• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

  • buku terbit

    klik untuk menelusur

  • klik untuk menelusur

TEMPAT BERTEMUNYA BINATANG LAUT DALAM DENGAN ASAM PEGUNUNGAN

“monggo monggo, tumbas nopo, Mas?”
terjemahnya adalah: what would you like to buy, Mister?

Jauh sebelum pasar-pasar modern yang mengkilat, harum, bersih dan bertingkat dibangun di negeri ini, orang tua dan leluhur kita telah membangun pasarnya sendiri. Pasar-pasar itu telah menjadi tulang punggung  dan kekuatan perekonomian masyarakat, sekaligus telah menjadi pemandangan paling Indonesia dari segala macam jenis pasar yang kini banyak di bangun orang. Sebelum Carrefour, Ramayana, Matahari atau milyuner Djoko Susanto dengan Alfamartnya, masyarakat kita sudah sangat akrab dengan pasar dan segala jenisnya. Ada pasar yang beroperasi berdasarkan keseragaman barang yang dijual, seperti pasar sayur dan buah, pasar kambing, pasar sapi, pasar buku bekas. Ada juga pasar yang menjual segala macam barang, ini merupakan jenis pasar yang paling banyak terdapat di negara kita. Selain jenis, ukuran masing-masing pasar pun berbeda. Ada yang besar, biasanya terletak di kota besar dan melayani pembeli tingkat dari berbagai kota sebagai pusat kulakan. Ada yang berukuran sedang—bisa kau temukan di tingkat kabupaten atau kecamatan. Atau pasar desa, yaitu pasar kecil yang kemampuannya hanya untuk mencukupi keperluan masyarakat desa. Pada faktanya, bahkan ada pasar yang jauh lebih kecil lagi dari pada pasar desa, pasar ini tidak cukup untuk melayani kebutuhan tingkat desa, tapi cukup tingkat RT atau RW. Pasar semacam ini maksimal bisa ‘menghidupi’ tiga atau empat RT. Di tempatku, pasar seperti ini disebut dengan: pasar kriyek, atau dalam istilah kerennya: minimarket, hahaha. Tapi tentu saja jauh berbeda penampilannya antara pasar kriyek yang bersifat lokal dan tradisional dibandingkan dengan minimarket yang modern dan berkonsep swalayan.

Bermain ke pasar kriyek seperti berjalan menyusuri alam liar dengan segala kekayaan alamnya tersaji serampangan di depan mata. Dan, semua hal mustahil di alam bebas bisa terjadi di sana senormal terjadinya pasang surut air laut. Hal itu menjadi perwujudan dari pepatah lama yang kini mulai jarang dibaca: asam di gunung, garam di laut, mereka pun bertemu di pasar. Ya, hanya di pasar tradisional kita bisa menemukan segala isi laut bisa bergumul dengan isi daratan.

Salah satu buktinya adalah latoh, sejenis rumput laut berwarna hijau tua cerah dengan rasa gurih renyah yang lezat dijadikan lalapan. Di pasar kriyek, latoh yang tumbuh di laut bisa berkumpul dengan daun pisang yang tumbuh di kebun di tangan nenek tua penjual latoh dan kerang berbungkus daun pisang—dalam bungkus daun pisnag tersebut, untuk pertama kalinya si kerang laut bergumul dengan cabe dan bawang, sekaligus itu menjadi pengalaman terakhirnya. Singkong yang sejak masih berupa batangan berkubang di dalam tanah, pada suatu pagi ia dicerabut oleh penanamnya dan dicemplungkan ke dalam air jerangan. Dia mendidih di sana. Sampai matang. Dan, seperti halnya si latoh dengan daun pisang, semua peristiwa yang dialami singkong kali ini adalah pengalaman pertama baginya. Singkong yang keras dan mentah berubah matang, empuk dan bisa dimakan. Kemduian nasib si singkong kembali mengalami loncatan perubahan: dia pun bertemu lesung besi. Si mbah tua menumbuknya sampai lembut dan berubah seperti adonan. Pada saat itulah, kembali terjadi pertemuan luar biasa langka, yaitu berjumpanya umbi yang tersembunyi dalam tanah dengan gula jawa yang menetes di puncak pohon aren tua. Setelah wanita tua itu membentuk hasil tumbukan singkongnya di nampan, orang-orang tidak lagi menyebutnya singkong ata gula singkong, tapi kelahiran telah datang dengan nama baru: gethuk. Jika kau semakin dalam menyusuri pasar kriyek, mengamati tiap-tiap bakul yang berjejer berdesakan di kiri kanan jalan, kau akan menyadari betapa sebenarnya alam, laut dan daratan, bertemu tidak di mana-mana, tapi di pasar kriyek sederhana pada sebuah gang panjang sebuah desa tua.

Jajanan tradisional tentu saja dominan, tapi bukan mustahil jika kau menemukan rombong ‘ayam kentucky’ di dekat penjual balon. Atau mendapati penjual mentega di samping penjual telur puyuh, ikan hias dan kacang rebus. Maka bersiaplah, memasuki pasar yang seperti itu tak ubahnya dengan menyusuri rimba raya kuliner tanpa batas dunia, tanpa batas benua.

Ikan pun banyak dijejer dengan alas plastik atau karung berwarna pudar. Ikan lele bersanding dengan ikan tongkol. Gorengan bandeng berjejer dengan panggang pari. Pepes telur manyung berkumpul dengan gorengan jeroan ayam. Sementara di sebelahnya, dua penjual berbeda masing-masing sibuk mencincang tubuh ayam dan sebagian kaki kambing. Aku percaya, tanpa adanya pasar kriyek seperti ini, makhluk-makhluk luar biasa tersebut tidak akan pernah bisa bersanding bersama. Walau sayangnya, pertemuan itu tidak pernah memberi mereka kesempatan untuk berkenalan. Mereka membisu. Tak bernafas. Dengan pisau yang menggilas saban kali seorang penawar berhasil mengalahkan harga dari penjual.

Bicara soal tawar-menawar, inilah serunya pasar tradisional. Pembeli yang datang tidak hanya ditantang untuk bisa menemukan dan mendapatkan barang yang dia butuhkan, tapi juga untuk melakukan pertarungan dan pemenangan perang tawar menawar barang. Kalau kau suatu ketika mengunjungi pasar kriyek, pasanglah telinga dan berjalanlah yang pelan, memang orang akan berdesakan, tapi kesulitan itu akan terbayar dengan free audio bantah-bantahan antara pembeli dan penjual. Kau akan tertawa mendengar si ibu bergincu tebal ngotot mengatakan bahwa harga tujuh ribu untuk setandan pisang jualannya adalah harga sangat murah yang mana hanya dia yang bisa memberikan, sementara si pembeli, seorang paruh baya dengan kain melilit kepalanya, menuding sembari mencibir bahwa lima ribu saja sudah kemahalan, “seperti ini pantasnya tiga ribu rupiah!”

Aksi tawar menawar selalu seru dan menegangkan—walau perlu kutakan bahwa tak semuanya demikian, ada penjual-penjual yang senantiasa dengan mudah menurunkan harga barangnya atau menjual dengan harga yang sudah disepakati oleh umum sehingga tak layak untuk ditawar. Tapi sebuah kondisi selalu terjadi, penjual yang berharap mendapatkan keuntungan maksimal berbenturan dengan impian dan harapan pembeli untuk mendapatkan harga barang sampai ke dasar titik minimal. Ketegangan memang sering terjadi, tapi tidak ada keributan. Muka cemberut memang sering dilempar, tapi tak sampai ada tangan menampar, ledekan memang bukan hal yang aneh diperdengarkan, tapi ancaman tidak pernah dilayangkan. Tidak bisa kubayangkan, bagaimana jadinya pasar kriyek jika setiap penawaran gagal oleh pembeli akan disikapi dengan, “awas ya! Tak pasang paku di sandalmu!”

Para pengguna pasar kriyek bukanlah kanibal yang bersedia saling lindas demi keuntungan pribadi, mereka hanyalah orang-orang sederhana yang terlanjur sering susah sampai meresapi sudut pandang bahwa selalu dibutuhkan kesusahan untuk mendapatkan kesenangan. Kau butuh barang? Berpayah-payahlah dulu menawarnya. Aku senang karena para pria ditakdirkan menjadi golongan orang yang jarang menawar, atau setidaknya, jarang melakukan perang tawar menawar, sebab, hanya para prialah yang berbelanja arit, pisau, palu, parang, gergaji dan pecok di pasar. Sungguh, yang kusebutkan barusan adalah benda-benda yang terkategori mengandung unsur ‘kejahtan dan membahayakan’.

Jika diperbandingkan, antara pasar kriyek dengan minimarket, memang perbedaanlah yang paling tampak menonjol. Pasar kriyek berdiri dengan terbuka atau sekedar atap dari terpal berlobang, sementara minimarket berdiri dengan atap permanen penangkal hujan pengusir panas. Pasar kriyek berbau ‘apa saja bau yang bisa diproduksi barang dan manusia’, sementara minimarket hanya menghasilkan satu bau saja: harum parfum ruangan. Penjual dan pengunjung pasar kriyek mengibaskan kain karena kegerahan, pengunjung minimarket menguap karena sejuknya ruangan. Pengunjung pasar kriyek harus berkelana dalam dempetan untuk menemukan barang kebutuhannya, pengunjung minimarket cukup datang ke seksi yang menyediakan produk incarannya. Di pasar kriyek pembeli bertarung dalam tawar menawar di muka umum, pembeli di minimarket sama sekali tak berpikir tentang menawar barang. Dan, mungkin ini perbedaan yang paling lucu antara pasar kriyek dengan minimarket: di pasar kriyek kau harus membayar pada orang-orang yang berbeda sesuai keragaman belanja, di minimarket, meskipun kau membeli seribu satu macam barang, kau tetap harus membayar pada orang yang itu-itu saja, hahaha, membosankan.

Memang di pasar kriyek kau akan bergelut dengan bau dan harus berdesakan, tapi apa susahnya itu? Apa masalahnya itu? Yang sebenarnya terjadi terjadi adalah kau sedang melakukan perburuan harta karun bersama demikian banyak pesaing kocak yang suka berbicara nyaring dan ketawa lepas. Itu saja sudah dua hal yang mustahil kau lakukan dan temukan di minimarket manapun di kota kecamatanmu. Di pasar kriyek kau akan berkeliling dan berjinjit menjulurkan kepala, mengintip melalui pundak pembeli yang membungkuk untuk melihat isi bakul seorang pedagang, berbeda dengan di minimarket di mana kau tinggal jalan menyamping dengan pandangan terpaku pada rak pemajang barang, tapi apa susahnya itu? Yang kau lakukan di pasar kriyek adalah sebuah pengalaman unik yang hanya bisa dilakukan jerapah di taman liar Afrika, yang menjulurkan kepalanya untuk makan pupus akasia. Aku tidak bermaksud mengatakan bahwa pengunjung pasar kriyek pasti akan berubah menjadi jerapah kelaparan, tidak demikian, tapi ingin menunjukkan padamu betapa menyenangkannya aksi menjulurkan kepala itu! Sungguh pencarian yang seru. Pasar kriyek  membuatmu harus beringsut sambil mendengar si pembeli menawar ikan seperti pengacara berperut tambun berteriak di depan hakim, atau sebaliknya. Semua yang kau dapati di pasar kriyek, semua yang kau saksikan di pasar kriyek, adalah pentas seni kehidupan yang tidak bisa kau dapatkan dari gerombolan orang-orang yang mengejar layanan instan dan lupa akan indahnya hidup dalam petualangan. Semua yang kau temukan di sana, di antara orang-orang desa itu, di antara para pembeli yang bertetangga dengan si penjual, di antara pemilik bakul kolak kacang ijo yang berencana menikahkan anaknya dengan penjual pindang ikan layang, adalah film sebenarnya dari suatu masyarakat yang hidup dengan damai namun keras dalam menjalani kehidupan. Itu siklus yang sudah terjadi sejak pertama kali manusia Nusantara menyadari pentingya pasar sebagai roda kesejahteraan masyarakat. Siklus yang sudah ratusan tahun usianya dan menolak untuk musnah.

Tulisan ini diikutkan lomba blog Paling Indonesia yang diselenggarakan oleh komunitas blogger Anging Mammiri bekerja sama dengan Telkomsel Area Sulampapua (Sulawesi – Maluku – Papua)

About these ads

2 Responses

  1. semangaaaat. Saya jarang ke pasar tradisional. soalnya ga tau harga pasar itu berapa. Biasanya beli di supermarket aja. Masaknya juga cuma buat berdua,malah lebih irit. ahahahaha #minta digeplak

    • wahahahaha, mbak windi teguh, emang belanja di supermarket lebih mudah ketimbang di pasar kriyek. tapi tentu saja belanja di pasar tradisional semacam itu bukan berarti hal sepele. dari pada jauh-jauh berpetualang ke gunung pangrango, mending ke pasar kriyek, hahahah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 26 other followers

%d bloggers like this: