Sit with my brother again

sit with broSetelah begitu lama, semalam aku berkesempatan lagi untuk duduk bersama kakakku. Di bawah hamparan langit gelap—hanya ada bulan sabit kecil di barat dan bintang-bintang yang gemerlap, kami berbincang tentang banyak hal. Dalam tiap kesempatan seperti ini, aku selalu merasa betapa dia jauh lebih hebat dariku. Mungkin memang dia bukanlah orang yang tahu segala, tapi dia hampir dapat memahami segalanya. Sesuatu yang tak kumiliki meski sekeras apapun aku berusaha memiliki anugerah itu.
Kami berbincang tentang kesulitan hidup yang mengikat kaki-kaki kami. Dan tahu apa yang dia katakana? Dengan kesulitan hidup itulah, hidup baru terasa hidup. Bagaimana bisa orang menyadari dirinya hidup jika dia tidak memiliki sesuatu untuk dipikirkan, dihadapi, diperjuangkan dan diselesaikan? Sejenak aku merasakan sesuatu dalam benakku. Aku berpikir, aku pastilah orang yang sangat hidup dengan pertimbangan banyaknya masalah yang kumiliki. Lucu. Tapi aku tahu ada orang yang jauh lebih hidup ketimbang diriku. Aku belum seberapa.
Salah satu hal yang kami identifikasi sebagai masalah adalah tentang asal kami. Kami punya masalah geneanologis dan demografis. Secara keturunan, kami bukan siapa-siapa. Bukan anak kyai atau ulama’ besar. Bukan anak orang kaya atau ningrat. Kami adalah orang biasa, orang mayoritas di dunia ini. Kenapa jadi masalah? Karena kebanyakan manusia sangat mempermasalahkan geneanologis ini. Keturunan menjadi hal yang sangat berpengaruh dan menjengkelkan pada suatu saat. Jika ada anak kyai besar yang bertingkah nyeleneh, orang akan menganggapnya wajar bahkan kadang dianggap sebagai kelebihan, kehebatan, eksentrik. Tapi, jika kau orang tak berpangkat, berulah yang aneh di tengah masyarakat, kau akan dicap gila atau—setidaknya—kurang ajar. Tapi apa kata kakakku tentang itu? Katanya, dengan demikian Allah memberi kita tantangan unuk berubah! Itu kesempatan yang jarang. Kau akan menjadi orang yang luar biasa dengan menjadi orang terhormat padahal awalnya kau melarat! Itu jauh lebih bermartabat dari pada derajat yang didapat karena kau anak orang hebat. Dengan begitu, aku tahu jika aku tidak ada bedanya dengan manusia manapun di dunia ini. Semua orang berjuang. Bekerja keras. Bahkan para anak orangkaya itupun harus bekerja keras menjaga kekayaannya jika ingin tetap di atas. Dengan demikian, hilanglah semua prasangkaku pada orang kaya. Kita sama. Semua berjuang. Tidak perlu iri pada entah siapa.
Masalah ke dua, ini dalah masalahku pribadi, masalah demografis. Aku besar di bawean. Sebuah pulau kecil di tengah laut luas antara pulau jawa dan Kalimantan. Di bawean, bukan hal mudah untuk bisa sukses. Tidak ada sumber pendapatan meyakinkan di sana. Mayoritas orang kaya di bawean memiliki pekerjaan yang berhubungan dengan dunia luar, merantau, berdagang, kerja kapal, dan sejenisnya. Ini menuntut suatu usaha besar untuk bisa melepaskan diri dari jerat demografis ini. Dan tahu apa yang dikatakan kakakku? Kau sudah terbebas, sudah sejak lama bahkan. Kau juga adalah orang jawa, punya keluarga di jawa, maka itulah solusi untuk masalah demografismu. Kau telah keluar dan sekarang kau tengah mengerjakan sesuatu untu mengubah hidup warisanmu—yaitu hidup sebagai orang bawah.
Aku diam dan berpikir. Di langit, sebuah cahaya kelap-kelip melintas cepat. Sebuah pesawat terbang yang melintas malam. Pesawat itu, ribuan meter di atas permukaan bumi, kapan saja bisa jatuh berdentum menghantam bumi. Tapi pilot, co-pilot, dan awak serta penumpang lainnya memilih untuk meneruskan penerbangan dan baru akan turun nanti setelah sampai tujuan. Dengan selamat. Itu adalah pilihan mereka. Mereka tentunya punya masalah yang sangat banyak. Mereka bermasalah dengan gravitasi, bahan bakar yang terus berkurang, cuaca yang bisa berubah, radar pemandu yang bisa rusak, semuanya, tapi mereka memilih untuk bertahan dan terus berjuang. Dengan keyakinan yang sama, akupun menentukan hidupku. Berjuang.
Malam itu, setelah begitu lama tidak duduk bersama, aku berbincang banyak dengan saudaraku di bawah langit gelap di suatu malam yang indah. Bulan sabit di barat sana semakin condong ke ufuk. Sebentar lagi dia pergi. Tapi kami lebih dulu meninggalkan tempat itu sebelum kegelapan yang sesungguhnya membungkus malam. Dalam keremangan, aku menoleh melihat siluet tempat kami berbincang barusan. Tempat yang penuh makna. Terimakasih.

Friday, October 23, 2009

Leave a Reply