HANYA sementara tetes air merambat di kesat kulitnya. Lalu berhenti di lekukan tak rata, dan jatuh, memercik di cekung tanah sejak lama. Ranting selalu tenang, dan tabah jika angin membantingnya sampai terpilin. Hanya mengangguk, menerima pungguk yg meninggalkan kantuk. Ranting mungkin kedinginan, atau melengkung karena beban yg mengungkung, tp ia tak berniat mengamuk, karena bulan dn embun selalu ada untk membuatnya merasa anggun.
Filed under: sastra



