kecuali sedikit sekali.

Tiba-tiba, kurasakan angkot melambat. Ini masih sangat jauh dari rumahku. Kernet juga tidak berteriak mengingatkan penumpang yang mau turun. Ada apa ini? Aku bertanya dalam hati. Aku pun membuka mata dan mendapati mobil-mobil berjejer di samping angkotku. Macet. Aku mendengus dan mendapatkan tambahan keluhan pada Tuhan. ‘Tidak cukupkah dengan satu kegagalan, ya Tuhan? Kini Kau kirim kemacetan dan kepanasan.’ Pada saat itulah, aku melihatnya, bocah itu.

Dia memiliki rambut hitam yang lebat dan subur. Kepalanya berputar menatap mobil-mobil yang berjejer tak bisa bergerak. Lalu dia melompat-lompat mendekati kaca dan menyorongkan tangannya. Mengemis. Kuamati saja dia mendekati mobil demi mobil dan mengetuk kacanya. Menyunggingkan senyum sambil menadahkan tangan. Tiap kali penumpang mobil memberinya uang, wajahnya berubah cerah dan merona oleh keriangan. Dia melompat-lompat mendatangi mobil-mobil lainnya dan akhirnya sampailah di angkot yang membawaku. Aku merogoh uang receh di saku ranselku bersiap untuk memberi tapi dia hanya melintas sambil menatapku dengan wajahnya yang basah oleh keringat. Dia tersenyum. Puas dan bahagia dengan tangan menggenggam erat recehannya. Dia tidak berhenti untuk meminta dariku, hanya melintas sambil membagikan bahagia dari senyumnya. Dan ketika dia telah melewatiku, barulah aku tahu mengapa dia melompat-lompat sedari tadi, dia hanya memiliki satu kaki. Kakinya yang sebelah hilang sedengkul, terbungkus kain putih yang warnanya mulai kecoklatan. Dia terus melompat sambil berpegangan pada mobil-mobil yang perlahan mulai merayap. Dan tepat sebelum dia melompat menghilang di balik sebuah truk, dia memutar kepalanya sehingga aku bisa melihat senyumnya yang masih menghias dengan sempurna. Aku tercekat.

Ya Allah, dia masihlah seorang bocah, dia meminta-minta di bawah terik matahari, dan dia hanya memiliki satu kaki. Aku merasa kedua lututku bergetar. Aku punya dua kaki…..ya Allah, dua kaki sempurna tempatku berjalan, membawaku ke mana yang kumau. Dunia menjadi milikku. Sungguh betapa besar anugerah-Mu. Aku menelan ludah, bocah itu sudah tak lagi nampak, lirih, aku berujar dalam hati, ya Allah, ampuni hamba saat hamba lalai. Sungguh aku telah Kau beri dua kaki untuk membawaku berjalan kemanapun yang kuinginkan. Sungguh dunia serasa menjadi milikku.

Angkot kembal berjalan. Meninggalkan barisan panjang di belakangnya. Lampu hijau baru saja kembali merah saat angkotku melewatinya. Kernet yang menjulurkan tangannya ke luar lewat kaca pintu yang terbuka berteriak-teriak memanggil calon penumpang. Angkot berhenti dan berlari bergantian. Aku masih terdiam. Kekecewaanku bergelut dengan kesan yang ditinggalkan si bocah pincang barusan. Ada satu gelisah baru. Gelisah yang berbeda. Dan sebelum aku menyadarinya, angkot berhenti tiba-tiba. Tanpa bicara, kernetnya berlari keluar dan terus berlari meninggalkan angkot. Aku melihat sekeliling dan tahu kami sudah sampai di alun-alun. Pantas saja. Kernet itu akan berlarian ke sana kemari mencari penumpang. Pengunjung alun-alun yang mau pulang. Penumpang bus antar kota yang baru turun. Atau pedagang yang habis kulakan. Ini akan memakan waktu yang sangat lama.

Aku memutuskan keluar angkot. Bertahan duduk di sini hanya akan membuatku banjir keringat dan susah bernafas. Sopir mengingatkan agar aku tak pergi jauh atau aku akan ditinggal tapi aku tahu dia hanya menggertak. Tak ada sopir yang mau ditinggal penumpangnya, apalagi meninggalkan.

Alun-alun kota ini memang menyenangkan. Di samping tempatnya yang luas dan hijau oleh pepohonan, bunga-bunga dan tanaman hias, juga karena banyaknya penjual makanan di sekitarnya. benar-benar tempat yang tepat untuk melepaskan kepenatan. Menghibur dan membebaskan diri dari kejenuhan. Aku berjalan perlahan sembari menyaksikan jejeran pedagang kaki lima dan pasangan muda-mudi yang bergerumbun di sana-sini. Seketika pemandangan itu menusukku dengan pisau yang lain lagi. Aku membuang pandang. Menjauhkan diri dan mencari pengalih yang menyenangkan.

“Gorengan gorengan…” suara seorang gadis kecil menyeruak dari sampingku. Membuatku menoleh dan tersenyum. Gadis kecil dengan muka yang manis. Rambut kepang dua dan kepala yang selalu meneleng saat tersenyum. Aku pun mendatanginya dan mengambil gorengan dari nampannya. Aku mulai menanyai namanya juga di mana dia tinggal. Sejak kapan dia jualan dan apakah dia masih sekolah. Dia begitu lincah berbicara. Kata-katanya riang dan tawanya penuh kegembiraan. Aku membatin, betapa bahagia orang tuanya, memiliki putri kecil yang demikian rajin sekaligus demikian tulus mebantu orang tua.

Setelah menyantap empat biji, aku ingin membayarnya. Kutanya berapa harga semua, dua ribu, jawabnya. Kuambil uang lima ribu dan kusorongkan tapi dia hanya diam saja. Wajahnya menatap lurus dan tangannya menyilang di pangkuannya sementara tanganku dan uang lima ribu menggantung di atas nampan jualannya. ‘Dik, ini uangnya,’ aku berkata. Dan, sebagai jawabannya, dia tersenyum geli, katanya, ‘kak, maaf, aku buta. Aku gak tahu di mana uang kakak dan berapa jumlahnya.’

Dia tersenyum, wajahnya ceria. Dia tertawa bahkan saat dia berkata dia buta. ‘kakak gak sadar, ya? Hehehehe.’ Aku ingin bicara tapi lidahku gugu. Sementara tanganku seakan membeku di sana. Dia begitu kecil, begitu lugu, berjualan karena tahu orang tuanya butuh tambahan penghasilan, dan dia buta, tapi semua yang dia bicarakan hanyalah kebahagiaan atas kehidupan yang dia jalankan. ‘uangnya berapa kak? Kata emak, gak boleh mengambil uang kembalian pembeli. Entar kakak ambil sendiri ya kembaliannya.’ Gadis buta itu melanjutkan sambil membuka wadah kecil yang sedari tadi dia tutupi dengan kedua telapak tangannya di atas pangkuannya. Di dalamnya berisi uang hasil penjualannya seharian. Aku tersedu. Ada yang panas di mataku. Gadis kecil yang tak bisa melihatku itu memanggilku sekali lagi mengira aku telah pergi. Sambil berusaha menahan sedu, aku menjawabnya dan berkata jika uangku pas dua ribu. Sambil mengucapkan terimakasih, aku masukkan uang lima ribu itu ke dompetnya.

Ketika aku berdiri, dia berkata, ‘kak terimakasih ya, senang bisa ngomong-ngomong dengan kakak. Terimaksih juga telah memberi uang pas, emak kurang suka kalau ada orang yang ngasi uang lebih karena kasihan. Makasih ya, kak.’

Di angkot, aku tercenung. Pepohonan berlarian dengan kecepatan yang tak bisa kutangkap dengan mataku yang menerawang. Ya Allah, dia masihlah seorang bocah, dia harus bekerja jualan gorengan begitu sekolahnya usai. Duduk menunggui jualan dan memanggil saban kali merasa ada orang yang jalan. Dia tak melihat apa-apa kecuali hitam semenjak usia empat tahun tapi hanya kebahagiaan yang dia rasakan. Mataku panas. Ada sesuatu mengambang di sana. Aku punya mata untuk melihat dunia…ya Allah, Kau beri aku penglihatan untuk melihat apapun yang indah dan menarik hatiku. Dunia seakan menjadi milikku. Sungguh, betapa besar anugerah-Mu. Aku mengusap basah di mataku dengan pungung tangan, lirih, aku berujar dalam hati, ya Allah, ampuni hamba saat hamba lalai. Sungguh aku telah Kau beri mata untuk melihat warna dan keindahan. Sungguh dunia serasa menjadi milikku.

Tiba-tiba, suara ledakan keras menghancurkan lamunanku. Sopir memaki. Kernet berteriak. Penumpang menjerit panik. Kurasakan angkot oleng dan rem mendecit. Orang-orang memekikkan nama Allah dan para perempuan menangis. Aku menggenggam pinggir jendela dengan erat berusaha tidak tersorong jatuh ke depan. Mobil telah berhenti tapi ketakutan masih menghantui kami.

Ban mbledos!’ ban pecah, umpat si kernet. Dia dan sopir segera mencopot ban yang pecah tersebut sementara kami para penumpang berkerumun di luar, beberapa orang yang ketakutan memaksa untuk membayar dan pergi dengan angkot yang lain. Sia-sia kernet meyakinkan mereka bahwa masalah itu cukup diatasi dengan ganti ban. Mereka terlalu takut untuk mau mengikuti angkot yang sama walau dengan ban berbeda.

Jantungku masih berlompatan sewaktu aku pergi menjauh dari kerumunan tersebut. Untunglah di dekat situ ada lapangan dan bocah-bocah sedang ramai main sepak bola. Beberapa saat sebelumnya permainan mereka terhenti oleh ledakan ban angkot. Setelah rasa penasaran mereka selesai, mereka kembali melanjutkan permainan. Ingin menghibur diri, aku memutuskan untuk menonton permainan para pesepak bola tanpa sepatu itu. Teriakan-teriakan mereka penuh gairah dan semangat. Tapi kemudian segera kusadari jika ada seorang bocah yang duduk menyendiri di bawah pohon mengkudu tua di pinggir lapangan. Dia asik menyaksikan kawan-kawannya bermain bola sambil menyimpan besarnya hasrat dalam dirinya untuk turut serta. Penasaran ada apa sebenarnya dengan bocah tersebut, aku memutuskan untuk bicara dengannya. Kudekati dia dan kusapa, ‘dik, kok gak ikut main?’

Tatapannya tidak pindah. Tetap terpaku pada kawan-kawannya. Kuulangi lagi pertanyaanku dan dia tetap diam saja. Kuulangi lagi dengan suara lebih keras tapi hasilnya sama saja. Bocah itu malah bersorak-sorak sendiri saat salah satu tim berhasil membobol gawang lawan. Ketika itulah dia melihatku yang berdiri di belakangnya. Dia menatapku sekilas dan segera kembali larut dalam keasikannya menonton bola. Aku memanggilnya sekali lagi. Hasilnya nihil. Dan barulah pada saat itu aku tahu jika dia tuli. Dia tak mendengar satupun dari sapaanku.

Aku terhenyak… tercenung… berhenti dan menyadari segalanya. Kuamati diriku, dua kakiku yang siap membawaku ke manapun aku ingin pergi. Kaki yang membawaku berlari. Kaki yang membantuku mengunjungi keluarga di tempat jauh, kaki yang membawaku mengikuti teman-temanku untuk berwisata, kaki yang mengantarku ke masjid untuk menunaikan sholat, kaki yang tanpa penolakan mengantarkanku ke tempat-tempat indah yang kumau. Ya Allah, ampuni hamba ketika hamba lalai. Sungguh dunia telah Kau sajikan seakan ia milikku.

Kau anugerahi hamba mata yang membantuku memilih baju yang cocok, menyaksikan film yang kusuka, menatap wajah ibu tercinta, yang mengobati kerinduan pada saudara-saudara, mata yang menyajikan warna-warna dunia dan segala keindahannya, mata yang menunjukkan bahwa kadang langit dan lautan memiliki warna serupa, mata yang membuatku tahu bahwa malam itu indah karena bintang dan bulan, mata yang mengantarkanku pada demikian banyak keindahan. Ya Allah, aduhai, ampuni hamba jika hamba lalai. Sungguh dunia telah Kau sajikan seakan ia milikku.

Kau beri aku telinga yang sempurna. Membuatku mendengar segala suara. Mendengar bagaimana kicau burung ketika matahari menyingsing, mendengar gemericik air sungai membentur batu yang bermunculan di sepanjang aliran, mendengar gemuruh air terjun dari kejauhan, mendengar desau hujan di genting yang keras, mendengar suara ibu saat membangunkanku dari tidur di pagi buta, mendengarkan guru-guruku sehingga aku tahu banyak hal, mendengar segala hal yang berbunyi di dunia ini sehingga aku tahu dunia sama sekali bukan petak tanah yang sepi. Ya Allah, ampuni hamba ketika hamba lalai. Sungguh dunia telah Kau sajikan seakan ia milikku.

Dengan jumlah penumpang yang berkurang, angkot yang membawaku pulang kembali berjalan. Sopir itu masih ngebut di jalan yang ramai. Kernet itu masih berteriak-teriak pada setiap pejalan kaki. Para penumpang masih riuh dengan sesamanya. Dan aku, tersenyum dengan segala kebahagiaan yang tidak mungikin bisa kuperoleh dari pekerjaan manapun yang bisa kudapatkan. Hari ini aku baru saja marah pada-Nya, tapi segera dia ‘bicara’ padaku. Menjelaskan segalanya dengan demikian lugas melalui bocah-bocah lugu tak berdosa. Ya Allah, ampuni hamba ketika hamba lalai.

NB. Ini terinspirasi oleh lagu “Forgive Me When I Whine” oleh Zain Bikha. Terimaksih untuk David yang telah mengajariku Wing Chun beberapa menit sebelum dia memberiku lagu ini.

About these ads

13 Responses

  1. subhannalah sekali dengan kisahnya yang dialami oleh seseorang yang cacat tetapi masih bisa bersyukur di setiap keadaan dan mau berusaha

  2. Allah selalu menunjukkan kuasaNya dengan banyak cara. Dan hanya orang2 yang berhidayah yang mampu melihatnya.
    Salam kenal mas…

  3. satu kata untuk tulisan Mas Arul… ” Subhanallah”
    ruang merenung yang baik dan sukses membuatku merasa lalai

  4. benar2 cerita yang menyentuh.
    blog q nggak pernah berisi beginian.
    pantesan aq nggak nyadar2, nggak pernah bersyukur..

    makasih sudah mengingat kan om..

  5. terima kasih ilmunya. Jazakumullah. sebuah pelajaran yang indah

  6. Subhanallah..Nikmat Tuhan Mana lagi yg akn engkau dustakan..

  7. hekhekhekhek… mari berbagi.. semakin jarang ngeblog ini saia.. kebanyakan ngelamun ditengah jalan raya antara jawa dan kalimantan..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 26 other followers

%d bloggers like this: