Friday, November 06, 2009. Kismisherfahd High Land
Seorang professor muda pakar karnivora Era Carnivortressian, prof. Arul Chandrana, menemukan fosil binatang purba dalam sebuah penggalian arkeologi di dataran tinggi Kismisherfahd, sebelah utara Kerbuto. Penemuan tersebut diklaim sebagai penemuan purba terpenting abad ini.
Dalam penggalian tersebut, ditemukan dua fosil binatang purba yang kemungkinan besar adalah seekor
Paritocipterix—karnivora laut berbentuk mirip ikan pari modern, dan yang satunya lagi adalah seekor Grantocipterix—karnivora laut yang memiliki tanduk di kepalanya.
“Penemuan dua fosil dari era carnivortressian ini adalah penemuan terbaik dan terpenting dalam kurun satu decade ini setelah penemuan blackberry beberapa bulan yang lalu.” Kata prof. Arul di sela-sela acara makan siang pesta pernikahan tetangganya.
Penemuan dua fosil ini akan menjelaskan pada kita mengenai keterkaitan antara mahluk purba dengan alien dan sinyal radio x yang sering tertangkap oleh satelit militer milik sebuah perusahaan pengemasan kacang tanah di Amerika Selatan. Selama ini banyak pakar luar angkasa yang dibingungkan dengan kemungkinan adanya jaringan komunikasi purba yang masih berlanjut hingga sekarang di kalangan makhluk kelas dua (para binatang). Kecurigaan ini didasarkan pada kebiasaan beberapa spesies binatang membuat suara-suara aneh setiap menjelang bencana datang.
“Kita sudah lama tidak memiliki petunjuk tentang kehidupan asing yang melingkupi kita. Kehidupan yang lebih cerdas dan mungkin berbahaya. Penemuan professor Arul ini akan membantu kita untuk memiliki pengetahuan yang lebih konkret mengenai kehawatiran kita itu.” Kata dr. Mortaloon—burung beo cerdas peliharaan prof. David July, rekan professor Arul dalam bisnis pembuatan sabun cuci.
Sejauh ini, orang-orang merujuk pada hasil penemuan Bio Ahmed Ph.D jika ingin membicarakan mahluk-mahluk Era Carnivortressian. Tapi, semenjak terbongkar skandal Golromspur, kredibilitas Bio Ahmed Ph.D dipertanyakan (skandal Golromspur terkait penemuan fosil binatang langka di padang rumput Golromspur yang diklaim sebagai Cowrobirestrian, herbivore yang mendominasi padang rumput era carnivortressian dan diduga sebagai nenek moyang kelinci. Di kemudian hari, terbongkar jika fosil itu adalah boneka Barbie yang dipermak).
“Bagi saya, menemukan Paritocipterix dan Grantocipterix adalah penemuan dari sebuah awal yang panjang,” lanjut prof. Arul, “pentingnya nilai penemuan saya ini sama halnya dengan pentingnya penemuan kulkas bagi industri es krim dewasa ini.”
Ke dua fosil langka tersebut akan diserahkan kepada Chef. Mu Gin Tao untuk dimasak dan dihidangkan bagi raja Kartografallop sebagai hadiah ulang tahunnya yang ke 123. Tapi para ilmuwandari dari beberapa laboratorium terkenal di Amerika dan Eropa merampas fosil tersebut untuk dijadikan campuran shampoo varian baru.
Untuk penemuan spektakulernya ini, prof. Arul mendapat hadiah senilai $200.000 dari dinas kebersihan pemerintah Uganda. Dengan uang sebesar itu, prof. Arul bahkan bisa membeli pulau di Uganda.
“saya tidak akan membeli pulau,” terang professor muda itu waktu ditanya mau apa dengan uang sebanyak itu. “saya akan menyerahkan seratus ribu dolar untuk perbaikan sekolah di desa-desa terpencil di planet mars dan sisanya, akan kugunakan untuk menikah dengan gadis pujaan saya, dia yang dengan setia menanti.”
Ke depan, pencarian serupa akan ditingkatkan seiring dengan meningkatnya kebutuhan obat penghapus nyawa yang banyak dicari oleh orang-orang frustasi di jaman ini. Binatang purba dari era carnivortressian memiliki kadar racun sangat tinggi yang mana satu tetesnya bisa membunuh delapan ekor gajah sekaligus—dengan syarat, gajah-gajah itu ditembaki dengan senapan otomatis selama sepuluh menit terlebih dahulu.
Filed under: catatan estafet nebula, think about!
ha ha ha, ini gila! atau mungkin kreatif?
ha..ha..ha..itu kan binatang yang minyaknya bisa buat obat perbesar alat vital…he..he..he